Ini Dampak Nyata Hard Fork Constantinople Terhadap Penambang Ether

Pada 6 Desember 2018, tim pengembang Ethereum memutuskan melaksanakan hard fork Constantinople. Langkah pembaruan tersebut akan diberlakukan pada blok 7.080.000, yang diperkirakan terjadi di 16 Januari 2019. Akibat dari forking ini adalah imbalan (reward) blok akan berkurang dari 3 ETH menjadi 2 ETH per blok. Bagaimana dampaknya terhadap para penambang?

Constantinople akan menerapkan lima Proposal Perbaikan Ethereum (Ethereum Improvement Proposal/EIP). Salah satunya adalah EIP 1234 yang berisi perubahan imbalan blok. Saat ini, ketika sebuah blok berhasil ditambang di blockchain Ethereum, penambang mendapat 3 ETH sebagai imbalan. Setelah Constantinople, para penambang akan menerima 2 ETH per blok sebagai imbalan, atau berkurang sebanyak 33 persen.

Hal ini bukan pertama kali imbalan Ethereum diubah. Pada akhir 2017, hard fork Byzantium mengubah imbalan blok dari 5 ETH menjadi 3 ETH. Berbeda dari Bitcoin, Ethereum tidak memiliki batas suplai ETH yang beredar. Tetapi, pengurangan imbalan blok merupakan usaha untuk mengurangi inflasi dengan cara mengurangi suplai baru ETH.

Suplai ETH saat ini bertambah sebanyak 20.300 ETH per hari. Setelah hard fork Constantinople, emisi ETH akan berkurang menjadi 13.400 ETH per hari, atau dari 7,4 juta ETH per tahun menjadi 4,9 ETH per tahun. Laju inflasi ETH akan turun dari 7,7 persen menjadi 4,8 persen. Seiring emisi dan suplai ETH mulai stabil, batas suplai ETH akan bergantung kepada permintaan pasar.

Muncul pertanyaan apakah penambang akan tetap bertahan jika menerima imbalan yang berkurang? Penambang kripto pada umumnya bersifat agnostik terhadap blockchain. Maksudnya, mereka akan memberikan sumber daya mereka kepada blockchain dengan cuan paling banyak, di mana ada selisih besar antara biaya energi yang dikeluarkan dan imbalan yang didapat.

Kendati demikian, perilaku penambang tidak semudah itu diprediksi. Ada bermacam-macam faktor yang mempengaruhi perilaku penambang. Dua yang paling utama adalah harga listrik serta tingkat kesulitan penambangan ETH dan harganya.

Harga listrik menjadi indikator utama perilaku penambang. Menggunakan harga ETH saat ini, ambang batas harga listrik yang masih menguntungkan adalah US$0,13 KwH. Penambang yang berdomisili di negara dengan biaya listrik lebih murah dari ambang batas tersebut masih cuan. Penambang berskala besar biasanya mendapat listrik dengan harga lebih murah, sehingga masih bisa cuan walau harga listrik normal di negaranya lebih mahal.

Pada November 2018, dikabarkan penambangan memakai kartu grafis (GPU) tidak lagi menguntungkan. Penurunan harga kripto di akhir tahun 2018 memaksa banyak penambang gulung tikar. Jaringan blockchain Ethereum otomatis merespon hashrate yang turun dengan menurunkan tingkat kesulitan. Para penambang yang masih bertahan mendapat cuan lebih tinggi dari kesulitan yang menurun, dan penambang yang sebelumnya berhenti mungkin akan mengambil peluang dan kembali menambang.

Kesimpulannya adalah faktor utama yang mempengaruhi perilaku penambang di jaringan Ethereum bukanlah jumlah imbalan ETH per blok, melainkan harga listrik dan harga ETH di pasar. Penurunan imbalan blok ETH akan menyebabkan penurunan laju inflasi. Jika penurunan laju inflasi ETH berdampak positif terhadap pasar, diperkirakan penambang akan kembali menambang ETH.

Hard fork Constantinople dan EIP 1234 khususnya adalah pengembangan menarik bagi Ethereum. Penurunan imbalan per blok di Byzantium terjadi di masa di mana blockchain dan kripto masih istilah yang asing. Kini, industri blockchain dan kripto berkembang menjadi fenomena global, sehingga Constantinople berpotensi menjadi sebuah tonggak bersejarah di perjalanan pengembangan Ethereum. [media.consensys.net/ed]

 

Terkini

Warta Korporat

Terkait