Trading Kripto Pakai Akun Ayahnya, Mantan Petinggi Huobi Akan Disidang di Hong Kong

Diduga telah melanggar aturan trading kripto, Chen Boliang, mantan Manajer Senior bursa kripto Huobi bersiap menghadapi sidang pendahuluan di Hong Kong, buntut kasus 2020 silam. Dengan kewenangan yang dimilikinya Chen diduga membuatkan sebuah akun di Huobi atas nama ayahnya. Ia lalu menggunakan akun itu untuk melakukan trading kripto dan mendapatkan keuntungan.

Dilansir dari Financial Times, Rabu (22/6/2022), dugaan tindak perdata itu terjadi pada Februari dan Maret 2020 silam, ketika Chen menjabat sebagai Manajer Senior di Departemen Klien Institusional Huobi.

Sejak kali pertama itu mencuat pada Mei 2020 dan otoritas Hong Kong meringkusnya, pihak manajemen Huobi sudah memberhentikan Chen.

Dalam gugatan perdata itu sejumlah bukti mengarah pada dugaan bahwa Chen menghasilkan keuntungan sekitar US$5 juta dalam bentuk stablecoin USDT, setelah melakukan penyetoran sebanyak US$20 juta.

“Kami tidak memiliki komentar lebih lanjut terkait tuduhan terhadap Chen Tuan Boliang dan percaya pada peradilan di Hong Kong,” sebut manajemen Huobi.

Chen akan menghadapi hakim pada sidang pendahuluan minggu depan. Ini akan menentukan apakah kasus tersebut memiliki cukup bukti untuk dapat dibawa ke pengadilan. Chen saat ini berstatus bebas dengan jaminan US$25.000.

Tidak jelas bagaimana Huobi menemukan dugaan “perdagangan gelap” Chen itu, tetapi mereka justru melaporkannya kasus itu ke polisi pada April 2020.

Huobi adalah bursa kripto terbesar keempat di dunia berdasarkan volume perdagangan, setelah Coinbase, FTX dan Binance, berdasarkan data CoinGecko.

Dalam aturan umum perdagangan saham apalagi trading kripto, karyawan bursa dilarang keras memiliki akun sendiri atau melakukan perdagangan atas nama akun lain di bursa tempat ia bekerja. Pasalnya, itu mengandung konflik kepentingan. Bursa yang pada fitrahnya adalah fasilitator harus dalam posisi netral akan dapat memberikan kepercayaan kepada penggunanya.

Langkah Huobi sebelumnya cukup diacungi jempol oleh sejumlah pendukung kripto, karena mencerminkan sikap taat hukum dan menjaga prinsip kehati-hatian.

Trading Kripto Huobi Versus Aturan Negara

Huobi yang didirikan di Tiongkok, pada September 2021 dilarang menambah pengguna lagi. Kala itu pemerintah Negeri Tirai Bambu sedang melakukan “pembersihan” terhadap segala jenis kegiatan terkait kripto, termasuk melarang keras penambangan Bitcoin,

Tindakan keras terbaru dari Tiongkok kala itu cukup membuat geleng-geleng kepala para investor dan pengamat kripto. Namun, dibandingkan kejatuhan pada 2018, pasar kripto saat ketika tidak begitu bergeming karena masih mengalami penurunan yang tidak begitu fantastis.

Tentu saja, ini bukan kali pertama Huobi terusik oleh pemerintah negaranya. Pada tahun 2017, Huobi melarang penarikan yuan saat pemerintah perdagangan pair yuan-kripto. Pada Juni 2021, Huobi telah melarang pengguna Tiongkok untuk bertransaksi dalam produk derivatif yang berisiko.

Di Thailand, Huobi pernah menghadapi tekanan di Thailand, karena Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) Thailand mengharuskan semua bursa kripto untuk mengembalikan semua aset kepada pengguna pada awal September 2021. [ps]

Terkini

Warta Korporat

Terkait