Bitcoin Halving Sudah di Depan Mata, Ini Kata Pelaku Pasar di Indonesia

Bitcoin Halving III terjadi 35 hari lagi. Momen langka itu hanya terjadi setiap 4 tahun sekali yang memangkas laju produksi Bitcoin (melalui imbalan kepada penambang), dari 12,5 BTC per block saat ini menjadi 6,25 BTC per block. Ini pendapat para pelaku pasar di Indonesia.

Muhammad Kurnia Bijaksana, Pendiri Komunitas Trader The Crypto Legend Indonesia
Terkait Bitcoin Halving, secara teknikal saya berpendapat harga Bitcoin akan naik, karena pasokannya turun, sedangkan demand (permintaannya) tetap atau naik.

Tetapi, kita harus mempertimbangkan nasib para penambang Bitcoin. Jikalau imbalannya terlampau kecil, maka penambang bisa rugi. Akibatnya mereka bisa memadamkan alat tambang mereka. dan itu bisa berdampak pada jaringan blockchain yang tak sehat.

Bisa jadi setelah tanggal Halving harga Bitcoin akan turun dulu, baru kemudian mulai naik. Pada Halving II tahun 2016, misalnya, harga Bitcoin merosot dulu selama 4-6 minggu sebelum bull run.

Pun lagi kita bisa mengacu pada Halving Bitcoin Cash (BCH) dan Bitcoin Satoshi’s Vision (BSV), masing-masing hari ini dan lusa, agar bisa kita belajar bagaimana kira-kira Bitcoin ketika dan setelah tanggal Halving.

IKLAN

Sumardi Fung, CEO Rekeningku.com
Bitcoin Halving
akan berdampak pada deflasi terhadap nilai Bitcoin. Inilah yang akan mendorong harga Bitcoin juga naik, jika adopsinya juga semakin besar. Mekanisme ini jelas jauh berbeda dengan fiat money yang pasokannya tidak terbatas, sehingga setiap tahun inflasinya membesar.

Menurut saya, inilah saatnya untuk membeli Bitcoin, kendati sempat jatuh pada 12 Maret 2020 lalu. Dan sekarang Bitcoin pulih 90 persen, berbanding dengan instrumen investasi lainnya, seperti saham yang baru pulih 50 persen.

Gabriel Rey, CEO Triv.co.id
Pasar saham di Amerika Serikat cenderung outperform ketika bull dan downperform ketika down. Melihat kondisi perekonomian AS yang saat ini tengah dilanda COVID-19 terparah dan juga beberapa di negara lain, saya yakin Bitcoin masih ada kemungkinan turun.

Terlebih-lebih dalam resesi, hal terakhir yang dipikirkan orang adalah bukan membeli Bitcoin tapi bagaimana untuk bertahan hidup.

Bull tinggi Bitcoin akan terjadi begitu keadaan ekonomi secara fundamental pulih.

Christopher Tahir, Pendiri CryptoWatch
Bitcoin Halving bukan bermakna pasokan Bitcoin berhenti ataupun berkurang, melainkan laju pasokannya hanya diperlambat 50 persen dari yang setiap block 12,5 BTC menjadi 6,25 BTC.

Hal ini berarti, jika demand meningkat beriringan dengan penurunan kecepatan pasokannya, maka bisa membuat nilai Bitcoin naik. Dengan kata lain, inflasi dari nilai Bitcoin tidak akan secepat sebelumnya.

Jadi secara praktis bisa dikatakan, bahwa jika laju inflasi ekonomi lebih cepat dibandingkan Bitcoin, maka nilai Bitcoin akan kian berharga pula.

Perlu diingat bahwa “nilai” bukan berarti “harga”, walaupun in most cases kenaikan nilai berarti dengan kenaikan harga.

Kenaikan nilai dapat diumpakan seperti ini. Misalnya dulu 1 BTC bisa untuk membeli 1000 butir telur. Nah, dengan adanya kenaikan nilai, maka 1 BTC di hari berikutnya bisa untuk membeli 1200 butir telur.

Muhammad Zaky, Business Development Pintu.co.id
Hampir seluruh aspek pasar keuangan dan instrumen investasi terkena dampak black swan akibat COVID-19, karena prioritas utama saat ini bagi sebagian besar masyarakat adalah untuk menjaga posisi kas mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, kami percaya bahwa dalam jangka panjang, harga Bitcoin akan terus menguat seiring penurunan jumlah Bitcoin yang dapat ditambang pasca-Halving.

Halving adalah momentum besar bagi Bitcoin, maka kami meyakini bahwa momentum itu akan menjadi pemicu bagi harga Bitcoin melejit.

Beberapa bulan terakhir, harga Bitcoin berada pada rentang US$6000-10.000. Kami meramalkan angka itu akan bergerak naik menjadi sekitar US$12.000-15.000 seiring dengan peristiwa Halving.

Adanya pandemi COVID-19 tentunya berpengaruh terhadap rentang harga ini. Hampir seluruh aspek pasar keuangan dan instrumen investasi terkena dampaknya.

Di sisi lain, dari pandangan kami, pemerintah berbagai negara saat ini tengah berusaha memberikan paket stimulus ekonomi terhadap negaranya di tengah pandemi COVID-19 dengan cara mencetak uang dalam jumlah besar. Ini dapat mengakibatkan inflasi besar pada mata uang dari masing-masing negara.

Oleh karena itu, kami yakin bahwa potensi untuk aset-aset yang dikategorikan sebagai “safe haven” seperti emas dan Bitcoin akan mengalami kenaikan harga. [red]

spot_img
spot_img

Terkini

Warta Korporat

Terkait