Profesor Nouriel Roubini dari NYU Stern School of Business lagi-lagi mengatakan, bahwa Bitcoin tidak memiliki nilai fundamental dan harganya dimanipulasi.

“Dibandingkan dengan cryptocurrency lainnya, satu-satunya keunggulan Bitcoin adalah pasokan unit moneternya tidak mudah dimanipulasi, berkat algoritma kriptografinya. Argumen saya mengkritik Bitcoin, adalah aset kripto tidak memiliki nilai fundamental,” kata Roubini kepada Bloomberg, (5/12/2020).

Alasannya Roubini adalah karena istilah currency pada Bitcoin tidak sesuai, sebab currency (mata uang) lebih dipahami memiliki unsur unit-of-account (satuan hitung) dan berdaya fungsi sebagai alat pembayaran yang stabil.

“Kemudian banyak bukti akademik yang menyatakan bahwa harga Bitcoin dimanipulasi, seperti praktik wash trading yang dilakukan oleh bursa aset kripto. Hal lainnya pada tahun ini saja, ketika pasokan stablecoin bernilai dolar AS bertambah hingga US$14 juta, harga Bitcoin langsung jatuh. Jadi, saya punya banyak alasan bahwa harga Bitcoin telah dimanipulasi dan memang tidak memiliki nilai intrinsik,” katanya.

Selain itu Roubini menyoroti perkembangan mata uang digital bank sentral (CBDC). Menurutnya perkembangan CDBC kelak memungkinkan nasabah memiliki rekening langsung di bank sentral, sehingga proses kliring dan penyelesaian transaksi menjadi lebih cepat dan aman.

BERITA TERKAIT  Tipu-tipu “Ala Bitcoin”

“Ketika itu terjadi maka uang digital bank sentral akan mendominasi, tak hanya terhadap mata uang kripto yang tidak memiliki nilai bayar, tetapi juga sejumlah layanan keuangan digital lainnya. Jadi mata uang digital bank sentral adalah revolusi dan masa depan uang, bukan kripto,” jelasnya.

Sedikit Melunak
Sebelumnya, pada 7 November 2020, Roubini bilang, bahwa Bitcoin mungkin sebagian sebagai penyimpan nilai alias store-of-value.

“Sekarang, berdasarkan beberapa kriteria, Bitcoin bukanlah mata uang (currency). Bitcoin mungkin sebagian sebagai aset penyimpan nilai, karena, Bitcoin tidak seperti ribuan aset kripto lainnya yang saya sebut ‘shitcoin’. Bitcoin juga tidak mudah disepelekan, karena setidaknya ada algoritma yang menentukan berapa banyak pasokan Bitcoin yang meningkat dari waktu ke waktu,” kata Roubini seraya membandingkan Bitcoin dengan penerbitan uang tanpa batas oleh The Fed alias Bank Sentral AS, dilansir dalam wawancara Yahoo Finance, 7 November 2020 lalu.

Perihal Bitcoin bukanlah mata uang, jelasnya, karena Bitcoin tidak bisa sebagai unit of account (satuan hitung), sebagaimana mata uang yang diterbitkan oleh negara (fiat money).

BERITA TERKAIT  Inilah 229 Aset Kripto yang Bisa Diperdagangkan di Indonesia, XRP Aman!

“Bitcoin tidak mungkin sebagai alat pembayaran yang terukur, karena Anda hanya dapat melakukan lima transaksi per detik. Dengan jaringan Visa, 25 ribu transaksi per detik. Dan agar Bitcoin bisa menjadi penyimpan nilai yang stabil, maka nilainya tidak bisa terlalu mudah berubah,” tegasnya.

Roubini Bertobat
Ucapan Roubini itu ditanggapi sebagai sebuah “pertobatan” oleh Sejarawan ekonomi asal Inggris, Niall Ferguson, pada 30 November 2020 di Bloomberg.

Ferguson mencontohkan ucapan Profesor Nouriel Roubini pada Februari 2018, yang mengatakan Bitcoin telah menjadi “gelembung terbesar dalam sejarah manusia.” Harganya sekarang akan “jatuh ke nol”. Hal serupa ia sampaikan juga di Kongres dan Twitter.

“Namun pada November 2020 Roubini terpaksa mengubah nadanya. Ia akhirnya mengakui Bitcoin adalah ‘mungkin sebagian sebagai penyimpan nilai’. Jadi, tidak bisa begitu mudah direndahkan, karena setidaknya ada algoritma yang memutuskan berapa banyak pasokan Bitcoin meningkat dari waktu ke waktu’. Jika saya menyukai gaya hiperbola seperti Roubini, saya akan menyebut ini adalah pertobatan terbesar sejak Santo Paulus,” kata Ferguson. [red]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO