Beranjak dari Kasus Terra UST, Apa Itu Stablecoin dan Apa Saja Jenisnya?

Kasus Terra UST telah menarik perhatian lebih pada stablecoin, termasuk urusan regulasi dari para pemangku kepentingan di sektor keuangan. Lalu, apa itu stablecoin dan apa saja jenisnya? Dan apa respons dari Robby, Direktur Rekeningku.com?

Apa Itu Stablecoin?

Secara umum, stablecoin adalah aset kripto berupa token, yang nilainya dipatok dengan aset bernilai tetap atau stabil, seperti mata uang negara (fiat money), yakni dolar AS dan euro. Ada pula stablecoin yang dipatok dengan harga emas (gold).

Selain menggunakan mata uang yang asli disimpan di bank, nilainya dipatok dengan surat utang perusahaan ataupun surat utang negara, seperti yang diterapkan oleh perusahaan Tether untuk USDT. Perusahaan penerbit harus berusaha menstabilkan USDT agar nilainya tetap 1 banding 1 terhadap dolar AS.

Hadirnya stablecoin ini untuk memberikan bentuk token yang tidak bervolatilitas seperti Bitcoin dan altcoin lainnya. Juga, ini biasanya disimpan sebagai dana cepat jika investor tertarik untuk berinvestasi di aset kripto lain, tanpa perlu mengubahnya menjadi uang yang ada di rekening bank, melainkan tetap di akun di bursa kripto.

Seperti yang disebutkan di atas, stablecoin juga ada yang nilainya dipatok dengan komoditas seperti emas, yang ditujukan sebagai bentuk dari tokenisasi emas fisik itu sendiri. Nilai satu token akan sama dengan emas satu troy ounce. Contohnya adalah Pax Gold (PAXG), yang dikeluarkan oleh perusahaan Paxos.

Juga, secara umum ada dua jenis stablecoin, yakni yang memiliki underlying asset asli dan yang menggunakan kode, alias algoritmik.

Jenis pertama adalah stablecoin USDT dan USDC. Sedangkan jenis kedua adalah DAI dan UST. DAI ini cukup bertahan hingga saat ini dan punya keunikan sendiri.

Jika membahas, stablecoin jenis pertama, maka kita pasti sudah banyak menggunakannya untuk membeli aset kripto lain di berbagai bursa.

Karena ini nilainya stabil, investor menyimpannya tidak untuk mencari keuntungan dari capital gain (pertumbuhan nilai), melainkan melalui produk staking layaknya deposito di bank, yang disediakan oleh beberapa bursa kripto utama. Bunganya pun tak kalah menarik.

Dan salah satu fungsi utama dari stablecoin adalah, Anda dapat melakukan transfer uang lintas negara dengan lebih cepat dan murah dibandingkan melalui transfer antar bank.

Melirik Kasus Terra UST 

Meski sejatinya stablecoin dirancang untuk tetap stabil, namun kasus dari Terra UST membuat banyak orang berfikir kembali akan kemampuan stablecoin, terutama yang berjenis algoritmik.

UST, yang menerapkan mekanisme penyeimbang secara algoritmik, telah berhasil dihancurkan melalui serangan aksi jual skala besar, hingga nilainya benar-benar jauh dari kata stabil, di bawah US$1.

Pada saat penulisan, berdasarkan data dari CoinMarketCap, nilai dari UST kini telah merosot lebih dari 94 persen, berada di US$0,055.

UST juga menyeret token tata kelola Terra, LUNA, ke dalam kehancuran karena algoritmiknya akan mencetak LUNA secara otomatis untuk menyeimbangkan UST. Alhasil, pasokan beredar LUNA membludak, menjatuhkan harganya lebih dari 99 persen.

Lalu, bagaimana nasib Terra LUNA dan UST hari ini?

Voting Terra LUNA di Mata Bos Rekeningku.com

Apa yang menjadi perhatian investor dan pengamat saat ini adalah, voting Terra untuk proposal pemulihan ekosistem di Terra Station.

Nantinya, itu akan menghadirkan jaringan Terra 2.0, yang benar-benar baru melalui forking. Juga, token LUNA 2.0 akan hadir dengan jumlah pasokan yang tetap. Ini tidak terkait lagi dengan UST.

Sementara, jaringan lama akan berubah nama menjadi Terra Classic, begitu pula dengan token LUNA saat ini, berubah menjadi Luna Classic (LUNC). Sedangkan ini, masih akan terkait dengan UST.

Voting saat ini sudah mencapai kesepakatan di 62,06 persen, meski total suara yang masuk belum seluruhnya. Voting akan berakhir pada 25 Mei 2022.

“Apa yang benar-benar diharapkan adalah, keberhasilan forking jika pada akhirnya proposal sah dilaksanakan. Investor masih berharap, tetapi belum ada rincian kegiatan nyata yang mampu menyelamatkan harga LUNA,” ujar Direktur Rekeningku.com, Robby kepada Blockchainmedia.id, Minggu (22/5/2022).

Robby pun menambahkan bahwa, tentu saja forking akan menjadi ide yang menarik dari Do Kwon dan tim, tetapi eksekusinya adalah apa yang benar-benar perlu dipantau.

Selain itu, di Terra Station juga telah ada proposal voting baru untuk UST, di mana ada ide untuk burn UST melalui pool komunitas untuk menolong harganya.

Namun, jumlah peserta masih sangat sedikit, kurang dari 30 persen total peserta, dan ini masih akan berakhir pada 27 Mei. Sehingga, akan terlaksana atau tidaknya masih belum dapat dipastikan. [st]

spot_img

Terkini

Terkait