Akibat Skandal Tether, USDT Menurun, Stablecoin Lain Naik

74

Tether (USDT), stablecoin nomor satu saat ini, mengalami penurunan harga setelah Jaksa Agung New York menyelidiki iFinex, perusahaan yang mengelola Bitfinex dan Tether Ltd. USDT turun sampai US$0,975 terhadap USD, sementara tiga stablecoin teratas lain, yaitu USDC, TUSD dan PAX, meningkat sebanyak 6,5 persen.

Studi terbaru dari CryptoCompare mengungkapkan, Tether mendominasi pasar stablecoin. Studi itu menyimpulkan trading pair BTC/USDT menguasai 98,7 persen volume perdagangan Bitcoin (BTC) terhadap stablecoin lima teratas, termasuk USD Coin (USDC), TrueUSD (TUSD), Paxos Standard Token (PAX), Dai (DAI) dan Gemini Dollar (GUSD).

Dibanding dengan USDT, volume perdagangan terhadap USD juga jauh berbeda. Hanya 0,92 juta BTC yang diperdagangkan terhadap USD bulan lalu, sedangkan perdagangan terhadap USDT mencapai nilai 8,9 juta BTC.

Tether Ltd sebelumnya mengklaim setiap USDT didukung satu banding satu terhadap cadangan USD. Tetapi pada 14 Maret 2019, klaim tersebut diubah: setiap USDT didukung 100 persen oleh cadangan Tether Ltd yang termasuk uang tradisional, ekivalen uang tunai dan aset serta penerimaan lain dari hutang pihak ketiga.

Perubahan tersebut diduga menanggapi penyelidikan yang dilancarkan Departemen Kehakiman AS pada 20 November 2018. Surat pengadilan yang diperoleh Jaksa Agung New York baru-baru ini selanjutnya mengungkap dugaan hilangnya dana senilai US$850 juta.

Sebab itu, penyimpan USDT menjadi panik dan menjual token mereka untuk kripto lain. Pengguna Bitfinex juga menarik dana mereka secara berbondong-bondong dari bursa tersebut akibat khawatir dana akan ditahan atau bahkan raib. USDT menurun 2,8 persen dari US$1,003 ke US$0,975 dan Bitcoin (BTC) serta Ethereum (ETH) senilai US$120 juta ditransfer keluar dari Bitfinex.

Skandal Tether tersebut berdampak terhadap valuasi pasar tiga stablecoin teratas. Terhadap USDT, stablecoin USDC, TUSD dan PAX meningkat sebesar rata-rata 6,47 persen tetapi kini menurun ke tingkat 2,86 persen.

Hal tersebut juga berdampak kepada harga BTC, sehingga diperdagangkan dengan harga berbeda-beda di bursa-bursa terbesar. Rata-rata valuasi pasar Bitcoin berada di harga US$5.226, dan bursa yang memiliki premium tertinggi adalah Bitfinex dimana harga BTC mencapai US$5.493.

Selisih harga antara bursa kripto yang memiliki volume perdagangan lebih tinggi atau lebih rendah terbilang normal akibat hukum permintaan dan penawaran. Selisih harga BTC sebesar US$200 antara Bitfinex dan bursa lain adalah akibat investor yang berusaha menjual USDT untuk keluar dari platform tersebut.

USDT telah menjadi stablecoin paling penting di pasar kripto sebab menguasai 87,1 persen pangsa pasar perdagangan Bitcoin. Kendati hasil dari kasus hukum yang menimpa iFinex belum diketahui, runtuhnya USDT bisa membuat pasar kripto tidak stabil.

Bila kasus tersebut bertambah parah, pemilik USDT akan berusaha mencairkan simpanan mereka ke kripto lain agar dapat memindahkan dana dan tidak terjebak di Bitfinex. Harga-harga aset-aset yang meninggi di Bitfinex bisa menjadi pertanda bursa tersebut mulai kesulitan. [cryptoslate.com/ed]

 

Ikuti media sosial kami

Ingin Beriklan? Klik di Sini