JPMorgan mengatakan bahwa perusahaan lain jangan serta merta meniru langkah Tesla untuk membeli Bitcoin. Mengapa?

“Masalah utama atas ide perusahaan besar akan meniru Tesla adalah volatilitas Bitcoin,” kata Nikolaos Panigirtzoglou Analis dari JPMorgan, dilansir dari Bloomberg (10/2/2021). Sebagai catatan, perusahaan JPMorgan adalah salah satu pemegang saham di Tesla.

Tesla mengungkapkan pada Senin (8/2/2021) bahwa pihaknya telah membeli Bitcoin senilai US$1,5 milyar (Rp21 triliun). Bahkan Tesla berencana menerima pembayaran menggunakan aset kripto itu untuk sejumlah produknya.

Pengumuman itu langsung mengantarkan harga Bitcoin ke puncak baru, lebih dari US$48.000 pada Selasa kemarin.

Para pengamat sekarang justru memperdebatkan apakah langkah langkah besar oleh perusahaan besar semacam Tesla sepatutnya ditiru oleh perusahaan lain?

BERITA TERKAIT  Bank TTM Luncurkan Kartu Kripto Global

Menurut JPMorgan, jikalau perusahaan besar ingin membeli Bitcoin seperti Tesla, maka harus menghadapi volatilitas keuangannya.

JPMorgan: Harga Bitcoin Bisa Rp2 Milyar per BTC

Portofolio treasury perusahaan biasanya berupa deposito bank, dana pasar uang dan obligasi jangka pendek, yang berarti bahwa volatilitas tahunan sekitar 1 persen. Jika perusahaan menambahkan Bitcoin sebagai portofolionya sebesar 1 persen, ini akan menyebabkan peningkatan besar dalam volatilitas pada keseluruhan portofolio mereka. Alokasi semacam itu dapat berarti volatilitas portofolio naik menjadi 8 persen, karena volatilitas tahunan Bitcoin sebesar adalah 80 persen,” sebut JPMorgan.

Volatilitas harga Bitcoin sebenarnya menurun drastis sejak tahun 2018, karena perdagangan Bitcoin tak hanya mengandalkan dari pihak retail, melainkan dari pembeli besar berskala perusahaan.

BERITA TERKAIT  Tak Terbendung! Bitcoin Sudah Rp334 Juta per BTC

Selain itu pasarnya bukan kian beragam dan banyak, mulai dari spot market, derivatif, hingga berbentuk trust.

Pembeli Bitcoin dari kalangan perusahaan yang tidak berspekulasi dan berpandangan jangka pangjang, justru dianggap sebagai penekan volatilitasnya. Namun, kesehatan keuangan perusahaan juga harus diperhatikan dan memerlukan alokasi Bitcoin yang mencukupi.

Terlepas dari potensi risiko nilai yang digambarkan oleh JPMorgan, tetap saja pasar menyambut positif langkah Tesla itu.

Sebelumnya, Pendiri Galaxy Digital, Michael Novogratz memprediksi harga Bitcoin akan lebih dari dua kali lipat, menjadi US$100 ribu (Rp1,3 milyar) pada tahun ini, karena semakin banyak perusahaan di AS akan membeli Bitcoin seperti Tesla. [red]

Protected with blockchain timestamps

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO