Pakar: Profesi Menjanjikan Ada di Metaverse

Metaverse kian mainstream dan perusahaan-perusahaan mulai memakainya untuk mempekerjakan dan mengelola pegawai. Tetapi penggunaannya untuk perekrutan dapat menyebabkan isu keamanan dan privasi.

Metaverse dan Profesi yang Menjanjikan

Bukan hanya tempat bagi gamer dan pegiat teknologi, dunia virtual digadang-gadang akan menjadi evolusi berikutnya bagi internet.

Bisnis-bisnis serta brand mulai menciptakan lingkungan tempat bekerja dan bermain.

Di antaranya, Hyundai mulai dengan memakai dunia virtual Zepeto untuk perekrutan pegawai baru. Samsung dikabarkan menggelar bursa kerja virtual melalui platform Gather pada September lalu.

Budaya work from home yang marak selama pandemi coronavirus dalam 18 bulan terakhir memicu permintaan bagi dunia virtual.

Thomas Johann Lorenz, pendiri perusahaan meta verse Journee, berkata, “Soal mempertahankan talenta di perusahaan dan budaya bisnis di era kerja jarak jauh, kita butuh perlengkapan lebih dari sekedar surel dan Zoom.”

Lorenz menjelaskan, metaverse lebih dari pertukaran data dan informasi sebab akan memanfaatkan komunikasi manusia soal hubungan, emosi dan pengalaman.

Wawancara melalui layar memberikan informasi yang sedikit tentang kandidat pegawai. Tetapi dengan penggunaan avatar dalam metaverse, ada cara-cara baru untuk memahami orang lebih baik.

Journee telah menciptakan metaverse bagi Siemens, BMB dan Adidas yang bisa diakses melalui perangkat sederhana seperti ponsel dan tidak memerlukan alat virtual reality.

Di saat Meta besutan Mark Zuckerberg berniat membangun dunia virtual dengan pengalaman menyeluruh, pihak lain berkata metaverse sudah ada pada platform seperti Discord.

Direktur seni Richard Chen menggelar proyek seni yang berhasil menjual tiga ribu buah NFT dalam enam jam di marketplace OpenSea. Ia melihat pasar NFT sangat baru sehingga belum banyak pakar untuk direkrut dari agensi pemasaran.

“Talenta-talenta ini tidak bisa ditemukan di dunia nyata atau berada di lokasi dekat. Menemui mereka di metaverse adalah cara terbaik bagi kebutuhan proyek kami,” jelas Chen.

Di sisi lain, tidak semua orang melihat potensi dari dunia virtual ini. Pendiri konsultan SheBuildsBrands, Kubi Springer, merasa dirinya tidak menguasai teknologi ini dengan baik.

Ia melihat teknologi metaverse memajukan hidup dengan berbagai cara, tetapi harus disertai dengan penguasaan yang kuat. Bila tidak, Springer merasa metaverse justru yang akan menguasai manusia. [cnbc.com/ed]

Terkini

Warta Korporat

Terkait