Pengusaha Italia-Kuba telah meluncurkan Qbita Exchange, bursa aset kripto Bitcoin peer-to-peer yang diperuntukkan bagi warga Kuba. Namun, pengelolanya mengabaikan potensi bahaya di baliknya, bercermin dengan kasus sebelumnya di bursa sekelas.

Terlepas dari pemblokiran, embargo dan sanksi keuangan yang telah menghantam negara pulau itu, rakyat Kuba telah terbukti mahir dalam mengatasi rintangan. Dan seorang warga Kuba, menggunakan blockchain-aset kripto untuk mengatasi rintangan itu.

Awal bulan ini, Mario Mazzola, pencipta dompet Bitcoin ultra ringan Qbita, meluncurkan Qbita Exchange, bursa aset kripto desentralistik pertama di Kuba.

“Saya membuat Qbita Exchange, karena saya selalu yakin bahwa di sini, di Kuba, Bitcoin adalah kebutuhan nyata. Layanan ini juga bisa mendorong Kuba mengejar ketertinggalannya dengan negara lain dalam perdagangan aset kripto,” kata Mazzola kepada Decrypt .

Mengingat bursa ini berkarakter desentralistik, maka pengguna tidak perlu khawatir soal keamanan, karena private key dikendalikan langsung oleh masing-masing pengguna, bukan pengelola platform.

Bursa desentralistik sebenarnya tak selalu menjamin keamanan dana pengguna. Belum lama ini, bursa desentralistik Bisq mengumumkan bahwa terjadi peretasan di sistemnya. Aset kripto Bitcoin (BTC) dan Monero (XMR) senilai US$$250.000 (Rp4 Miliar) pun raib.

Menyamar sebagai pengguna biasa, peretas menggasak 3 Bitcoin dan 4000 Monero bernilai total Rp4 miliar milik pengguna lain bursa aset kripto itu. Bisq berjanji mengganti rugi.

Dalam sebuah pernyataan di situs web-nya kala itu, Bisq menjelaskan bahwa peretas telah mengeksploitasi kelemahan dalam protokol perdagangan Bisq, menyasar pengguna untuk mengambil dana.

“Kami mengetahui ada sekitar 3 BTC dan 4000 XMR yang dicuri dari 7 pengguna yang berbeda. Satu-satunya pair yang terdampak adalah XMR/BTC, terjadi selama 12 hari terakhir,” sebut Bisq. [Decrypt/red]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO