Miliarder Tiongkok: Beli Bitcoin Saat Banyak Yang Tak Peduli

Zhao Dong, trader Bitcoin over-the-counter yang tenar di Tiongkok mengatakan, saat ini adalah waktu yang bagus untuk membeli Bitcoin karena “tidak ada yang peduli.” Pernyataan Dong mengenai Bitcoin tersebut ditulis dalam sebuah grup WeChat, platform media sosial yang sangat popular dan banyak digunakan di Tiongkok.

“Orang-orang yang sedang memerhatikan Bitcoin jelas lebih sedikit sekarang dibanding jumlah investor yang tertarik saat bull market, dan akibatnya harga Bitcoin menjadi rendah,” kata miliarder tersebut pada 11 Februari lalu.

Pada November 2018, melalui platform media sosial Weibo, Dong memprakirakan, harga Bitcoin akan melambung hingga US$50 ribu pada tahun 2021. Ia menambahkan, saat ini adalah waktunya untuk mengakumulasi dan menyimpan sebanyak mungkin Bitcoin selagi tidak banyak yang peduli.

Ketika ditanya soal beragam tren dan perkembangan di industri kripto, Dong berpendapat masa-masa lesu masih akan terus berlanjut, dan baru akan mulai pulih pada tahun 2020. Bull market berikutnya tidak akan tiba sebelum tahun 2021.

Seperti Dong, Tim Draper, seorang investor kripto dan pemodal ventura, juga berpandangan bullish terhadap Bitcoin. Pada tahun 2018, Draper memrediksi harga Bitcoin akan meroket ke US$250 ribu pada 2022.

Komentar Draper tersebut disampaikan dalam diskusi panel yang digelar Jen Wieczner, penulis senior di majalah Fortune. Saat itu, Draper diminta mengkonfirmasikan apakah ia serius soal prediksi harga Bitcoinnya. Lulusan Harvard dan Stanford itu berkata, “Percayalah, hal itu akan terjadi. Banyak orang akan menyebut Anda gila, tapi percayalah hal itu akan terjadi dan akan sangat luar biasa.”

Dalam wawancara sebelumnya, Draper menyatakan, kapitalisasi pasar kripto akan menyentuh US$80 triliun. Sejumlah analis kripto lain membandingkan pertumbuhan dan adopsi aset digital dengan pertumbuhan Internet, dan Draper melakukan hal yang sama. Ia percaya nilai pasar kripto akan mencapai triliunan dolar dalam 10-15 tahun mendatang.

Investor individual memang tampak lebih yakin dibanding investor institusi dalam hal berinvestasi di Bitcoin dan kripto lainnya. Raksasa bank investasi Goldman Sachs yang mengelola aset total senilai US$900 juta, tahun lalu memperingatkan bahwa aset kripto tidak akan bertahan. Lembaga keuangan berbasis di New York tersebut merilis laporan mendalam yang menyatakan kripto tidak bisa berfungsi secara efektif sebagai uang.

Baru-baru ini, JPMorgan Chase, bank terbesar di Amerika dan keenam terbesar di dunia, merilis laporan yang mengklaim kripto yang tidak diterima sebagai alat pembayaran oleh peritel besar. Analis JPMorgan berkata harga Bitcoin tidak stabil dan bisa jatuh hingga US$1.260.

JPMorgan juga berargumen, bahwa di masa-masa ketidakjelasan ekonomi, masih ada banyak pilihan investasi yang lebih baik dibanding aset kripto. Di skenario ekstrim seperti resesi atau krisis finansial, ada instrumen yang lebih likuid dan tidak rumit untuk melakukan transaksi investasi dan perlindungan.

Kendati demikian, beberapa institusi tampak siap terjun ke industri kripto. Baru-baru ini, dana pensiun daerah Virginia, AS, menjadi investor utama dalam dana kripto senilai US$40 Juta. Hal ini membuat Anthony Pompliano, pendiri pengelola aset Morgan Creek Digital, berkata bahwa investor institusi sudah hadir di sektor kripto. [cryptoglobe.com/ed]

Terkini

Warta Korporat

Terkait