FBI: Penjahat Siber, Termasuk Bermodus Ransomware Bitcoin, Cukup Kreatif Manfaatkan COVID-19

585

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat, FBI mengatakan bahwa penjahat siber cukup kreatif memanfaatkan isu-isu seputar COVID-19. Satu di antaranya adalah yang bermodus ransomware yang meminta tebusan berupa Bitcoin.

“Kami banyak menerima pengaduan bahwa ada orang-orang yang mendirikan badan amal COVID-19 palsu. Pelakunya menjanjikan pengiriman masker dan peralatan medis lainnya. Ada pula yang menawarkan jasa pinjaman uang, pemerasan dan lain sebagainya. Serangan ransomware (yang meminta tebusan Bitcoin-Red) juga kerap terjadi yang menyerang sistem informasi rumah sakit. Jadi, apa pun yang dapat Anda pikirkan, penjahat siber cukup kreatif,” kata Tonya Ugoretz, Wakil Asisten Direktur Divisi Siber, FBI dalam sebuah webinar 16 April 2020 lalu.

Dalam kaitan COVID-19 itu juga, Tonya mengatakan jumlah pengaduan pun berlipat ganda. Biasanya Divisi Siber FBI menerima 1.000 pengaduan setiap hari.


“Namun, selama pandemi COVID-19 ini, kami menerima sekitar sekitar 3-4 ribu dalam sehari. Memang, tidak semua dari pengaduan itu terkait dengan COVID-19, tetapi sejumlah besar memang terkait,” katanya.

BERITA TERKAIT  Penjelasan Bitcoin bagi yang Berusia 40 Tahun ke Atas

Ransomware Masih Berpotensi Serang Rumah Sakit
Sebelumnya diberitakan, kendati sudah ada penurunan serangan sejak awal pandemi COVID-19, ransomware Bitcoin masih berpotensi menyerang rumah sakit.

Bill Siegel, CEO Coveware mengatakan dia melihat peningkatan aktivitas serangan ransomware “Mamba”, yang menghindari cara-cara lama yang mengirimkan phising software ke e-mail korban. Pelaku justru langsung menyerang dengan mengenkripsi file di komputer, berkat bantuan software khusus bernama “Jetico”.

“Kami tidak tahu mengapa serangan Mamba akan meningkat saat ini ketika pandemi COVID-19 dan rumah sakit masih berjuang mengatasi itu. Tetapi, saya pribadi berpendapat peretas yang sangat ahli lebih banyak punya waktu melakukan serangan itu dari rumah, bukan dari kantor,” kata Siegel.

Menurut laporan terbaru dari Chainalysis, jumlah serangan ransomware secara global telah menurun secara signifikan sejak COVID019 meningkat pada Maret 2020. Penurunan itu sangat signifikan, mengingat ada kekhawatiran yang berkembang atas dampak serangan ransomware terhadap rumah sakit dan organisasi kesehatan lainnya. [Cointelegraph/red]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO