Melacak Jejak Petro, Kripto Nasional Venezuela

61

Petro mungkin sudah tidak asing bagi pegiat kripto yang sering “blusukan” di dunia blockchain. Kripto besutan Presiden Venezuela Nicolas Maduro tersebut menarik banyak perhatian, sebab menjadi kripto nasional pertama yang resmi diterbitkan suatu negara. Tetapi Petro dikelilingi oleh kontroversi yang tak kalah menarik, dari soal keberadaan cadangan minyak dan emas yang menjadi jaminan Petro, hingga persoalan teknologi blockchain Petro yang gonta-ganti.

Pada Februari 2018, Petro memasuki tahap pre-sale (pra-penjualan). CCN melansir, pada saat itu Petro disebut sebagai token ERC-20 yang menggunakan blockchain Ethereum. Terbaca pada whitepaper Petro bahwa, “Pre-sale akan mulai pada tanggal 20 Februari 2018, dan akan terdiri dari pembuatan dan penjualan token ERC-20 pada platform Ethereum. Proses ini akan mempromosikan dan menjamin permintaan terhadap Initial Offer Petro, yang akan ditentukan di kemudian hari.”

Namun, situs web resmi Petro memberikan panduan pembelian, yang menjelaskan bagaimana pengguna dapat membuat wallet untuk menyimpan Petro mereka. Panduan itu menjelaskan bahwa Petro akan bekerja di blockchain NEM, dan menambahkan bahwa komponen wallet dan pemrograman akan terkait dengan platform NEM tersebut.

Ethereum dan NEM adalah dua blockchain yang berbeda, dan memiliki kriptonya masing-masing. Ethereum menggunakan algoritma konsensus Proof of Work dan memakai kripto ETH, sedangkan NEM menggunakan algoritma Proof of Importance dan memakai kripto XEM.

Ada kemungkinan Petro awalnya akan dibangun di atas blockchain NEM, kemudian diganti menjadi token ERC-20 setelah penjualan token mencapai tahap akhir atau usai. Menanggapi hal tersebut, Dimaz Ankaa Wijaya, peneliti blockchain dari Monash University, berkata hal itu merupakan pilihan.

“Kalau sudah meggunakan ERC-20 biasanya pilihannya ada dua, tetap di ERC-20 atau membuat blockchain sendiri. Sedangkan beralih dari ERC-20 ke NEM sepertinya akan berbiaya mahal,” jelas Dimaz.

Terlepas dari konflik pernyataan antara whitepaper dan panduan pembelian Petro, sebuah akun Twitter yang mengklaim sebagai kanal resmi Biro Pers Presiden Venezuela mengutip Presiden Maduro dan mengatakan, “Kami telah menandatangani kerjasama agar Petro beredar pada dua platform paling canggih di dunia. Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan Zeus dan NEM.”

Menanggapi klaim tersebut, akun Twitter resmi NEM membalas dengan menyatakan, “Teknologi NEM terbuka secara bebas bagi individu atau organisasi manapun yang ingin menggunakannya. Yayasan NEM tidak terlibat pengesahan politik apapun. Kami dapat mengkonfirmasi bahwa pemerintah Venezuela berencana menggunakan blockchain NEM.”

Demikian halnya Muhammad Yafi, Head of NEM Indonesia kepada BlockchainMedia, memastikan bahwa bahwa Petro tidak memakai blockchain NEM.

Selain sebagai token ERC-20, whitepaper Petro menyatakan token tersebut akan memiliki ticker PTR. Setiap PTR bisa dibagi menjadi 100 juta bagian, di mana bagian terkecilnya bernilai 0,00000001 PTR dan disebut “mene”. Sifat PTR sebagai token ERC-20 berarti token ini bisa jadi akan diperdagangkan di bursa desentralistik seperti EtherDelta atau IDEX.

Penelusuran BlockchainMedia menemukan ada setidaknya dua token ERC-20 yang mengklaim sebagai Petro. Token dengan alamat kontrak 0x3341b14ea28a4627cd807d704fbb85ff51239775, yang memiliki suplai 100 juta PTR, tetapi dipegang oleh hanya 5 alamat wallet. Kedua wallet terbesar menguasai hampir keseluruhan suplai tersebut, di mana wallet terbesar menyimpan 62 persen dan wallet kedua terbesar menyimpan 37 persen. Hanya ada 8 transaksi token ini, dimana transaksi terbaru terjadi 258 hari yang lalu, pada tanggal yang mendekati tanggal pre-sale Petro.

Selain itu, token dengan alamat kontrak 0xec18f898b4076a3e18f1089d33376cc380bde61d memiliki suplai 3.680.772 Petro. Token ini dipegang oleh 49 alamat wallet dengan distribusi yang lebih merata dibanding token pertama. Transaksi terbaru terjadi 205 hari lalu.

Pada block explorer NEM, terdapat juga mosaic (aset digital) bernama petro.ico, petro.presale dan petro.presale_transfer. Mosaic-mosaic ini diciptakan pada waktu yang bertepatan dengan pre-sale Petro oleh pemerintah Venezuela. Tidak dapat dipastikan apakah mosaic NEM ini atau salah satu token ERC-20 tersebut merupakan Petro yang resmi dirilis pemerintah.

Motherboard Vice melansir, Petro dirilis pada tahap pre-sale menggunakan teknologi yang berbeda dari yang tercantum di whitepaper. Perubahan ini tidak disertai dengan sosialisasi yang luas oleh pemerintah Venezuela. Whitepaper Petro menyatakan token PTR akan dibuat sebagai smart contract pada jaringan Ethereum, tetapi kemudian hari dirilis sebagai aset pada blockchain NEM. Hal ini membuka pintu bagi para penipu menciptakan token Petro mereka sendiri dan meraup cuan atas kebingungan yang terjadi.

Terbaru, pada awal Oktober Cripto Noticias melaporkan bahwa Petro kini menggunakan X11 sebagai algoritma konsensusnya, sama seperti yang digunakan oleh kripto Dash. Perihal karakteristik teknis dari operasional Petro, blockchain Petro akan menggunakan gabungan mekanisme konsensus antara Proof of Work (PoW) dan Proof of Stake (PoS) serta memiliki ukuran blok 4 MB yang dihasilkan setiap 60 detik per blok.

Konfirmasi transaksi Petro dilakukan setelah 10 blok, dan kripto ini akan memiliki fitur InstanSend yang menjamin transfer transaksi secara instan. Dari segi Proof of Stake, biaya transaksi akan dibagi sebesar 85 persen kepada masternode dan sebesar 15 persen kepada pengguna.

Dimaz mengonfirmasi Petro akan pakai algoritma X11, kombinasi antar PoW dan PoS. Berdasarkan penyelidikan dari data JSON (JavaScript Object Notation), ia mengatakan Petro serupa dengan proyek Electra yang juga menggabungkan kedua mekanisme konsensus tersebut.

Selain kontroversi tentang teknologi Petro, muncul kontroversi lebih besar soal kegunaannya. Initial Coin Offering Petro hanya bisa dibeli menggunakan dolar, euro, Bitcoin, ETH dan XEM. Tetapi pada saat yang sama pemerintah Venezuela melarang beredarnya mata uang asing. Selain itu, Petro hanya diperuntukkan bagi pembayaran pajak dan layanan publik di Venezuela. Hal ini menyebabkan paradoks dimana orang yang bisa membeli Petro tidak bisa menggunakannya, dan orang yang bisa menggunakan Petro tidak bisa membelinya. [ed]

Ikuti media sosial kami

Ingin Beriklan? Hubungi Kami