XRP Lagi Panas di Asia, Indonesia Ternyata Sudah Masuk Jalur Ripple

Aktivitas perdagangan XRP kembali memanas di Asia setelah aset kripto tersebut mencatat lonjakan volume di sejumlah bursa besar, termasuk Upbit dan Bithumb di Korea Selatan. Momentum itu muncul beriringan dengan ekspansi Ripple di kawasan Asia-Pasifik yang semakin dalam dan ternyata juga telah menjangkau Indonesia.

Pada Agustus 2026, volume perdagangan spot XRP mencapai level tertingginya sejak Februari. Data yang dibagikan analis Arab Chain di CryptoQuant menunjukkan Binance memimpin dengan volume sekitar US$7,28 miliar, sementara Upbit mencatat US$4,68 miliar dan Bithumb sekitar US$2,59 miliar.

XRP spot trading 6 sep

Antusiasme dari Korea bahkan semakin terlihat pada awal September. XRP sempat mengungguli Bitcoin berdasarkan volume perdagangan di Upbit dan Bithumb, dua platform aset kripto terbesar di negeri Ginseng.

Harga XRP ikut bergerak naik. Pada Kamis (3/9/2026), aset kripto itu ditutup di sekitar US$1,45, naik sekitar 7,5 persen dalam sehari, sebelum terkoreksi ke sekitar US$1,39 sehari kemudian. Pergerakan tersebut memperlihatkan peningkatan aktivitas pasar, meski lonjakan volume tidak dengan sendirinya menjamin kelanjutan reli harga.

Ripple Kian Dalam Masuk ke Korea Selatan

Ledakan aktivitas XRP di Korea muncul ketika Ripple juga semakin agresif membangun jejak institusional di negara tersebut.

Pada 18 Agustus 2026, Ripple mengumumkan kemitraan dengan Jeonbuk Bank, menjadikannya bank regional pertama di Korea Selatan yang menerapkan Ripple Payments untuk remitansi lintas batas.

BACA JUGA:  Ada yang Berubah dari Harga Bitcoin, Penghalang Sejak ATH Ini Akhirnya Tumbang

Menurut Ripple, teknologi tersebut memungkinkan settlement dalam hitungan detik hingga menit dan dapat beroperasi selama 24 jam sehari, dibandingkan proses transfer tradisional yang bisa membutuhkan waktu beberapa hari. Layanan itu antara lain ditujukan bagi perusahaan ekspor-impor, startup teknologi dan kreator digital.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Namun, Ripple tidak menyatakan bahwa transaksi Jeonbuk Bank menggunakan XRP. Ripple Payments merupakan infrastruktur pembayaran yang dapat menggunakan berbagai mekanisme penyelesaian, sehingga penggunaan produk tersebut tidak dapat otomatis disamakan dengan penggunaan XRP.

Ekspansi Ripple di Korea juga mencakup sektor kustodian. Pada April 2026, perusahaan menggandeng Kbank untuk menerapkan infrastruktur dompet aset digital institusional melalui Ripple Custody. Kbank disebut Ripple sebagai bank yang memiliki hubungan kuat dengan industri aset digital Korea dan menjadi mitra perbankan sejumlah exchange besar.

Di luar itu, SBI Ripple Asia dan perusahaan blockchain Korea DSRV Labs pada Februari lalu memulai studi bersama mengenai penggunaan blockchain untuk remitansi dan pembayaran antara Jepang dan Korea. Dalam kajian tersebut, XRP Ledger (XRPL) menjadi salah satu infrastruktur blockchain yang dipertimbangkan.

Indonesia Sudah Masuk Jalur Remitansi Berbasis XRP

Jejak Ripple di Asia ternyata tidak berhenti di Korea dan Jepang. Indonesia sudah menjadi bagian dari koridor remitansi berbasis XRP sejak tiga tahun lalu.

BACA JUGA:  Kripto Hari Ini 12 Agustus 2026: CRV, XLM, ZEC, MNT dan LIT di Titik Krusial, Reli Besar di Depan Mata?

Pada 6 September 2023, SBI Remit, SBI VC Trade dan SBI Ripple Asia mengumumkan perluasan layanan remitansi internasional menggunakan XRP menuju rekening bank di Indonesia, Filipina dan Vietnam.

Dalam mekanisme tersebut, SBI VC Trade mengirimkan XRP secara real-time sebagai aset perantara, sementara Tranglo menangani proses pembayaran kepada rekening penerima di negara tujuan.

Menurut pengumuman resmi SBI Holdings, penggunaan XRP dirancang untuk menekan kebutuhan pre-funding di rekening bank negara tujuan sekaligus mengurangi biaya transfer internasional. Koneksi Ripple dengan infrastruktur pembayaran Indonesia kini bahkan semakin luas.

Dokumentasi Ripple Payments Direct terbaru mencantumkan Indonesia sebagai salah satu negara tujuan pembayaran di kawasan Asia-Pasifik. Untuk Rupiah, sistem tersebut mendukung pembayaran menuju rekening bank Indonesia melalui BI-FAST.

Dokumentasi Ripple mencatat transaksi melalui jalur tersebut dapat diproses secara real-time selama 24/7, dengan nilai maksimum Rp100 juta per transaksi dan batas minimum Rp50.000.

Dukungan BI-FAST tersebut mulai tercantum sebagai instrumen pembayaran baru pada pembaruan Ripple Payments Direct Juli 2026. Meski demikian, keberadaan BI-FAST dalam jaringan Ripple tidak berarti BI-FAST menggunakan XRP, ataupun seluruh pembayaran Ripple menuju Indonesia diselesaikan memakai aset kripto tersebut.

BACA JUGA:  Meme Coin x Saham Makin Panas, Robinhood Chain Cetak Rekor Baru

Pasar Kripto Indonesia Jadi Potensi Besar

Masuknya Indonesia dalam jaringan pembayaran Ripple berlangsung ketika pasar aset digital domestik terus berkembang.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah akun konsumen perdagangan aset keuangan digital di Indonesia mencapai 22,93 juta akun pada Juli 2026, dengan transaksi aset kripto senilai Rp20,52 triliun selama bulan tersebut.

Ekosistem domestik saat ini juga ditopang dua bursa aset keuangan digital, dua lembaga kliring, dua kustodian dan 26 pedagang aset keuangan digital berizin.

Besarnya pasar tersebut membuat Indonesia menjadi koridor yang relevan dalam ekspansi infrastruktur aset digital di Asia-Pasifik.

Lonjakan perdagangan XRP di Korea memang belum membuktikan adanya peningkatan permintaan serupa di Indonesia.

Namun, perkembangan terbaru menunjukkan satu hal yang lebih luas, ketika XRP kembali menarik perhatian trader Asia, ekosistem Ripple secara bersamaan terus memperluas pijakan institusional dan pembayaran di kawasan, dengan Indonesia yang sudah menjadi salah satu titik yang terhubung di dalam jaringan tersebut.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait