Prediksi Lebay: Harga Bitcoin Rp5,7 Miliar dalam 10 Tahun

1262

Prediksi terkesan lebay keluar dari hasil kajian terbaru Crypto Research Report, bahwa harga Bitcoin bisa mencapai US$397 ribu (sekitar Rp5,7 miliar) dalam 10 tahun.


Prediksi itu yang berasaskan potensi pangsa pasarnya itu juga berlaku hal serupa pada altcoin.

Pada laporan edisi Juni Crypto Research Report, periset memrediksi harga Bitcoin (BTC) dan altcoin, termasuk Ether (ETH), Litecoin (LTC), Bitcoin Cash (BCH) dan Stellar (XLM) akan melonjak tinggi sebelum 2025 dan lanjut meningkat selama setidaknya 5 tahun.

“Kami meyakini Bitcoin masih di tahap awal adopsinya. Harga US$7.200 per BTC pada akhir 2019 bermakna Bitcoin baru menembus 0,44 persen potensi pangsa pasarnya sebesar US$212 triliun. Jika penetrasi ini mencapai 10 persen, maka harga Bitcoin akan naik ke hampir US$400 ribu per BTC,” sebut peneliti.

Hal tersebut berarti dalam 10 tahun ke depan, terjadi peningkatan lebih dari 4 ribu persen bagi BTC. ETH, LTC dan BCH juga terlihat bullish pada skenario ini, dengan peningkatan 1.600 persen, 5 ribu persen dan 5.400 persen masing-masing. Sedangkan XLM mengalami lonjakan paling besar yaitu lebih dari 11 ribu persen dari US$0,07 menjadi US$7,81.

Kelompok riset asal Liechtenstein tersebut menganalisa target berdasarkan potensi pangsa pasar, atau total addressable market (TAM), yaitu suatu ukuran yang digunakan untuk menghitung harga masa depan aset kripto.

Menurut laporan mereka, TAM bagi aset kripto meliputi remitansi, penghindaran pajak, rekening luar negeri, alat simpan nilai, transaksi daring, pembayaran mikro, perdagangan aset, gaming, judi daring, pinjaman konsumen, mata uang cadangan dan lainnya.

BERITA TERKAIT  Bitcoin (BTC) Tak Bernomor Seri, Kratscoin (KTC) Punya Solusi

Laporan tersebut menyoroti ukuran kecepatan on-chain dan off-chain bagi altcoin dan menyimpulkan pertumbuhan transaksi spekulatif pada bursa kripto lebih cepat dibanding pertumbuhan transaksi untuk membeli barang dan jasa.

Kecepatan on-chain diukur berdasarkan transaksi pada blockchain, sedangkan kecepatan off-chain ditentukan berdasarkan aktivitas perdagangan pada bursa kripto. Ketika menganalisa Bitcoin, para periset menyatakan harga aset kripto itu dan aktivitasnya pada bursa meningkat bersamaan.

“Jika aset kripto diadopsi untuk tujuan simpanan jangka panjang atau pembelanjaan jangka pendek, harganya akan naik. Kecepatan on-chain yang tinggi dan off-chain yang rendah menandakan aset kripto semakin digunakan untuk spekulasi dan bukan sebagai alat simpan nilai,” pungkasnya.

Namun peneliti jelas-jelas tidak mempertimbangkan aspek regulasi dan faktor pasar derivatif yang bisa lebih menekan pasar Bitcoin di masa depan.

BERITA TERKAIT  Trader Pantau Transaksi Bitcoin Senilai Rp15 Triliun

Ini serupa dengan pasar emas yang nilai sebenarnya jauh lebih tinggi daripada saat ini, sebagai akibat pasar derivatif yang hanya memperdagangkan kontrak harga emas. Namun pasar derivatif dirasa sesuai oleh kalangan institusi untuk berspekulasi dengan aset bernilai tinggi itu, seperti Bitcoin. [cointelegraph.com/ed]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO