Mata uang digital dianggap penting bagi keutuhan ekonomi Rusia. Hal itu disampaikan oleh Gubernur Bank Sentral Rusia, Elvira Nabiullina.

Saat ekonomi bergerak daring (online), mata uang digital akan menjadi masa depan sistem keuangan, menurut Elvira kepada CNBC, Rabu (2/6/2021).

Menurutnya lagi, ada kebutuhan akan sistem pembayaran yang cepat dan murah, dan mata uang digital bank sentral (CBDC) dapat mengisi celah itu.

“Saya kira ini masa depan sistem keuangan kita, karena terkait dengan perkembangan ekonomi digital,” ujarnya.

Elvira Nabiullina Gubernur Bank Sentral Rusia. Foto: Wikipedia.

Pada Oktober 2020 Rusia menerbitkan mekanisme konsultasi publik terkait rubet digital sebagai bentuk baru uang Rusia.

Di dalamnya juga termaktub sejumlah konsep dasar teknologinya yang diperkirakan rampung pada akhir tahun 2021 ini.

Sementara itu ujicoba rubel digital Rusia akan dimulai pada tahun depan, papar Elvira.

Amerika Serikat Membidik

Perkembangan rubel digital oleh Bank Sentral Rusia membuat Amerika Serikat terus membidiknya. Maklumlah, karena Rusia mendapatkan banyak sanksi dari Negeri Paman Sam itu.

“Yang membuat saya khawatir adalah jika Rusia, Tiongkok dan Iran masing-masing berhasil mengembangkan mata uang digital mereka dan beroperasi di luar dolar AS dan negara-negara lain mengikuti jejak mereka,” kata Michael Greenwald, mantan pejabat Departemen Keuangan AS.

Namun demikian, Elvira tak menampik adanya tantangan di langkah penerbitan rubel digital itu.

“Kami akan melangkah selangkah demi selangkah, karena proyek ini  sangat sulit, mulai dari soal teknologi dan kerangka hukumnya,” kata Elvira.

Pernyataan itu terkait dengan tantangan dari industri perbankan di Rusia pada tahun lalu, ketika rancangan rubel digital diterbitkan.

Menurut mereka rubel digital berpotensi menggerus bisnis mereka, karena bank sentral bisa langsung mengedarkan rubel kepada nasabah, tanpa melalui bank komersial biasa.

Hal yang sama terjadi terkait penerbitan dan ujicoba yuan digital di Tiongkok.

Banyak bank sentral di seluruh dunia sedang mengembangkan mata uang digitalnya masing-masing, termasuk Bank Indonesia.

Efisien Tapi Banyak Tantangan

CBDC, oleh para pendukungnya, memungkinkan transaksi keuangan menjadi lebih inklusif, terlebih-lebih ruang lingkupnya bisa lintas negara, khususnya bagai mata uang negara yang bernilai tinggi, seperti yen, dolar AS dan euro.

Bank Sentral AS sendiri hingga saat ini tidak merasa perlu cepat-cepat menerbitkan dolar digital, walaupun rancangan awalnya akan digelar pada tahun ini juga, bekerjasama dengan MIT.

Namun Elvira memprediksi, walaupun terbilang efisien, CBDC di awal-awal pergerakannya mungkin tidak seluwes yang dibayangkan.

“Jika setiap bank membuat sistemnya sendiri, sistem teknologi dengan standar lokal, akan sangat sulit untuk membuat beberapa interkoneksi antara sistem ini untuk memfasilitasi semua pembayaran lintas negara,” katanya.

Apa Itu CBDC?

Mata uang digital bank sentral atau central bank digital currency (CBDC) adalah bentuk baru dari uang yang diterbitkan oleh negara lewat bank sentral mereka masing-masing.

Berwujud digital, dengan sejumlah model, distribusi CBDC sangat memungkinkan dilakukan secara langsung kepada nasabah, tanpa melalui bank komersial.

Ia berbeda juga dengan konsep uang elektronik yang dirancang dan didistribusikan oleh perusahaan swasta di bidang fintech.

Rusia
Prinsip dasar CBDC.

Nilai Rubel digital misalnya kelak tetap sama dengan nilai rubel saat ini yang berbentuk fisik dan berbentuk elektronik.

Dalam beberapa aspek, misalnya terkait teknologi, CBDC cukup berbeda dengan teknologi blockchain yang melahirkan mata uang kripto (cryptocurrency), seperti Bitcoin (BTC) dan lain sebagainya.

Teknologi CBDC bisa saja menggunakan mirip dengan blockchain biasa, yakni Digital Ledger Technology (DLT) yang lebih berkarakter sentralistik.

Kripto dan Rusia

Soal penggunaan mata uang kripto di Rusia, pihak berwenang tidak melarang kepemilikan oleh warga termasuk perdagangannya.

Hanya saja yang sangat dilarang adalah penggunaan mata uang kripto untuk pembayaran barang dan jasa.

Rusia juga tak melarang aktivitas tambang Bitcoin dan jenis aset kripto lainnya, asalkan tidak mencuri listrik.

Berdasarkan data dari Cambridge, Rusia masuk peringkat ke-3 dunia untuk urusan tambang Bitcoin, sebesar 6,90 persen secara global.

Di peringkat pertama adalah Tiongkok (65 persen) dan Amerika Serikat (7 persen) di peringkat ke-2. [red]

Protected with blockchain timestamps

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO