Kelemahan dan Kelebihan Konsensus Blockchain

Dimaz Ankaa Wijaya
Peneliti pada Blockchain Research Joint Lab Universitas Monash, Australia


Bitcoin dan berbagai jenis mata uang kripto lain mengklasifikasikan diri mereka sebagai produk yang menggunakan teknologi blockchain, di mana teknologi ini dipasarkan sebagai solusi anti kemapanan yang menghilangkan pengendali sentral dalam menjalankan sistemnya. Pengendali sentral, bagi mereka para pecinta teknologi blockchain, sewaktu-waktu dapat melakukan apapun yang mereka kehendaki, termasuk merugikan para pengguna.

Film seri yang sedang booming saat ini, Tom Clancy: Jack Ryan, menggambarkan bagaimana mudahnya pihak penguasa memblokir akun rekening bank hanya dengan perintah melalui surat elektronik dari seorang pegawai sebuah lembaga negara. Meskipun tentu saja alasan di balik keluarnya perintah ini adalah untuk mencegah aksi terorisme, namun siapapun yang memiliki kekuasaan sebesar ini suatu saat dapat menggunakan kuasanya untuk kepentingan pribadi.

Demi hilangnya satu pihak yang secara mutlak memiliki kontrol terhadap sistem (terutama sistem keuangan), mekanisme konsensus yang melibatkan lebih dari satu pihak diterapkan dalam teknologi blockchain yang diterapkan dalam mata uang kripto. Satoshi Nakamoto, sang pembuat Bitcoin menempatkan metode Proof-of-Work (PoW) dalam sistem ciptaannya, yang sedekade kemudian masih digunakan.

Metode PoW amat sederhana, mudah dipahami dan diterapkan ke dalam sistem. Mekanisme PoW dalam Bitcoin mempersilakan pihak-pihak tanpa identitas (anonim) untuk berpartisipasi menentukan jalannya mata uang kripto. Hanya ada satu syarat agar PoW dapat lestari, yakni tidak ada seorang pun yang menjadi dominan dalam konsensus.

Kritik terhadap PoW pun bermunculan. Mereka yang menjual isu pemanasan global berargumen bahwa PoW amatlah tidak efisien, mengganggu kelestarian lingkungan, serta berboros-boros menggunakan energi. Sementara di belahan lain dunia masih banyak orang yang kesulitan mendapatkan akses listrik.

Maka muncullah metode konsensus tandingannya, yakni Proof-of-Stake (PoS) yang dicetuskan oleh Sunny King beberapa tahun silam, melalui mata uang kripto Peercoin besutannya. PoS dianggap lebih hemat energi, memiliki tingkat keamanan setara dengan PoW, namun dengan konsumsi energi yang amat kecil jika dibandingkan dengan PoW. Meskipun menjanjikan, PoS juga bukan tanpa cela, berbagai kondisi harus dipenuhi agar PoS dapat menjadi metode konsensus yang efisien, salah satunya distribusi koin yang harus merata. Persoalan besar akan terjadi saat pemilik sistem berusaha mempertahankan jumlah koin miliknya demi potensi keuntungan yang lebih besar di masa mendatang. Selain itu, penggunaan PoS juga memicu hilangnya insentif pengguna untuk bertransaksi dengan menggunakan koin berbasis PoS.

Kedua konsensus yang dijabarkan di atas, PoW dan PoS, memberikan keuntungan bagi para penggunanya atas kompetisi yang dijalankan oleh para pelaku konsensus (penambang dalam PoW dan staker dalam PoS), di mana mereka akan diberi insentif untuk tetap menjalankan konsensus tanpa berbuat curang. Ketiadaan pihak dominan membuat semua peserta konsensus berlomba-lomba mengikuti aturan yang pada akhirnya membuat sistem berjalan tanpa cela.

Konsensus, seperti halnya mekanisme pengambilan suara pada setiap keputusan, memerlukan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit. Hal ini dibuktikan oleh PoW dengan konsumsi energi yang besar, dan PoS dengan komitmen koin yang tidak kecil sehingga mempengaruhi proses bisnis mata uang kripto tersebut. Algoritma konsensus yang lain seperti Practical Byzantine Fault Tolerant (PBFT) dan turunannya, mengorbankan jumlah komunikasi yang harus dijalin antar peserta konsensus setiap kali sistem tersebut mengonfirmasi transaksi baru.

Dengan kata lain, konsensus ikut “mengunci” mata uang kripto sedemikian rupa, sehingga tidak mampu mencapai skala operasi yang dapat dibandingkan dengan sistem internasional yang menjadi benchmark saat ini, Visa dan Mastercard, yang tentu saja menganut paham sentralisasi tradisional.

Bukan tidak mungkin, produk mata uang kripto di masa depan mengadopsi paham sentralisasi dan meninggalkan metode konsensus demi meningkatkan kapasitas sistem. Definisi blockchain memang sangat luas, sehingga barangkali saat bank-bank sentral dunia mengadopsi teknologi blockchain, sentralisasi akan diadopsi dengan sempurna dalam mata uang virtual modern mereka. []

 

Terkini

Warta Korporat

Terkait