Bitcoin (BTC) akhirnya berhasil menembus level US$10.000 (Rp150 juta) untuk kali pertama sejak Februari 2020. Terpantau di spot market Binance, Raja Aset Kripto itu masuk di wilayah itu pada Jumat, 8 Mei, pukul 06:31 WIB.

Kenaikan cepat Bitcoin terpantau pada Kamis malam, 7 Mei 2020, ketika Pendiri Tudor Investment, Paul Tudor Jones mengatakan kepada Bloomberg, bahwa dia membeli Bitcoin untuk melawan inflasi.

Dengan demikian Bitcoin tumbuh sekitar 40 persen sejak awal tahun 2020. Sedangkan investor yang masuk sejak 12 Maret 2020 sekarang mengantongi posisi keuntungan lebih dari 166 persen.

Jangka Pendek Patut Waspada
Sejumlah pelaku pasar mengomentari hangat soal kembalinya Bitcoin ke “posisi psikologis” itu. Sumardi Fung, CEO Rekeningku.com pagi ini mengatakan dia sebenarnya tak menduga Bitcoin bisa tembus US$10 ribu sebelum Bitcoin Halving.

“Seperti yang ramai diprediksikan sebelumnya bahwa Halving akan mendongkrak harga Bitcoin secara masif. Awalnya saya berpikir bahwa itu akan terjadi setelah Halving dan bertahap sampai beberapa bulan ke depan. Nyatanya 1 mingguan sebelum Halving sudah rally naik terus,” katanya.

Sumardi menyarankan, kalau masyarakat niatnya memang berinvestasi Bitcoin dalam jangka panjang, tidak akan menjadi masalah karena berpotensi bullish.

“Tapi, kalau jangka pendek, ya sepatutnya waspada, dengan efek FoMO saat ini,” tegasnya.

Sementara itu, Christopher Tahir, trader Bitcoin yang juga pendiri komunitas CryptoWatch menyebutkan, kalau hari ini Bitcoin mampu terus bertahan di US$9600, maka potensi naik kembali terbuka.

“Untuk sementara kita pantau pasar dulu, menanti konfirmasi,” katanya singkat pagi ini melalui Telegram.

Paul Tudor Penentu US$10 Ribu
Muhammad Kurnia Bijaksana, trader Bitcoin dan pendiri Crypto Legend Indonesia tak menampik kemungkinan faktor Paul Tudor yang melejitkan harga Bitcoin tembus US$10 ribu.

BERITA TERKAIT  Perusahaan Australia Ini Beralih ke Bitcoin dari Emas

Kepada Bloomberg, sebelum Kamis tengah malam Waktu Indonesia Barat, investor dan pengusaha legendaris asal Amerika Serikat itu mengatakan, bahwa dia membeli Bitcoin untuk melindungi kekayaannya dari terjangan inflasi.

“Secara teknikal Bitcoin sukses ke US$10 ribu, karena sebelumnya berhasil menembus resisten bulanan di US$9.400-9.500-an. Menggunakan prinsip fibonacci extension, perkiraan akan terjadi pembalikan di US$10.050-10.150-an (sudah mulai terjadi),” katanya.

Menurut Kurnia, Bitcoin perlu bertahan di atas US$9.900 hari ini untuk bisa tetap berada di atas US$10 ribu, dan mungkin bisa ke US$10.500.

“Namun, jika support US$9.900 jebol, Bitcoin bisa turun lagi sampai US$9.200-9.300,” pungkasnya. [red]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO