spot_img
spot_img

Aset Kripto: Meneropong Masa Depan DeFi

Tahun 2020 adalah tahun bagi sektor DeFi (decentralized finance atau keuangan desentralistik) dalam satu tubuh aset kripto. Selama 3 tahun terakhir, Total Value Locked-nya, melonjak dari US$4 menjadi US$5,91 miliar. Bagaimana potensinya di tahun-tahun berikutnya?

OLEH: Endy Daniyanto
Jurnalis Senior Blockchainmedia.id

Tahun ini, Bitcoin kembali mencapai harga di atas US$10 ribu, menegaskan posisinya sebagai alat simpan nilai setara emas. Raja Aset Kripto itu mencoba menjajal wilayah di atas US$12 ribu, sebagai tolok ukur menuju US$13-14 ribu.

Sementara itu, ekosistem Ethereum pun terus berekspansi dalam aura menuju Proof-of-Stake, kendati terus diwarnai pandangan kritis soal tak jelasnya pasokan ETH di pasar.

Terkait pertumbuhan Ethereum itu pula beragam proyek DeFi terus bermunculan dan menjadi tajuk berita utama, mulai dari penyedia VPN desentralistik, infrastruktur blockchain hingga layanan penyedia pembayaran.

Yang dulu menclok di DeFi terus bertahan, diapresiasi oleh penggunanya dengan nilai miliaran dolar AS. Sebut saja Maker, Aave, Curve, Compound dan lain sebagainya. Kategori lending pun masih mendominasi.

Tekanan Makro
Secara makro, di tahun ini terjadi percepatan tren global sikap tidak puas terhadap kekuatan sentral. Bank dan lembaga keuangan semakin tidak dipercaya dan keresahan di media sosial semakin merebak. Korupsi, ketidaksetaraan dan sikap otoriter pemerintah mendorong rakyat turun ke jalan, seperti yang terjadi di Hong Kong dan Amerika Serikat.

Rakyat menuntut perubahan struktural dan pemerintahan yang baru. Dalam kondisi ini, semua jalan menunjuk ke masa depan desentralistik, di mana individu memegang kendali atas aset, data dan keuangan mereka. Dalam konteks itu DeFi, dengan sejumlah kekuranngan dan hype-nya, seolah-olah mampu mencerminkan semangat itu: kendali uang di tangan pribadi masing-masing.

Kalah dengan Bank
Kendati terhitung masif, gerakan DeFi masih memiliki perjalanan panjang. Total nilai sektor DeFi per Maret 2020 mencapai US$900 juta. Nilainya melonjak menjadi US$5,9 miliar per 16 Agustus 2020.

Namun, itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan total aset yang dikelola bank ke-10 terbesar di Amerika Serikat yang mencapai ratusan miliar dolar. Maklumkan saja, bahwa aset kripto secara umum saja masih baru, apalagi sektor DeFi sebagai sub sektor-nya.

Di sisi lain, mayoritas konsumen belum mengenal, apalagi memiliki aset kripto. Mereka menyimpan hartanya di bank dan lembaga keuangan sentral lain, serta berinvestasi hanya di emas, saham dan obligasi.

Status “Kentang”
Di tahun ini, komunitas aset kripto berada di status “kentang” alias “kena tanggung”. Telah banyak infrastruktur lapisan dasar yang dibangun yang menggugah semangat pegiat kripto tetapi tidak menarik konsumen awam.

Dengan kata lain, orang-orangnya itu-itu saja, yang bertambah hanyalah jumlah aset kripto yang masuk DeFi saja. Atau mungkin lebih banyak kaum oportunisnya?

Bagi kami, DeFi harus masuk ke jajaran arus utama layanan keuangan. Artinya, dia harus menggandeng lembaga-lembaga tradisional, seperti yang dilakukan oleh Grayscale dengan saham Bitcoin-nya itu: GBTC.

Sebelum menggandeng mereka, agar hal tersebut tercapai, proyek-proyek DeFi harus membangun cara masuk yang mudah, termasuk antarmuka pengguna yang lebih gampang, layanan dan produk yang mudah diakses serta stablecoin yang memudahkan pengguna awam membeli aset digital dan turut serta dalam layanan keuangan desentralistik.

DeFi membutuhkan antarmuka yang familiar, mudah dan nyaman dipakai. Proyek DeFi memang seharusnya menggunakan kontrak multisignature, perlindungan privasi data, akses ke blockchain terdistribusi dan fitur desentralistik lainnya.

Tetapi semua fitur ini perlu “disembunyikan” di lapisan bawah aplikasi yang ramah pengguna, seperti platform besar atau layanan perbankan daring.

Komunitas DeFi sebaiknya menciptakan produk dan layanan yang mengincar pangsa pasar lebih besar. Platform perdagangan dan arbitrasi cocok bagi day trader dan hedge fund, tetapi orang yang paling membutuhkan DeFi bukanlah tipe yang memperdagangkan aset kripto secara aktif.

Proyek DeFi juga perlu mengingat tujuan asli Bitcoin dan fokus ke ekonomi peer-to-peer serta menghapus perantara di layanan keuangan, sebagai satu pilihan mutlak, selain masuk di pasar tradisional, sebagai sebuah pilihan lainnya.

Proyek-proyek seperti Celsius Network, Voyager, Compound dan Monarch menawarkan layanan keuangan umum seperti pinjaman, bunga, pengelolaan kekayaan dan kredit dengan agunan. Ini sama seperti bank.

Layanan-layanan ini mendorong DeFi memperluas jangkauannya dengan cara memberikan nilai nyata kepada orang-orang di seluruh dunia, terlepas dari penghasilan, usia atau kewarganegaraan.

Dari sisi teknis, sektor DeFi harus menjawab permasalahan skalabilitas. Jika semakin banyak pengguna yang memakai aplikasi DeFi, maka blockchain yang menampung aplikasi tersebut bisa menjadi macet, dalam hal ini Ethereum.

Potensi DeFi dan masa depan yang membuka akses keuangan terhadap orang tanpa rekening bank bergantung kepada Ethereum. Sebab itu, solusi skalabilitas Ethereum 2.0 menjadi bagian penting jika DeFi akan mencapai arus utama.

Transisi dari Ethereum 1.0 ke 2.0 juga harus diperhatikan bagi ekosistem DeFi. Jika aplikasi DeFi tidak bisa dengan mudah pindah ke Ethereum 2.0, hanya akan ada sedikit aktivitas di rantai baru tersebut. Sebab itu, Ethereum memiliki tugas besar untuk merilis Ethereum 2.0 di tahun 2020.

Menarik merujuk pada ucapan Jim McDonald, Direktur Weald Technology ini: “Jika hal tersebut tidak berhasil dicapai, maka Ethereum akan dipandang sebagai kegagalan, dan kegagalan itu bisa membuat DeFi wafat.

Penyedia DeFi juga perlu mengingat banyak orang masih belum berani berinvestasi di aset digital disebabkan volatilitas harga. Sebab itu, stablecoin menjadi jembatan penting dari fiat ke aset kripto desentralistik.

Pengguna awam juga akan hepi mengetahui mereka bisa beternak uang, mendapat bunga lebih tinggi dari stablecoin dibandingkan tabungan uang biasa dan tidak harus khawatir tentang depresiasi modal yang mereka tanamkan.

Stablecoin tersebut bisa menjadi langkah pertama sebelum mereka menjajal Bitcoin, Ethereum dan proyek kripto serta DeFi lainnya. [ed]

spot_img

Terkini

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terkait