Investor Crypto Australia Disarankan Tak Pakai Crypto Exchange Luar Negeri Pasca Runtuhnya FTX

Sebagai buntut bangkrutnya bursa FTX, investor crypto di Australia disarankan tak menyimpan aset di crypto exchange di luar negeri Kangguru itu. Demikian Financial Review mengutip pernyataan dari salah satu pendiri dan Chief Strategy Officer (CSO) Chainalysis, Jonathan Levin.

Menurut Levin, pemain kripto domestik memiliki lisensi dan masuk dalam kendali pemerintahan setempat, sehingga ada regulasi yang baik untuk industri kripto tersebut.

“Meskipun itu mungkin membatasi pilihan dalam beberapa hal, saya pikir itu ide yang bagus bagi orang untuk melihat pemain domestik dan memahami siapa mereka dan apa yang bisa mereka harapkan,” terang Levin, dikutip dari New York City, belum lama ini.

Investor di seluruh dunia, termasuk ribuan warga Australia, menuntut uang mereka kembali setelah pengungkapan bahwa pendiri dan mantan bos FTX secara diam-diam menggunakan dana klien untuk Alameda Research. Skandal ini telah berlangsung dengan cara yang tidak terdeteksi oleh investor, karyawan, dan auditor dalam prosesnya, menurut sebuah sumber.

IKLAN

Hampir 30.000 warga Australia berharap untuk mendapatkan uang mereka kembali melalui proses kebangkrutan FTX Australia lokal, tetapi sangat mungkin nasibnya akan serupa dengan sekitar 1 juta kreditur tanpa jaminan dari FTX.

Levin mengatakan, krisis FTX telah mempertajam pemahaman investor dan pelanggan tentang bagaimana aset yang disalahpahami seperti cryptocurrency dapat dimanipulasi oleh mereka yang memiliki niat jahat.

“Apa yang kita bicarakan di sini adalah penipuan finansial, pertama dan terutama,” ujarnya seraya menimpali keruntuhan FTX yang telah memicu penjualan aset crypto di seluruh dunia dan membuat integritas industri kripto diragukan.

Tetapi Levin tidak memberi tanggapan perihal penyelidikan Chainalysis atas FTX dalam pelacakan US$600 juta cryptocurrency yang terkuras dari akun FTX pada hari yang sama ketika perusahaan dinyatakan bangkrut hampir tiga minggu lalu.

IKLAN

Patut diketahui, Chainalysis juga adalah kreditur dalam proses kepailitan, karena FTX telah menjadi salah satu klien di bursa kripto tersebut.

Regulasi Kripto Akan Segera Datang

Levin menambahkan, seluruh pemangku kepentingan masih mendalami kasus FTX dan Alameda. Terutama dalam tahap mencari tahu persis apa yang terjadi dan pelajaran yang bisa ditarik, seperti akan segera hadirnya regulasi khusus untuk industri ini.

“Kripto telah melampaui transaksi yang sangat sederhana di mana satu orang memiliki uang atau orang lain memiliki uang. Kita telah pindah ke dunia di mana ada rangkaian transaksi yang lebih rumit berkat kontrak pintar. Akan segera ada pengawasan komprehensif tentang bagaimana teknologi ini digunakan,” ucapnya.

Menurut perusahaan analisis itu, skandal Mt.Gox menyumbang proporsi yang jauh lebih besar dari dana pelanggan yang hilang dibandingkan FTX

Dia menjelaskan, kasus Mt.Gox membukukan sekitar 10,9 persen dari total aliran masuk crypto dalam 12 bulan sebelum keruntuhannya, dibandingkan 4,7 persen untuk FTX.

Levin berpendapat, keruntuhan FTX tidak akan berdampak pada pertumbuhan tokenisasi atau pengembangan bisnis berbasis blockchain.

“Alasan mengapa orang terlibat dalam crypto tahun ini tidak ada hubungannya dengan spekulasi. Melainkan dengan NFT atau game atau musik atau sesuatu yang sama sekali berbeda,” pungkasnya. [ab]

spot_img
spot_img

Terkini

Terkait