Sabtu, 23 Maret 2019

Kata Bung Dimaz

Dalam artikel-artikel sebelumnya telah dibahas tentang sistem Tron secara garis besar, begitu pula model konsensus voting perwakilan, delegated Proof-of-Stake (dPoS), yang ada dalam Tron, serta dua jenis token yang ada dalam Tron, di mana masing-masing memiliki keunggulan dan manfaat yang berbeda. Artikel kali ini membahas bagaimana sumber daya sistem Tron dapat dikelola dengan lebih baik. Pengelolaan sumber daya Tron yang baik tentu saja akan memberikan manfaat terbaik bagi pemilik token TRX maupun para pengguna Tron untuk berbagai keperluan.
Selepas meluncurkan jaringan utam (mainnet) sendiri dan meninggalkan platform ERC-20, Tron memang dikenal sebagai platform yang amat menyerupai Ethereum. Tidak hanya dari segi fasilitas smart contract yang sama-sama menggunakan Solidity, namun juga ketersediaan fitur token, membuat Tron seolah-olah menjadi Ethereum versi kedua. Namun tentu saja ada perbedaan di antara keduanya. Jika di dalam Ethereum dikenal standar token ERC-20, maka di dalam Tron dikenal dua jenis token, yakni TRC-10 dan TRC-20. Keduanya memiliki karakteristik yang cukup berbeda.
Kini Tron telah menjelma menjadi salah satu penantang serius Ethereum dalam “ring tinju” smart contract platform. Tron terus memberi kejutan dalam ekosistem mata uang kripto dengan berita-berita yang fenomenal dan mengguncang dunia.
Di masa depan, produk-produk mata uang kripto berkecepatan tinggi akan menggantikan produk-produk lama yang lambat dan inefisien, di mana tidak semua orang dapat berpartisipasi di dalam sistem, kecuali menjadi pengguna. Sementara pemilik rente (baik lama maupun baru) akan menjadi penguasanya.
Lightning Network (LN) kini menjadi idola baru di komunitas bitcoin. Tetapi jangan pernah terlena, karena LN bisa menjadi pedang bermata dua: memperkuat bitcoin sekaligus membunuh ekosistem bitcoin. Perlahan tapi pasti, LN akan menjadi masalah baru dalam bitcoin bila tidak ditangani dengan tepat. Atau mungkin kita harus mulai memindahkan kekayaan kita dari Bitcoin Core ke Bitcoin Cash?
Kesadaran akan perubahan iklim turut membawa angin perubahan dalam industri mata uang kripto. Kita mungkin akan melihat penggunaan PoS yang melampaui penggunaan PoW secara signifikan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Para miner yang telah berinvestasi besar pun akan dipaksa melakukan pivot menjadi staker agar tetap signifikan dalam meraup profit.
Solusi termudah yang tentu saja paling saya sarankan adalah menggandakan kunci. Seperti halnya ketika Anda kehilangan kunci mobil, Anda masih bisa mengakses mobil Anda manakala Anda pulang ke rumah dan mengambil kunci cadangan mobil Anda. Permasalahan pun hilang seketika. Potensi kehilangan kunci mobil tidak akan membuat Anda jera menikmati berkendara dalam mobil favorit Anda, bukan?
Di tengah kegalauan para pegiat jual-beli aset kripto yang kadang untung dan banyak kali menanggung rugi, Tron menyeruak. Lesatan harga yang jauh meninggalkan mata uang kripto tua macam Bitcoin dan Ethereum membuat banyak mata terbelalak. Justin Sun sedang menyinari pasar mata uang kripto.
Menengok manisnya tahun 2017 serta pahitnya tahun 2018, stakeholder mata uang kripto semestinya telah menjadi lebih dewasa. Untung besar tanpa kerja keras harusnya tetap jadi mimpi di siang bolong bagi kebanyakan orang. Regulator juga harus belajar merespon lebih cepat terhadap perkembangan teknologi baru yang mendisrupsi kemapanan, sebelum disrupsi tersebut membuat kerusakan lebih besar yang tidak diharapkan.
Meraba-raba perkembangan blockchain pada tahun 2019, apa sih yang ada di pikiran seorang pakar blockchain? Dimaz Ankaa Wijaya, peneliti pada Blockchain Research Joint Lab Universitas Monash, Australia punya jawaban yang mungkin bisa mencerahkan Anda. Berikut nukilan wawancara BlockchainMedia melalui Telegram siang tadi.