Selasa, 10 Desember 2019
Penulis Dikirim oleh Vinsensius Sitepu

Vinsensius Sitepu

Avatar
403 KIRIMAN 0 KOMENTAR
Pemimpin Redaksi Blockchainmedia.id, tertarik tentang teknologi komputer sejak duduk di bangku SMP, menulis artikel tentang teknologi blockchain dan bitcoin di media massa sejak 2014. Pada tahun 2015 bergabung sebagai anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) hingga sekarang. Sebelumnya di KabarMedan.com sebagai Managing Editor, Kontributor MetroTV dan Redaktur di Harian Global, Medan. Tahun 2001-2016 sebagai penulis lepas untuk Tabloid Komputer PCplus dan Majalah Info Komputer (Kelompok Kompas-Gramedia).
Turunnya harga Bitcoin secara drastis selama sepekan terakhir, ditanggapi biasa oleh Bos Indodax, Oscar Darmawan. Menurutnya harga bitcoin yang naik turun adalah wajar.
Dalam waktu kurang dari enam hari, per 25 November 2019, Harga bitcoin turun dari US$8.239 menjadi US$6.510 pada titik terendah dalam sepekan. Kendati turun tajam, kemungkinan tren akan berbalik arah.
Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II), Elvyn G Masassya mengatakan akan memakai teknologi blockchain untuk manajemen data digital. Menurutnya, pemanfaatan teknologi blockchain kini semakin masif dan berkembang ke berbagai di sektor pelabuhan, seperti di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) dan Marseille-Fos Port di Prancis.
Christopher menegaskan, penurunan ini terbilang drastis jika dilihat dari perspektif harian. Namun ini belum apa-apa jika dilihat melalui perspektif mingguan, di mana saat ini saya melihat Bitcoin berpeluang untuk menurun ke kisaran level US$6.400 yang merupakan level kunci harga saat ini.
Langkah Bank Central Asia (BCA) yang hendak menerapkan teknologi blockchain, dipertanyakan oleh Dimaz Ankaa Wijaya, peneliti blockchain dari Universitas Monash, Australia.
Beda peneliti, beda metodologi, beda pula hasilnya penelitiannya. Efek penambangan Bitcoin terhadap lingkungan telah lama menjadi bahan perdebatan. Tetapi sebuah studi terbaru menunjukkan kekhawatiran seperti itu mungkin berlebihan. Ini berarti dampak lingkungan akibat penambangan Bitcoin tak separah yang dibayangkan sebelumnya.
Vexanium (PT Wujudkan Mimpi Indonesia) menggelar sayembara pembuatan Decentralized App (dApp) di atas jaringan blockchain Vexanium. Berlangsung 13 November-31 Desember 2019, total hadiah yang direbut mencapai 2.000.000 VEX (US$89.714.428, @Rp44,86) per 19 November 2019. Berikut wawancara Blockchainmedia.id dengan Danny Baskara, Pendiri dan CEO Vexanium, Selasa (19/11/2019) melalui Telegram.
"Dalam konteks Bitcoin saya melihat derivative market membawa dampak buruk. Tidak ada efek hedging pada derivative market Bitcoin, sebab secara komersil tidak ada yang menggunakan Bitcoin untuk operasional perusahaan, misalnya. Ini berbeda dengan derivative market untuk emas ataupun minyak," jelas Christopher.
CEO bursa kripto Triv Pro, Gabriel Rey menyebutkan, bahwa jumlah unit Bitcoin kini menjadi "tak terbatas" sebagai akibat dari semakin maraknya pasar turunan (derivative market), seperti produk kontrak berjangka (futures contract) dan options yang bernilai Bitcoin.
Semakin banyak perusahaan yang memudahkan kita menyimpan data di blockchain. Salah satunya adalah LuxTag di Malaysia melalui produknya, Papyrus. Aplikasi berbasis web (web-based app) ini memudahkan kita menyimpan bukti kepemilikan objek digital apa saja di blockchain NEM.