spot_img
spot_img

Menambang Emas Versus Bitcoin, Mana yang Lebih Boros?

Menurut laporan yang diterbitkan Long Hash, diperlukan biaya lebih dari US$87,3 milyar untuk menambang emas. Sedangkan untuk menambang Bitcoin hanya perlu biaya kurang dari US$4,3 milyar, seperti dilansir CCN.com, Jumat, (14/09).

Pada dasarnya, penambangan emas membutuhkan 20 kali lebih banyak energi dan biaya dibandingkan dengan menambang Bitcoin. Kendati demikian, di saat harga Bitcoin melambung tinggi di awal tahun 2017, beredar pemberitaan bahwa Bitcoin memiliki dampak yang negatif terhadap lingkungan.

Saat ini, total kapitalisasi pasar kripto sekitar US$200 milyar, sedangkan nilai kapitalisasi pasar emas diperkirakan sekitar US$8 trilyun. Karena perbedaan valuasi di antara kedua pasar tersebut, para analis bisa saja mengklaim bahwa biaya energi yang tinggi untuk menambang emas masuk akal.

Namun, klaim itu menganggap bahwa satu-satunya tujuan menambang Bitcoin adalah untuk menambah suplai kripto tersebut, demi memastikan ketersediaan yang cukup untuk memenuhi permintaan yang meningkat.

Dalam Bitcoin dan kripto lain yang menggunakan proof-of-work, selain menambah jumlah suplai koin, menambang juga digunakan untuk memverifikasi dan menyelesaikan transaksi pembayaran. Artinya, jikalau menambang kripto dibandingkan dengan penambangan emas, lebih akurat untuk membandingkan biaya menambang Bitcoin dengan biaya penambangan serta biaya kirim emas.

Selain London Bullion Market (LBMA), pasar over-the-counter grosir terbesar untuk perdagangan emas dan perak, serta rekan kliringnya HSBC, ICBC Standard Bank, JPMorgan, Scotiabank dan UBS, ada banyak perusahaan kliring dan broker emas yang mengurus pengiriman emas sebagai nilai simpan (store of value) yang tradisional.

Oleh karena itu, jika biaya energi untuk menambang emas dan biaya kliring serta kirim emas secara fisik ke pasar luar negeri digabungkan, perbandingan antara energi yang dibutuhkan Bitcoin dengan energi yang dibutuhkan emas sangat jauh berbeda.

Argumen terhadap penggunaan energi Bitcoin juga tidak memperhitungkan laju adopsi penggunaan sumber energi terbarukan. Di beberapa wilayah seperti Chili dan barat daya Tiongkok, suplai energi bersih atau terbarukan sangat berlimpah, sehingga listrik diberikan gratis kepada rakyat termasuk perusahaan-perusahaan.

Memang pusat-pusat penambangan Bitcoin saat ini mengandalkan energi tidak terbarukan karena harganya yang lebih murah. Tetapi, permasalahan biaya energi Bitcoin tidak hanya berlaku untuk kripto paling dominan ini. Masalah yang sama juga melanda emas, perak, uang fiat dan bentuk uang lainnya yang tersedia saat ini.

John Lilic, anggota ConsensSys, organisasi pengembang blockchain Ethereum, mengatakan biaya setiap unit transaksi kripto lebih tinggi dibanding biaya perbankan dan sistem tradisional. Tetapi, seiring industri kripto yang semakin dewasa dan mengoptimalkan sistem energinya, konsumsi energi kripto tidak akan menjadi masalah lagi, terutama ketika membahas Ethereum.

“Pertanyaan sesungguhnya adalah apakah biaya kripto yang tidak efisien seimbang dengan manfaat kepemilikan dan kendali atas aset. Jawaban saya adalah iya. Hal itu seimbang hanya jika industri kita mengutamakan dan melanjutkan penggunaan energi yang efisien, seperti yang terjadi pada sistem Proof of Stake,” kata Lilic. [ed]

spot_img

Terkini

spot_img
spot_img
spot_img

Terkait