3 Faktor Harga Bitcoin Bisa Naik Tinggi Lagi

2384

Anjloknya harga Bitcoin (BTC) pada 20 Februari 2020 dari US$10.147 menjadi serendah-rendahnya US$9.505, masih dianggap wajar oleh sejumlah pengamat. Justru pelemahan itu bisa mendorong kenaikan harga berkat 3 faktor berikut ini.

Eric Choy, Analis di BlockStreetJournal, tidak sependapat dengan ramalan Bitcoin bisa melejit hingga Us$20 ribu dalam waktu dekat ini.

“Saya justru yakin lebih lama, setidaknya akhir tahun ini,” katanya menanggapi pertanyaan dari Blockchainmedia.

Ada 2 argumen saya, kata Choy, yakni pertama, perlanjutan ketidakpastian trader dan penambang Bitcoin menyambut moment Halving.

Kedua, Indikator Fibonacci 0,618 memperlihatkan Bitcoin berada di level US$13.300. Level itu adalah level lanjutan dari 0,382 selama setahun terakhir.

“Rasio 0,618 bisa diacu sebagai resistance dan support untuk beberapa waktu, sebelum masuk ke wilayah US$20.000,” tegasnya.

Faktor Golden Cross

Pada 18 Februari 2020 lalu, Golden Cross Bitcoin paling istimewa muncul kembali, setelah hal serupa terjadi pada Januari 2020 dan sebelumnya pada tahun 2015. Dua hari kemudian pasar Bitcoin ambruk cepat hingga US$9.505.

BERITA TERKAIT  Terima Blockchain dan Tidak Cryptocurrency
Golden Cross Bitcoin pada 18 Februari 2020 lalu.

Tak sedikit yang menilainya sebagai bualan belaka, sebab bagaimana mungkin Golden Cross yang disebut dapat melejitkan Bitcoin, tetapi tiba-tiba anjlok sangat signifikan.

Yang tidak dipahami oleh sebagian orang adalah, bahwa rentang waktu Golden Cross adalah jangka panjang. Itulah sebabnya digunakan Moving Average 200 dan Moving Average 50 secara harian (daily) sebagai acuannya.

Pun secara historis, beberapa saat setelah Golden Cross muncul pada Januari 2020, harga Bitcoin juga pernah ambruk hingga 10 persen, lalu kemudian naik kembali. Situasi ini yang memberikan kesempatan untuk melakukan akumulasi kembali.

Support Kuat US$9.688

Selama dua hari terakhir, Bitcoin setidaknya berada di level support kuat di US$9.688 secara mingguan (weekly). Analis Bitcoin, dilansir dari Cointelegraph, menyebutkan jika Bitcoin mampu bertahan di level itu dalam dua atau tiga hari ke depan, dapat dijadikan sinyal bullish.

Berdasarkan data dari Digitalik, dengan model Stock-to-Flow dan Cycle Repeat, hingga 23 Maret 2020, Bitcoin diperkirakan bergerak relatif sideway. Dengan harga acuan saat ini, US$9.660, pada 26 Februari 2020, Bitcoin diramalkan masuk ke wilayah US$10.156. Tetapi, dengan cepat turun kembali ke area US$9.675.

BERITA TERKAIT  Parlemen Jepang: Yen Digital Harus Terbit Dalam Dua Tahun
Prediksi harga Bitcoin yang relatif sideway hingga 27 Maret 2020. Sumber: Digitalik.net.

Selepas 27 Maret 2020, Bitcoin diramalkan naik dari US$9.880 ke US$11.465 (29 Maret 2020).

Bitcoin Halving

Bitcoin Halving yang diperkirakan jatuh pada 12 Mei 2020, masih dianggap sebagai faktor penting.

TradeBlock beberapa waktu lalu mengungkapkan, biaya kotor untuk menambang satu Bitcoin ketika Halving ada sekitar US$15.062. Dengan laju hash rate yang relatif stabil saat ini, maka biaya untuk menambang satu Bitcoin akan turun menjadi US$12.525.

Menurut TradeBlock, ada kemungkinan harga Bitcoin dapat turun setelah Halving dan masih berdampak kecil pada hash rate, karena penambang besar beroperasi dalam jangka panjang dengan ketersediaan listrik murah dan pasokan alat tambang.

“Dengan skenario itu, para penambang mungkin enggan menjual Bitcoin yang mereka tambang, yang selanjutnya menyebabkan pasokan di pasar turun, berpotensi mendorong harga naik,” jelasnya. [red]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO