spot_img
spot_img

Bitcoin Akan Jadi Kebutuhan Pokok, Percikan Dimulai September 2020

George Ball, Mantan Kepala Eksekutif Prudential Securities mengatakan bahwa Bitcoin akan menjadi “kebutuhan pokok” bagi investor dan para trader kaya raya. Dia juga berspekulasi ada peningkatan permintaan pada September 2020.

Ucapan Ball itu kali pertama sejak beberapa tahun lalu dia tidak meyakini soal keunggulan Bitcoin, termasuk masa depan teknologi blockchain yang mendasari jenis aset baru itu.

“Jadi, investor atau trader yang sangat kaya mungkin beralih ke Bitcoin sebagai kebutuhan pokok,” kata Ball kepada Reuters, 15 Agustus 2020 lalu. Ini menyiratkan adanya peningkatan permintaan terhadap Bitcoin.

George Ball saat ini adalah Chief Executive of Investment di Sanders Morris Harris. Kendati sudah sangat senior, pengaruh Ball di sektor keuangan masih ampuh. Maklumlah, dia sudah banyak makan asam-gram di Wall Street sejak tahun 1970-an.

Bahkan Fred Katayama, jurnalis Reuters terkejut dengan pernyataan Ball itu,”Wow, saya tidak pernah berpikir saya akan mendengar Anda mengatakan sesuatu seperti itu.”

Menurut Ball, ada faktor utama yang mendukung nilai Bitcoin melonjak dan pendapatnya mirip dengan pendapat sejumlah pelaku pasar keuangan lainnya, yakni soal langkah pemerintah AS yang tidak mungkin terus-menerus merangsang pasar hanya dengan stimulus ekonomi dengan memasukan uang baru ke dalamnya.

“Banjir likuiditas akan berakhir cepat atau lambat,” kata Ball, merujuk pada stimulus besar oleh Pemerintah AS dan Bank Sentral saat ini untuk mengimbangi kerusakan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi COVID-19.

“Akhir pendekatan itu (banjir likuiditas-Red) mungkin akan terjadi pada pada kuartal keempat tahun ini. Oleh karena itu baik trader dan investor harus dan mungkin akan menyetel ulang portofolionya secara substansial,” tegas Ball.

Ball juga bersikap spekulatif akan adanya peningkatan permintaan terhadap Bitcoin setelah Hari Buruh di AS, 17 September 2020.

“Saya memperkirakan akan ada lonjakan pembelian bitcoin setelah Hari Buruh, karena pasar terjebak dalam kelesuan dan investor menunggu percikan baru pada awal September 2020,” katanya. [Forbes/Reuters/red]

spot_img

Terkini

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terkait