Demi Mata Uang Digital, Induk Bank Sentral Dunia Rekrut Sejumlah Pakar

1180

Demi mengkaji lebih dalam soal mata uang digital, Bank for International Settlements (BIS) sebagai induk dari bank sentral di seluruh dunia merekrut sejumlah pakar.

Hal itu terungkap dalam iklan lowongan kerja yang diterbitkan BIS di situs web mereka, beberapa hari yang lalu.

“Sebagai pakar Decentralized Ledger Technology (DLT)/blockchain, Anda akan memimpin dan mengawasi proyek untuk pengembangan solusi teknologi baru dalam ruang aset digital, seperti mata uang digital bank sentral (CBDC), sekuritas yang ditokenkan (misalnya ekuitas dan obligasi) dan sistem pembayaran berbasis token. Anda akan membantu meningkatkan fungsi sistem keuangan global dengan memberikan kepemimpinan teknis dalam mengembangkan platform terdistribusi generasi baru,” sebut BIS.

Sejumlah tugas khusus lain diminta oleh BIS bagi yang beruntung bergabung, di antaranya Mewakili BIS pada pertemuan resmi, konferensi dan acara industri dan akademik. Selain itu diwajibkan bekerja sama divisi lain di BIS, bank sentral, organisasi internasional dan komunitas penelitian terkait.

Lowongan kerja itu terkait pernyataan Augstin Carstens Manajer Umum BIS pada tahun lalu. Dia mengatakan, bahwa bank sentral masih tidak melihat nilai dari CBDC itu, terutama karena kekhawatiran tentang dampaknya terhadap sistem keuangan dan moneter.

Padahal BIS sendiri sudah jauh-jauh hari mengkaji CBDC itu dalam satu dokumen yang cukup lengkap pada tahun 2018 silam.

BERITA TERKAIT  Oscar Darmawan: Blockchain adalah Teknologi Masa Depan yang Menjanjikan

Sejak raksasa media sosial Facebook mengumumkan proyek blockchain-aset kripto Libra pada tahun lalu, sejumlah bank sentral di banyak negara telah mulai serius melihat kemungkinan menerbitkan mata uang digital nasionalnya.

Pasalnya Libra berencana menerbitkan aset kripto Libra (LBR) bernilai mata uang USD, euro, yen dan dolar Singapura.

Bank Sentral Uni Eropa sendiri semakin resisten dengan keberadaan proyek Libra itu, karena telah memutuskan untuk membatasinya masuk di Eropa dengan sejumlah peraturan yang ketat.

Bank Sentral Tiongkok tampak yang paling siap, karena terus mengujicoba yuan digitalnya sejak Mei 2020. [red]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO