spot_img
spot_img

Polisi Rusia Sita 22 ATM Kripto Atas Perintah Bank Sentral

Polisi Rusia baru-baru ini menyita ATM (automatic teller machine) kripto milik perusahaan BBFpro, atas perintah bank sentral Rusia, seperti dilansir dari CCN.com. Menurut laporan media lokal RBC, BBFpro mengalami kerugian ekonomi dan reputasi. Mereka berencana mengajukan banding terhadap aksi penyitaan itu, ujar Sarkis Darbinian, penasehat hukum BBFpro dari Center of Digital Rights kepada RBC.

Artem Bedarev, Pemimpin BBFpro, mengatakan kepada RBC pihaknya tidak mengerti mengapa penyitaan tersebut dilakukan, dan pihaknya tidak menerima pemberitahuan terlebih dahulu dari pihak penyita.

Bedarev mengatakan salah satu petugas penyita menyampaikan bahwa penyelidikan akan berlangsung selama enam bulan. Petugas tersebut juga memberitahu bahwa Jaksa Umum melakukan penyitaan berdasarkan surat perintah dari bank sentral Russia.

BBFpro menjalankan 22 unit ATM kripto di beberapa toko, bar, dan pusat perbelanjaan di sembilan kota di Rusia. Pihak Snegir, sebuah pusat perbelanjaan di mana ATM kripto itu dipasang, mengonfirmasi aksi penyitaan pada Rabu, 29 Agustus 2018 itu.

Perwakilan dari bank sentral Rusia tidak memberikan jawaban tentang tindakan penyitaan. Tetapi ia mengatakan bahwa bank sentral melakukan tindakan sistemik untuk menentukan dan menindak kegiatan keuangan ilegal. Perwakilan tersebut menegaskan bahwa kripto bisa digunakan untuk mengirim uang lintas batas tanpa pengawasan, sehingga hal itu beresiko termasuk kegiatan keuangan ilegal.

Darbinian menyampaikan bahwa tidak ada pelarangan untuk membeli mata uang kripto, dan perusahaan BBFpro mematuhi semua prosedur yang berlaku, meminta identitas pembeli dan membayar pajak.

Juru bicara BBFpro mengatakan pihaknya sedang menghitung jumlah kerugian, termasuk kehilangan pelanggan. Perwakilan dari kantor Jaksa Umum dan Kementerian Dalam Negeri Rusia tidak menjawab pertanyaan RBC hingga berita ini diterbitkan.

Menurut situs BBFpro, pelanggan bisa membeli Bitcoin maksimal senilai 15 ribu rubel atau setara dengan Rp3,2 juta. Pembelian lebih besar dari jumlah itu mewajibkan pelanggan memberikan data nomor ponsel, tanggal kelahiran, data paspor, foto paspor, swafoto yang memperlihatkan bagian depan paspor dan data lainnya. Harga Bitcoin dalam rubel ditentukan berdasarkan kurs pada saat pembayaran dilakukan di ATM.

BBFpro adalah salah satu penyedia ATM Bitcoin terbesar di Rusia. Perusahaan ini awalnya menguji coba ATM supaya bisa membeli dan menjual kripto. Tetapi fitur menjual dihapus dikarenakan permasalahan aturan hukum.

Fanis Zagitov, presiden Malavita, penyedia ATM Bitcoin lainnya, mengatakan pihaknya tidak mengalami nasib penyitaan serupa. Walau begitu, izin bisnis Malavita di Kazan, ibu kota Republik Tatarstan di Rusia barat daya, pernah ditangguhkan pada September tahun lalu, atas perintah dari kantor Jaksa Umum. Pada Desember 2017, Malavita sempat diperiksa Dirjen Pajak setempat sebelum melanjutkan aktifitas bisnis di kota itu.

Perwakilan Trovemat, penyedia ATM kripto lainnya, mengatakan pihaknya tahu tentang tindakan terhadap BBFpro. Ia menyampaikan aksi tersebut dapat disebabkan adanya keluhan pelanggan atau dugaan pelanggaran aturan keuangan.

Status hukum ATM kripto di Rusia memang masih belum jelas, menurut beberapa pegacara di Rusia. Mikhail Uspensky, pegacara dari firma hukum Taxology mengatakan, kripto tidak diatur hukum khusus di Rusia. Stanislav Sokolovsky, pengacara senior di firma hukum GMT berujar, kripto berada di luar aturan hukum. Katanya, pencatatan jual-beli kripto belum bisa dilakukan dengan jelas. Sokolovsky juga menegaskan penggunaan kripto yang belum diatur, beresiko melanggar aturan keuangan dan berpotensi adanya praktik pencucian uang termasuk upaya pendanaan terorisme. [ed]

spot_img

Terkini

spot_img
spot_img
spot_img

Terkait