Selasa, 12 November 2019
Penulis Dikirim oleh Vinsensius Sitepu

Vinsensius Sitepu

Avatar
370 KIRIMAN 0 KOMENTAR
Pemimpin Redaksi Blockchainmedia.id, tertarik tentang teknologi komputer sejak duduk di bangku SMP, menulis artikel tentang teknologi blockchain dan bitcoin di media massa sejak 2014. Pada tahun 2015 bergabung sebagai anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) hingga sekarang. Sebelumnya di KabarMedan.com sebagai Managing Editor, Kontributor MetroTV dan Redaktur di Harian Global, Medan. Tahun 2001-2016 sebagai penulis lepas untuk Tabloid Komputer PCplus dan Majalah Info Komputer (Kelompok Kompas-Gramedia).
Liputan khusus tentang Bitcoin di Xinhua News Agency di Tiongkok beberapa waktu lalu, kian menegaskan dukungan dan supremasi Tiongkok terhadap sistem uang elektronik peer-to-peer Bitcoin atau lazim juga dikenal sebagai teknologi blockchain. Sebelumnya, Presiden Tiongkok Xi Jinping "memerintahkan" segenap pelaku bisnis di dalam negeri untuk mengadopsi blockchain demi kemakmuran bangsa. Mengapa Tiongkok sangat mencintai Bitcoin?
Tak banyak pelaku perbankan Indonesia yang menulis soal manfaat teknologi blockchain untuk bisnis mereka di media massa. Artikel terbaru dari Ryan Kiryanto, Chief Economist BNI di Investor.id tentang blockchain menarik disoroti, sebab merujuk pada sejumlah penelitian.
Penerapan sidechain untuk blockchain Ethereum oleh Matic Network cukup menarik disoroti kembali. Matic Network mengatasi keterbatasan Ethereum dari segi kecepatan dan jumlah transaksi. Memanfaatkan Layer 2 Plasma, 65.000 transaksi per detik bisa tercapai. Berikut wawancara eksklusif kami melalui surat elektronik dengan Chandresh Aharwar selaku Manajer Pemasaran Matic Network pada pekan lalu.
Keberhasilan Bank Sentral Singapura (MAS/Monetary Authority of Singapura) untuk keempat kalinya dalam mengujicoba teknologi blockchain sebagai alternatif sistem pembayaran yang lebih efisien, ditanggapi beragam oleh pelaku industri blockchain di Indonesia. Sebagian besar mereka malah mendesak Bank Indonesia segera menerapkan teknologi itu di Nusantara.
Monetary Authority of Singapura (MAS) sebagai bank sentral dan otoritas keuangan di Singapura berhasil mengembangkan purwarupa (prototype) pembayaran digital berbasis teknologi blockchain. Dengan teknologi ini, pembayaran bisa dilakukan di untuk seluruh mata uang dalam jaringan yang dikembangkan MAS. Teknologi telah berhasil diujicoba beberapa kali dan dipamerkan dalam Singapore Fintech Festival and Singapore Week of Innovation and Technology (SFF x SWITCH) 2019 yang digelar Senin (11/11) hingga Kamis (15/11).
Bursa aset kripto, Tokocrypto.com akan menggelar konferensi blockchain “InBlocks 2019” di Jakarta, 19-20 November 2019 mendatang. Bagi Anda yang tertarik untuk melihat perkembangan teknologi blockchain ini adalah saatnya.
Walau diluncurkan pada tahun 2020 nanti, layanan kursus ini agak berbeda dengan layanan kursus serupa. Bukan hanya karena dibesut oleh perusahan kakap dunia itu, tetapi ada peluang mendapatkan dana investasi bagi para peserta kursus.
Adalah dua peneliti, John Griffin dan Amin Shams, masing-masing dari Universitas Texas dan Universitas Ohio. Beberapa hari yang lalu di Bloomberg kedua peneliti itu mengungkapkan adanya dugaan manipulasi menggunakan stablecoin USDT untuk melejitkan kenaikan harga Bitcoin pada tahun 2017 yang mencapai US$20.000. Tapi, siapa yang peduli?
Global Head Strategy PayPal Alfonso Villanueva mengatakan, sebenarnya Libra mempunyai pendekatan yang menarik. yakni menggunakan mata uang digital/cryptocurrency berbasis teknologi blockchain. Uang digital ini juga bertujuan untuk meningkatkan inklusi keuangan dan ekonomi digital.
Sebagai teknologi ke­amanan transaksi keuangan, blockchain bisa dipakai untuk sektor pemerintahan, khususnya mewujudkan transparansi anggaran. Teknologi yang menerapkan sejumlah komputer yang saling terhubung dan diamankan dengan teknik krip­tografi ini, sejatinya bisa dipakai un­tuk mengantisipasi terjadinya penye­lewengan terkait dengan transaksi keuangan pemerintahan, termasuk dalam konteks kasus Lem Aibon.