spot_img
spot_img

Aset Kripto Selain Bitcoin untuk Jangka Panjang, Apa Saja?

Memilih aset kripto yang cocok dibeli untuk investasi jangka panjang memang gampang-gampang susah. Selain Bitcoin, aset kripto apa saja, ya?

OLEH: Fahmi Almuttaqin
Pegiat di Komunitas Kolektor Kripto Surabaya

Pasar aset kripto kembali menunjukkan pesonanya setelah meredup selama hampir 3 tahun.

Karena harga aset kripto seperti Bitcoin (BTC) dan Ether (ETH) yang cenderung “jalan di tempat” setelah terjadi crash yang kemudian menjadi awal dari crypto winter season pada 2018 lalu.

Namun, terlepas dari berita buruk yang ada, jika kita menilik sejarah harga aset kripto, terdapat potensi kenaikan nilai aset secara jangka panjang yang ternyata cukup menarik.

Sebagai contoh, kalaupun kita membeli Bitcoin di harga tertingginya pada 2017 yakni di kisaran US$20.000 per BTC, saat ini pada tahun 2021, nilai aset kita telah meningkat setidaknya dua kali lipat. Walaupun, harganya sempat jatuh di kisaran US$3 ribu pada 2018-2019 lalu. 

Bitcoin memang layak diperhitungkan, mengingat ia adalah awal dari terbentuknya industri aset digital.

Namanya pun telah dikenal luas di hampir semua negara. Bahkan saat ini, institusi besar seperti Tesla, MicroStrategy, dan lembaga pengelola dana investasi mulai memutuskan untuk menempatkan sebagian dari dana yang mereka miliki ke aset kripto seperti Bitcoin. 

Namun, pertanyaan yang cukup sering dijumpai oleh penulis terkait hal ini adalah, apakah harga Bitcoin saat ini tidak telalu tinggi untuk dibeli? 

Untuk teman-teman yang mengharapkan kenaikan nilai aset hingga diatas 10 kali lipat, apakah masih memungkinkan jika mereka membeli Bitcoin? 

Dengan kapitalisasi pasar yang ada saat ini, dengan harga per BTC di kisaran US$50.000, diperlukan harga US$500.000 atau sekitar Rp7 milliar untuk para pembeli BTC sekarang bisa mendapatkan kenaikan nilai hingga 10 kali lipat.

Hal itu bisa terwujud jika terdapat pembelian baru BTC sebesar sekitar US$8,5 trilliun. Tentu, walaupun memungkinkan, menurut perhitungan secara matematis akan lebih sulit terjadi.

Kenaikan lebih dari 10 kali lipat akan lebih mudah terjadi pada aset kripto lain dengan kapitalisasi pasar yang lebih rendah.

Memilih aset kripto dengan kapitalisasi pasar yang masih murah di sisi lain, bukan pekerjaan mudah.

Ditambah dengan adanya hype atau trend tertentu, membuat pandangan kita kadang agak kabur untuk menilai aset mana yang sebenarnya memiliki nilai dan yang hanya “numpang tenar” saja. 

Penulis ingin berbagi beberapa kiat yang bisa dilakukan oleh para pembaca dalam melakukan assessment terhadap aset kripto berkapitalisasi pasar rendah. 

Pertama, Pilihlah aset yang setidaknya telah berumur 4 tahun. Mengapa 4 tahun? Karena pengembangan sebuah teknologi blockchain bukanlah perkara yang mudah.

Terkadang apa yang dituliskan atau direncakan di whitepaper suatu proyek, tidak dapat terlaksanan secara optimal.

Dengan memilih aset yang telah berumur 4 tahun atau lebih, kita bisa melihat bagaimana aset tersebut telah berkembang dari konsep awalnya, baik secara teknologi maupun governance, serta penambahan fitur baru untuk mengatasi kendala yang terjadi di kemudian hari.

Kita juga bisa melihat bagaimana komunitas dan developer tersebut menghadapi konflik atau permasalahan yang terjadi.

Selain itu, angka 4 tahun juga dipilih karena berkaca dari Bitcoin, selama 4 tahun pertama, nilainya cenderung masih stagnan atau masih bisa dikatakan sangat murah. 

Kedua, pilihlah aset yang memiliki potensi kelangkaan unit asetnya. Aset kripto, walaupun memiliki fitur transaksi peer to peer yang bisa berpotensi untuk digunakan sebagai alat tukar, semua orang membeli aset ini berharap dapat digunakan untuk meningkatkan nilai kekayaan mereka, alih-alih untuk digunakan sebagai alat pembayaran.

Salah satu faktor paling signifikan yang dapat meningkatkan nilai adalah karena adanya potensi kelangkaan dari aset tersebut.

Jadi, pastikan aset yang Anda ingin koleksi untuk jangka panjang, memiliki potensi kelangkaan yang tinggi.

Potensi kelangkaan tersebut bisa disebabkan karena terbatasnya suplai dan meningkatnya jumlah kolektor faktor deflasi. 

Ketiga, pilihlah asset yang memiliki protokol blockchain mereka sendiri. Bukan bermaksud untuk meremehkan pengembang utility token, namun perkembangan dunia teknologi ini sangat cepat.

Token berjenis ERC20, TRC20, BEP20 dan lain-lain dapat dikembangkan oleh siapa saja dengan kemampuan teknologi yang terbatas, sehingga tidak ada jaminan bahwa tim pengembang tersebut memiliki keahlian yang dibutuhkan untuk menghadapi perkembangan situasi yang ada.

Ditambah lagi, karena utility token tersebut memiliki kegunaan tertentu, maka kurang cocok untuk dijadikan koleksi jangka panjang, karena dia merupakan asset yang dapat digunakan untuk menjalankan fungsi tertentu.

Kembali ke Asal, Apa Itu Bitcoin?

Jika semakin naik harganya, akan semakin mahal biaya untuk para pengguna dapat mengakses utility dari platform yang dikembangkan oleh token tersebut. Hal itu tentu bersifat kontra-produktif.

Selain itu, dengan berkembangnya ekosistem aset kripto, pengembang utility token diharuskan pandai membaca perkembangan dan melihat apakah platform mereka masih relevan atau tidak.

Hal itu menciptakan sebuah ketidakpastian bagi Anda jika ingin mengoleksi token tersebut untuk jangka panjang.

Sedangkan sebuah coin seperti misalnya Bitcoin, tidak bergantung pada hal-hal semacam itu.

Dia ada dan berharga, karena keberadaannya, bukan karena fungsinya untuk melakukan hal-hal tertentu.

Hal ketiga ini, tentu bisa diperdebatkan, namun tetap akan bermanfaat jika dijadikan bahan pertimbangan, mengingat banyaknya token yang berusaha untuk menciptakan kegunaan tertentu seperti untuk mengubah industri musik, properti, rantai pasok, dan lain-lain, yang kemudian berguguran. 

Melalui tiga pertimbangan tersebut di atas, setidaknya kita sudah dapat memilah bahwa cukup banyak aset kripto di daftar top 500 berkapitalisasi pasar terbesar dan hanya menyisakan beberapa gelintir saja.

Pasca 51 Percent Attack Terhadap Firo

Setelah itu, lakukan beberapa tahapan riset yang lebih dalam seperti: Apakah fitur yang dimiliki aset itu juga dimiliki oleh aset lainnya?

Berapa banyak jumlah unit aset yang memiliki kesamaan tersebut dan apa yang membedakan aset itu dengan sejumlah pesaingnya?

Apakah menurut Anda dia dapat memenangkan persaingan dengan terobosan dan kekuatan komunitas developer yang dimiliki? 

Setelah Anda melakukan langkah-langkah di atas, pilihlah satu atau beberapa aset untuk dikoleksi secara jangka panjang untuk berjaga-jaga jika satu aset yang Anda koleksi tersebut suatu hari akan memiliki harga seperti Bitcoin saat ini, atau bahkan lebih. 

Penulis telah mencoba melakukan assessment seperti yang dipaparkan di atas dan menemukan beberapa aset yang cukup menarik, misalnya FIRO.

Ia memiliki jumlah total suplai yang hampir sama dengan Bitcoin yakni 21 juta, namun alih-alih memiliki harga ratusan juta rupiah, satu FIRO saat ini dapat dibeli di bursa perdagangan seperti Binance dan Indodax seharga kurang dari Rp100 ribu.

Pergerakan harga FIRO dalam rupiah. Sumber: Indodax.

Di lain sisi, FIRO memiliki terobosan teknologi yang menarik, serta hanya memiliki tidak lebih dari 5 pesaing, mengingat tingkat kesulitan dari teknologi yang dikembangkan.

Semoga kiat-kiat ini dapat memberikan inspirasi dan manfaat bagi pembaca. [/]

spot_img

Terkini

spot_img
spot_img
spot_img

Terkait