Sinyal-sinyal ketidakpastian mulai terlihat dari Ethereum. Dalam beberapa bulan terakhir, banyak investor jangka panjang yang mulai mempertanyakan masa depan aset kripto terbesar kedua ini setelah Bitcoin.
Ketika harga Bitcoin telah menembus angka US$85.000 di kuartal kedua 2025, Ethereum justru stagnan, bahkan belum berhasil menyentuh kembali level tertingginya pada 2021. Di sisi lain, XRP justru menunjukkan tanda-tanda kebangkitan yang membuat banyak pihak mulai melirik potensi pergeseran kekuatan di papan atas kripto.
Ethereum Kehilangan Momentum
Analis dan influencer kripto Lark Davis, dalam video terbarunya di YouTube, menyebutkan bahwa Ethereum saat ini tampak tidak lagi menyimpan nilai investasi seperti sebelumnya.
Menurutnya, performa ETH sangat jauh dari ekspektasi, dengan harga yang justru berada di bawah US$2.000, sekitar 60 persen di bawah rekor tertingginya di 2021. Sementara Bitcoin sudah melampaui ATH-nya, ETH masih tertinggal jauh.
Tak hanya soal harga, Ethereum juga mulai ditinggalkan dari sisi aktivitas jaringan. Jumlah pengguna aktif, volume transaksi, hingga pengembang aktif mengalami penurunan karena banyak yang berpindah ke jaringan lain seperti Sui, Aptos dan Solana.
“Sebagai jaringan, Ethereum masih berguna. Namun sebagai investasi? Sama sekali tidak,” ujar Quinn Thompson dari Leer Capital.
Masalah lainnya datang dari dalam tubuh Ethereum sendiri, terutama soal kepemimpinan dan arah pengembangan yang dianggap tidak jelas. Ryan Watkins dari Syncracy Capital menilai Ethereum terlalu lama merasa nyaman di posisi kedua, sehingga menjadi lamban dalam berinovasi, bahkan terkesan apatis terhadap kompetitor.
XRP Mendapat Angin Segar
Di tengah stagnasi Ethereum, XRP justru mendapatkan momentum baru. Salah satu faktor kuncinya adalah berakhirnya kasus hukum antara Ripple Labs dan SEC, yang sudah membayangi selama bertahun-tahun. Kini, XRP terbebas dari ketidakpastian hukum di AS dan bisa lebih leluasa beroperasi, terutama dalam hal adopsi institusional.
Tak hanya itu, sejumlah perusahaan besar seperti Franklin Templeton dan Bitwise mulai mengajukan spot XRP ETF. Ini bisa menjadi katalis besar untuk adopsi lebih lanjut.
Meskipun Lark Davis menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki kepentingan langsung terhadap XRP maupun Ethereum saat ini, ia menyebut bahwa narasi seputar utilitas XRP, terutama dalam hal pembayaran lintas negara, sangat kuat.
“XRP punya narasi utilitas yang nyata. Koin ini dipakai untuk kebutuhan likuiditas dalam sistem pembayaran Ripple,” ungkap Lark Davis.
Lebih lanjut lagi, XRP juga telah meluncurkan inisiatif DeFi institusional di jaringannya dan memperkenalkan stablecoin RLUSD yang langsung menarik perhatian pasar dengan kapitalisasi mencapai seperempat milyar dolar AS.
Regulasi dan Tokenisasi Jadi Perebutan Peluang
Menariknya, peluang besar yang mendorong XRP naik juga bisa berlaku bagi Ethereum. Misalnya saja, perubahan regulasi di AS yang mulai membuka pintu lebih lebar bagi institusi ke dunia kripto.
Ethereum sendiri juga memiliki peluang untuk mengaktifkan staking dalam produk ETF mendatang. Hal ini bisa menjadi pemicu baru untuk meningkatkan permintaan ETH.
Tokenisasi aset dunia nyata juga menjadi salah satu peluang strategis. BlackRock, perusahaan manajemen aset raksasa, telah meluncurkan inisiatif tokenisasi dan awalnya memilih Ethereum sebagai jaringan utama. Ini menunjukkan bahwa Ethereum masih memiliki posisi istimewa, terutama karena sifatnya yang netral dan terdesentralisasi.
Namun demikian, jaringan lain seperti Avalanche, Aptos, dan bahkan XRP Ledger kini juga aktif mengembangkan kemampuan untuk tokenisasi. Jadi, meskipun Ethereum punya keunggulan historis, kompetisi kini lebih merata dan agresif.
Posisi Kedua Semakin Rawan
Saat ini, dominasi pasar Ethereum berada di kisaran 8,4 persen, turun dari puncaknya yang mencapai 20 persen hanya setahun lalu.
Sebaliknya, XRP perlahan merangkak naik dan kini sudah mencatatkan dominasi sekitar 4,6 persen. Jika tren ini terus berlanjut, skenario “XRP menyalip ETH” bukan lagi sekadar imajinasi liar.
Namun perlu diingat, ada banyak faktor yang dapat memengaruhi arah pasar ke depan. Salah langkah saja, Ethereum bisa makin tertinggal. Di sisi lain, XRP juga masih punya tantangan tersendiri, termasuk mempertahankan momentumnya dan membuktikan daya tahan utilitasnya di tengah derasnya inovasi kripto global.
Pada akhirnya, siapapun yang menempati posisi kedua di bawah Bitcoin nanti akan ditentukan bukan hanya oleh hype, tapi juga oleh siapa yang benar-benar menawarkan solusi nyata untuk dunia keuangan digital yang terus berkembang. [st]