Akuisisi Perusahaan Peretas, Coinbase Panas Dingin

76

Coinbase menuai kontroversi setelah mengakuisisi Neutrino, perusahaan yang melacak alur transaksi kripto. Dalam wawancara kepada Cheddar, Direktur Pemasaran Coinbase Christine Sandler membenarkan soal akuisisi Neutrino itu. Diketahui, pendiri Neutrino sebelumnya pernah membangun peralatan peretasan untuk dijual kepada kepolisian.

“Kami sadar tentang latar belakang beberapa orang yang terlibat di Neutrino, dan kami sedang menyelidiknya. Saya pikir alasan untuk melakukan akuisisi itu adalah karena Neutrino memiliki teknologi yang terbaik di bidangnya,” jelas Sandler.

Sandler menambahkan, sangat penting Coinbase berpindah dari penyedia teknologinya saat ini, sebab penyedia tersebut diketahui menjual data pelanggan ke pihak luar. Coinbase sangat mementingkan kendali atas data penggunanya sehingga mereka ingin teknologi sendiri yang bisa dipakai untuk melindungi data dan pengguna mereka.

BERITA TERKAIT  Peretas Minta Bitcoin Rp115 Miliar Setelah Ransomware Jangkiti Perusahaan Listrik Pakistan

CCN menghubungi Coinbase untuk meminta klarifikasi mengenai vendor mana yang menjual data pelanggan Coinbase dan sudah berapa lama hal tersebut berlangsung, serta apakah data pelanggan sudah kembali dalam kendali Coinbase. Tetapi Coinbase belum memberikan komentar.

Neutrino menyebut dirinya sebagai platform analisis untuk membantu lembaga penegak hukum dan institusi keuangan melacak transaksi pada blockchain. CEO Neutrino Giancarlo Russo, CTO Alberto Ornaghi dan CRO Marco Valleri sebelumnya bekerja untuk perusahaan yang dikenal sebagai Hacking Team.

Di situsnya, Hacking Team menyatakan mereka percaya melawan tindak kriminal seharusnya mudah. Oleh karena itu, tim tersebut menyediakan teknologi yang efektif dan mudah digunakan bagi penegak hukum dan komunitas intelijen di seluruh dunia. Teknologi ini diklaim dapat dipakai untuk meretas perangkat selular, tablet, laptop dan komputer terenkripsi yang dimiliki kriminal dan teroris untuk membongkar komunikasi rahasia mereka.

BERITA TERKAIT  Analis: Bitcoin Bisa “Jebol” Sampai US$1.165

Dikabarkan, daftar klien Hacking Team termasuk Meksiko, Oman, Kazakhstan, Uzbekistan, Bahrain, Ethiopia, Nigeria, Sudan dan lainnya. Diduga perangkat yang dikembangkan Hacking Team bukan hanya digunakan terhadap kriminal dan teroris, tetapi juga untuk memata-matai jurnalis dan lawan politik.

Mendukung penegakan hukum terhadap tindak kriminal merupakan kewajiban setiap orang. Tetapi negara yang berbeda memiliki hukum kriminal yang berbeda pula. Di beberapa negara, mengkritik pemerintah dianggap tindakan ilegal, sementara di negara lain tidak. Hal inilah yang dikritik oleh komunitas kripto, di mana semangat dari kripto adalah kebebasan berpendapat.

Langkah Coinbase mengakuisisi Neutrino yang kontroversial memicu gerakan #DeleteCoinbase (hapus Coinbase) di Twitter. Disebabkan rekam jejak Neutrino dan Coinbase yang tidak mengumumkan soal penjualan data pelanggan, sejumlah anggota komunitas kripto di Twitter menghapus akun Coinbase mereka.

BERITA TERKAIT  Debat Seru Roubini versus Vitalik soal Manfaat Aset Kripto

Tetapi, tidak semua pihak setuju dengan gerakan tagar tersebut. Thomas Schulz, CEO ChaChing Wallet, berkata Coinbase justru dibutuhkan untuk mendukung bull run Bitcoin berikutnya. [ccn.com/ed]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO