Harga Emas Menguat, Hati-hati Hilang Energi pada November

Kendati harga emas dunia kian mengkilap hingga menembus rekor 9 tahun di US$1800 per oz, Denny Ardhiyanto CEO Sehati Gold, mewaspadai pelemahan emas pada November 2020. Ada apa?

Prediksi kenaikan hebat aset safe haven emas sudah diserukan sejak akhir tahun 2019. Hampir satu tahun setelahnya, logam mulia kuning ini terus memecahkan rekor demi rekornya.

Rekor harga emas dunia 9 tahun pun akhirnya terpecahkan pada Juli 2020 ini setelah menembus US$1.800 per oz. Sebagai catatan, all time high (harga tertinggi) emas adalah US$1.895 per oz pada Agustus 2011 silam.

Akan tetapi harga emas dalam negeri sendiri belum menembus titik tertinggi yang terjadi di April 2020. Hal ini dikarenakan oleh menguatnya mata uang rupiah terhadap dolar AS.

Titik tertinggi harga emas Indonesia terjadi di harga Rp890.000 per gram. Sedangkan saat ini harga emas Indonesia berada di kisaran Rp860.000 per gram.

“Harga emas dunia masih konsisten dengan prediksi di awal tahun. Emas akan tetap bullish selama keresahan menghantui ekonomi dunia,” kata Denny.

Kilas balik pada April 2020, ekonom dunia memprediksi bahwa harga emas dunia akan bergerak menuju US$3.000 per oz atau sekitar Rp1.400.000 per gram.

“Harga emas dunia menuju US$3.000 per oz itu sangat mungkin. Akan tetapi pergerakan harganya hampir bisa dipastikan tidak akan mulus. Akan ada banyak aksi profit taking oleh pelaku pasar. Hal ini akan terjadi di semua sektor keuangan, termasuk pasar modal dan pasar uang (valuta). Akan banyak aksi opportunistic dari manager investasi global,” ujar Denny kepada Blockchainmedia hari ini, Selasa (14 Juli 2020).

Pandemi COVID-19 Masih Menghantui
New Normal yang dicanangkan pemerintah Indonesia sejak Juli 2020 sekilas memberikan nafas untuk roda perekonomian Indonesia.

BERITA TERKAIT  Ini 4 Kiat Sebelum Berinvestasi Bitcoin

Perekonomian Indonesia yang stagnan karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sedikit demi sedikit mulai bergerak. Bantuan sosial pemerintah Indonesia dalam bentuk sembako dan uang tunai juga turut berperan dalam menghidupkan kembali roda ekonomi Indonesia. Masyarakat mulai beraktivitas kembali dan mulai melakukan kegiatan ekonomi.

Akan tetapi tidak lama setelah itu, menurut Denny, fakta menyatakan bahwa COVID-19 belum hilang dan belum bisa diselesaikan. Hal ini terbukti dari melonjaknya angka kasus infeksi COVID-19 dan angka kematian yang diakibatkan oleh pandemi ini.

Indonesia tidak sendirian. Negara-negara lainpun dihadapi pilihan yang sulit ini. Menyelamatkan nyawa atau menyelamatkan roda ekonomi.

“Pada dasarnya, belum ada perubahan yang berarti dalam penanganan pandemi COVID-19 ini. Belum ada solusi yang bisa bisa menyelamatkan kita dari pandemi yang pada saat bersamaan menyelamatkan ekonomi dunia,” kata Denny.

Tegas Denny lagi, COVID-19 menciptakan ketidakpastian pada iklim ekonomi dunia. Selama belum ada solusi penanganan pandemi ini, ekonomi global akan sulit untuk bangkit. Atas dasar itu, kami masih berpendapat bahwa harga emas akan terus bullish,” lanjutnya.

BERITA TERKAIT  Malware Mining Kripto Melonjak 500% di 2018

Ketegangan Dunia dalam Perebutan Gelar Negara Adi Kuasa
Kondisi internasional saat ini juga sangat tidak membantu dalam pemulihan ekonomi global. Kompetisi antara negara-negara besar seperti Tiongkok, India, Amerika Serikat, Australia dan Inggris sangat memberatkan pemulihan ekonomi global.

Setelah konflik antara Tiongkok dan Amerika Serikat yang dimulai di 2019, negara Tirai Bambu ini terlibat di berbagai konflik dengan negara-negara besar seperti India, Australia dan Inggris.

Pada akhir Juni 2020, Tiongkok terlibat kericuhan di batas negara dengan India yang menelan korban jiwa. Sebelumnya, hubungan antara negara Tiongkok dan Australia/Inggris memanas setelah negara–negara tersebut memprotes kebijakan Tiongkok dalam mengubah status pemerintahan Hong Kong.

“Tiongkok sangat memegang peran sentral dalam memprediksi kondisi ekonomi global. Mereka adalah negara dengan perputaran ekonomi terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Menurunnya ekonomi negara Tiongkok akan berdampak negatif pada kondisi ekonomi global,” ujarnya.

Bullish di Semester 2, Hati-hati pada Bulan November 2020
Denny juga mempertimbangkan hubungan Tiongkok dengan negara-negara Barat pada umumnya akan sangat dipengaruhi oleh pemilu Amerika Serikat yang akan terjadi pada November 2020.

BERITA TERKAIT  Coinbase Mendapat Izin Kustodian Kripto di New York

Ditanya mengenai prediksi harga emas di semester II Tahun 2020, Denny berpendapat bahwa harga emas akan tetap bullish sampai ada perubahan yang berarti.

“Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam jangka waktu 6 bulan ke depan. Yang pertama adalah apakah ada temuan vaksin yang akan menyelesaikan pandemi COVID-19. Untuk hal ini, saya pesimis. Vaksin tidak mungkin ditemukan dalam jangka waktu sesingkat itu,” sebutnya.

Hal kedua, lanjutnya, perlu dilihat soal pemilu Amerika Serikat yang akan terjadi pada November 2020. Ada indikasi bahwa kubu Republikan (Donald Trump) akan sulit untuk memenangkan pemilu tahun ini.

Jika kubu Demokrat yang memenangkan pemilu, maka besar kemungkinan ketegangan negara-negara dunia akan mereda. Jika hal ini terjadi, mungkin harga emas akan kehilangan energinya untuk naik,” tutup Denny. [*]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO