Bitcoin Bisa Reli Jika COVID-19 Masih di Sini

900

Bagaimanakah dampak COVID-19 terhadap investasi Bitcoin yang umumnya dimiliki oleh profesional laki-laki muda dengan usia sekitar 30 tahun? Pendatang baru di segmen konsumen industri aset blockchain berasal dari negara, di mana mata uang lokal mengalami inflasi tinggi, seperti dari benua Afrika dan Amerika Latin.


OLEH: Tuomas Santakallio
Pengamat Aset Kripto

Baru-baru ini, video yang viral di jejaring sosial TikTok menyebabkan harga Dogecoin (DOGE) melonjak pesat. Pembelinya adalah remaja dan orang muda yang sudah kenal aset kripto. Fenomena tersebut adalah peristiwa impulsif tetapi mengungkap ada banyak pendatang baru di pasar aset kripto ini.

Baik usia remaja maupun 30 tahun tidak termasuk golongan rentan terhadap COVID-19. Investor ritel yang berada di golongan rentan, sekitar usia 70 tahun, umumnya tidak berinvestasi di Bitcoin dan aset blockchain. Golongan ini menyimpan harta dalam bentuk properti, obligasi dan indeks saham.

Angka kematian COVID-19 menunjukkan korban jiwa paling banyak terjadi di golongan pekerja, minoritas etnis dan yang kurang memiliki akses terhadap perawatan kesehatan. Hal ini penting sebab korban COVID-19 kecil kemungkinan menyimpan harta, baik dalam bentuk aset tradisional atau aset berbasis blockchain.

Artinya, dampak COVID-19 terhadap aset kripto bisa jadi hampir tidak ada. Sementara di pasar modal tradisional, virus tersebut berpotensi mencairkan harta yang disimpan para korban. Bagi golongan pekerja yang lansia, harta disimpan dalam properti dan dana pensiun.

BERITA TERKAIT  Perusahaan Ini Tebus Rp36 Miliar Bitcoin kepada Peretas

Minat investor institusional terhadap aset kripto semakin meningkat selama lima tahun silam. Golongan ini melihat blockchain sebagai teknologi untuk tetap kompetitif dan aset kripto sebagai alat untuk melindungi portofolio mereka di luar pasar modal tradisional. Investor institusi menjadi faktor yang menstabilkan harga kripto, bukan menggerakkannya.

Permintaan konsumen menukik tajam di masa gelombang pertama COVID-19 di negara-negara Barat, yang berakibat harga Bitcoin turut longsor. Pergerakan itu disebabkan aksi jual yang disusul cepat oleh pemulihan berbentuk V. Data menunjukkan golongan institusi menjual Bitcoin dan golongan ritel membelinya.

Menurut teori portofolio modern, pemulihan berbentuk V menunjukkan fundamental yang kuat pada aset tersebut. Bull market berikutnya kemungkinan akan didorong permintaan konsumen.

Seiring investor ritel mengatur ulang portofolio pribadi mereka di pasar selain aset kripto, mereka akan semakin tertarik di kelas aset ini di masa depan. Motivasi memasuki pasar aset kripto adalah untuk melindungi harta dari inflasi dan menggunakan aset yang bisa digunakan antar negara.

BERITA TERKAIT  Nge-Twit Soal Bitcoin, JK Rowling Raih Ribuan Follower Baru

CEO bursa aset kripto StormGain, Alex Althausen, mengatakan, “Saat ini kita melihat korelasi 66 persen antara harga Bitcoin dengan S&P 500, tetapi kita harus mempertimbangkan hal ini adalah bull market.

Jika harga aset tradisional seperti saham turun akibat gelombang kedua COVID-19, investor akan lebih aktif memakai aset protektif seperti Bitcoin dan emas, lanjut Althausen.

Bitcoin dipandang sebagai aset safe haven terutama, karena mudah diakses konsumen, tidak ada jumlah investasi minimum, tidak ada aturan akreditasi investor dan tersedianya layanan bursa.

COVID-19 menjadi katalis yang membongkar sistem keuangan kuno dan membuka jalan bagi aset kripto untuk mengambil alih.

[Artikel ini disadur dan diterjemahkan dari: cointelegraph.com]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO