Kata Bung Dimaz

Meraba-raba perkembangan blockchain pada tahun 2019, apa sih yang ada di pikiran seorang pakar blockchain? Dimaz Ankaa Wijaya, peneliti pada Blockchain Research Joint Lab Universitas Monash, Australia punya jawaban yang mungkin bisa mencerahkan Anda. Berikut nukilan wawancara BlockchainMedia melalui Telegram siang tadi.
Di masa depan kita bakal melihat kawin silang antara teknologi blockchain yang aman dengan cloud computing yang efisien. Blockchain dirancang sedemikian sehingga masing-masing node akan melakukan penghitungan yang berbeda-beda dan mengirim hasilnya ke blockchain pusat yang dikelola oleh beberapa node saja.
Anarki Kripto milik Tim May telah mewanti-wanti adanya kebebasan yang kebablasan yang akan terjadi di masa depan (atau saat ini) yang menggunakan teknologi berbasis kriptologi dan akan memfasilitasi para begundal yang hendak melawan hukum.
Dengan kondisi yang ada sekarang ini, Ethereum masih amat sulit mendukung proposal feeless karena berbagai persoalan keamanan. Harapan sekarang ada pada Tron yang masih memberi kesempatan pada mereka yang membekukan transaksi untuk mendapatkan kesempatan mengeksekusi smart contract secara gratis, meskipun proyek besutan Justin Sun ini masih belum banyak mendapatkan panggung dalam segmen smart contract yang masih dikuasai Ethereum.
Cryptocurrency menawarkan hal yang berbeda. Keamanan uang dan bagaimana uang tersebut dikelola menjadi tanggungjawab Anda sendiri. Dalam hal ini, teknik kriptografi yang teruji secara matematis menjadi bantuan yang sangat bermanfaat dalam menghadapi tantangan keamanan yang saat ini menjadi bagian tak terpisahkan dengan industri keuangan.
Ketika uang fisik sirna dari muka bumi dan tergantikan dengan kode biner: satu dan nol, maka perpajakan juga dapat bertransformasi dari kantor-kantor fisik dan auditor berbiaya mahal menjadi kode-kode digital dengan toleransi kesalahan yang rendah. Di saat jenis transaksi ekonomi semakin didominasi oleh robot dan kecerdasan buatan, maka perpajakan juga harus merespon dengan Pajak Pintar. Blockchain menjadi salah satu alternatif solusi menarik untuk memastikan bahwa keuangan negara terjamin hingga seabad mendatang yang penuh dengan tantangan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ICO berkontribusi dalam gembosnya harga Bitcoin dan Ethereum. Miliaran dollar uang fiat yang disuntikkan seluruh manusia pecinta Bitcoin di muka bumi ke pasar Bitcoin dan Ethereum, yang kemudian dikumpulkan oleh para inisiator ICO pada akhirnya akan dijual kembali ke pasar mata uang kripto dan menarik uang fiat yang susah payah Anda semua kumpulkan. Pada akhirnya, ICO membuat suplai Bitcoin dan Ethereum di pasaran terlalu banyak dan membanting harga kembali ke bumi.
Apabila suatu pekerjaan sulit di Bitcoin menjadi sangat mudah di Ethereum, bayangkan betapa besar potensi smart contract ini apabila dikembangkan lebih lanjut. Hal ini juga dibuktikan dengan besarnya minat industri teknologi informasi terhadap smart contract: hampir semua ICO dilakukan dengan menggunakan platform Ethereum.
Beberapa hari yang lalu beredar berita, yang tautannya berasal dari laman resmi Presiden Republik Indonesia (RI) tentang bagaimana menghadapi Revolusi Industri 4.0. Sebagai anggota dari komunitas blockchain (dan mata uang kripto) di Indonesia, saya amat tertarik dengan pokok bahasan kedua dalam berita itu, yakni soal Noorcoin
Vitalik Buterin kerap dibanding-bandingkan dengan Satoshi Nakamoto, yang dipicu oleh kesuksesan Ethereum yang kini menguntit tepat di belakang Bitcoin di dalam daftar mata uang kripto paling bernilai di dunia. Tentu saja, ide tentang smart contract yang ditanam ke dalam mata uang kripto Ethereum membuat produk ini amat berjaya.