Penambang Bitcoin AS Menjual 4.411 BTC pada Mei 2022, Lebih Banyak Dibandingkan Januari-April 2022

Melemahnya harga Bitcoin sejak November 2021, semakin memaksa penambang Bitcoin di Amerika Serikat (AS) menjual kepemilikan BTC mereka untuk mengimbangi biaya operasional. Sepanjang Mei 2022 saja, beberapa perusahaan penambang telah menjual 4.411 BTC. Angka total itu lebih besar 4 kali lipat dibandingkan penjualan Januari-April 2022 secara rata-rata.

Situasi ini secara praktis mencerminkan penambang Bitcoin sedang bertahan dari krisis harga aset kripto, dampak penguatan dolar AS yang berpangkal dari kebijakan The Fed untuk terus menaikkan suku bunga dan bertahap melakukan tapering.

Data terbaru yang dilaporkan oleh perusahaan investasi NYIG asal New York pada 17 Juni 2022 lalu mengungkapkan, bahwa perusahaan penambang BTC di Negeri Paman Sam secara berturut-turut setiap bulan menjual lebih banyak cadangan BTC mereka sejak awal tahun 2022. Sebagai catatan penambangan BTC asal AS adalah yang terbesar saat ini sedunia (mendominasi 37,84 persen), berdasarkan data dari Cambridge.

“Berdasarkan laporan keuangan perusahaan penambang kepada Komisi Bursa dan Sekuritas (SEC), mereka menjual bersih sebanyak 4.411 BTC pada Mei 2022. Itu jauh lebih banyak dari rata-rata sebelumnya 1.115 BTC per bulan sebelumnya pada 2022. Jika harga terus tetap rendah, kita mungkin terus melihat lebih banyak penerbitan Bitcoin beredar ke pasar. Pada akhir Mei, penambang yang sama memiliki sekitar 46.594 BTC (US$1,5 miliar) harga saat itu,” tulis NYIG.

NYIG menafsirkan, bahwa penambang Bitcoin secara terpaksa mereka harus melipatgandakan penjualan BTC mereka guna menutupi biaya operasional agar dapat terus bertahan di era bearish market ini.

Data itu menegaskan data lain yang terbaru dari Coinmetrics pada 16 Juni 2022 lalu, bahwa sejumlah besar penambang BTC memang menjual kepemilikan BTC mereka.

Data dari Blockchain.com juga mengungkapkan bahwa nilai total pendapatan yang dibayarkan kepada penambang telah turun ke tingakt terendah dalam hampir satu tahun.

Sebelummya, penambang di Kazakhstan, Xive, mengakui telah menghentikan operasi penambangan yang tidak menguntungkan setelah BTC turun di bawah US$25.000.

Harga saham perusahaan juga turut kena getahnya, mencerminkan sentimen negara para trader saham. Misalnya, harga saham untuk perusahaan penambang BTC, Marathon Digital dan Hut 8 masing-masing turun sekitar 40 persen dalam sebulan terakhir, dengan Argo Blockchin sendiri turun 35 persen.

Sementara itu, kenaikan biaya energi, yang secara tidak langsung terkait dengan perang di Ukraina, telah memberikan tekanan tambahan.

“Ada banyak penambang di industri ini yang mengalami fluktuasi harga energi. Tekanan ada dari dua arah, yakni biaya operasional tinggi ditambah dengan pendapatan yang lebih rendah per BTC yang dihasilkan,” kata juru bicara Marathon Digital, Charlie Schumacher kala itu.

Hal senada disampaikan oleh Hut 8 yang sebelumnya telah mewanti-wanti pasar buruk ini.

“Tetapi penambang lain mungkin bereaksi lebih agresif dan mungkin akan mengalami penurunan dan kekurangan dana dalam beberapa bulan mendatang,” kata CEO Hut 8, Jaime Leverton.

Pasar kripto saat ini sudah menguap lebih dari US$2 triliun jika dibandingkan dengan November 2021. Harga Bitcoin sendiri sempat ambrol ke US$17.598 pada Minggu (19/6/2022). Tekanan hingga di bawah US$20 ribu itu diperkirakan akan terus berlanjut jika menilik secara historis penurunan 85 persen setelah puncak tertinggi terjadi. [ps]

spot_img

Terkini

Terkait