Ekonom Deloitte: Resesi Amerika Serikat Paling Cepat Terjadi pada Akhir 2022 atau 2023

Daniel Bachman, Ekonom dari perusahaan audit ternama, Deloitte, memproyeksikan resesi Amerika Serikat paling cepat akan terjadi pada akhir tahun 2022 atau 2023. Ia juga menegaskan resesi bukan terjadi secara langsung karena kebijakan kenaikan suku bunga The Fed, melainkan guncangan ekonomi yang signifikan.

Hal itu ia sampaikan pada catatan terbarunya, “United States Economic Forecast Q2 2022”, 16 Juni 2022.

“Kami mengkaji kemungkinan resesi yang menghantam ekonomi AS, karena yang disebabkan oleh perang, pandemi COVID-19, dan krisis rantai pasokan,” tulis Bachman di awal catatannya.

Walaupun Deloitte memproyeksikan kemungkinan 15 persen resesi akan terjadi di masa depan, Bachman tak menampik wacana terkait kondisi kemerosotan ekonomi itu lebih gencar daripada 6 bulan silam.

Resesi Amerika Serikat Kemungkinan Terjadi Sebesar 15 Persen 

“Kami telah menambahkan skenario resesi ke perkiraan kami, dengan kemungkinan sekitar 15 persen. Tapi kami masih berpikir resesi lebih kecil kemungkinannya daripada yang Anda yakini oleh beberapa analis. Ketika ekonomi AS saat ini menambahkan hampir setengah juta pekerjaan per bulan, perputaran ekonomi akan memakan waktu (kecuali, tentu saja, pandemi kedua melanda dunia). Untuk alasan itu, kami memperkirakan resesi yang akan datang akan terjadi paling cepat pada akhir 2022 atau 2023,” jelasnya.

Ia menjelaskan, bahwa argumen umum untuk resesi adalah bahwa resesi biasanya terjadi setelah The Fed mulai menaikkan suku bunga sebagai bagian dari kebijakan pengetatan moneter. Namun, menurutnya, itu tidak berarti bahwa pengetatan menyebabkan resesi. Resesi hanya terjadi karena guncangan ekonomi .

“Resesi terakhir pada Maret 2020 pada kenyataannya, tidak terkait langsung dengan pengetatan oleh The Fed. Resesi tahun 2001, misalnya, terjadi setelah pecahnya gelembung pasar saham, sedangkan resesi 2007-2009 karena kehancuran pasar perumahan. Sedangkan resesi 2020 adalah akibat dari pandemi global dan tidak ada hubungannya dengan kebijakan moneter,” tegasnya.

Kebijakan pengetatan dimulai jauh sebelum penurunan. Dalam beberapa kasus, seperti sebelum Krisis Keuangan Global pada 2007–2008, The Fed mulai menurunkan suku bunga jauh sebelum resesi. Grafik di bawah ini menerangkan naik turunnya suku bunga sebelum tahun 1960-an hingga tahun 2020.

resesi amerika serikat
Federal Funds Rate selama 62 tahun terakhir. Sumber: Macrotrends.

Faktanya, sejak pertengahan 1950-an, puncak siklus bisnis AS telah terjadi rata-rata 38 bulan—lebih dari tiga tahun—setelah pengetatan dimulai. Periode terpendek antara permulaan periode pengetatan Fed dan resesi adalah 20 bulan (resesi 1973 dan 1960).

“Namun demikian, semua ini tidak berarti bahwa resesi tidak mungkin terjadi, atau kemungkinan penurunan ekonomi tidak membesar. Memang, perkiraan Deloitte sekarang mencakup skenario resesi meskipun dengan probabilitas yang relatif rendah yaitu 15 persen. Kenaikan suku bunga memang menimbulkan bahaya berdampak pada ketidakseimbangan keuangan atau risiko sistematis dalam sistem keuangan. Belum lagi soal harga minyak di atas kenaikan suku bunga, kemungkinan resesi di Eropa jika pasokan gas alam Rusia dihentikan, dan dampak pandemi yang berkelanjutan, dan penurunan AS pasti bisa terjadi. Tetapi tidak perlu melebih-lebihkan risikonya,” tulis Bachman.

Resesi dan Kenaikan Harga Bitcoin Lagi

Catatan redaksi Blockchainmedia.id di sini, resesi (akibat kenaikan suku bunga) memang disebut-sebut sebagai faktor utama kenaikan harga Bitcoin lagi, setelah terhempas sejak November 2021. Sebaliknya pasar kripto akan semakin bergairah jika suku bunga turun drastis seperti yang terjadi sebelum pandemi, karena itu akan menurunkan lagi nilai dolar AS di pasar global.

Nah, jika menggunakan definisi umum bahwa resesi Amerika Serikat muncul jika selama dua kuartal berturut-turut pertumbuhan ekonomi AS luruh, maka kita harus menantikan pada laporan Kementerian Keuangan AS pada akhir Juli 2022 nanti.

Kalau sepanjang kuartal kedua 2022 ini pertumbuhan ekonomi AS justru melemah seperti kuartal pertama, dan itu akan menghasilkan resesi dan memaksa The Fed justru menurunkan suku bunga acuan, kita wajib berfikir kembali untuk masuk atau mungkin sebaliknya.

Namun menggunakan definisi itu kurang pas, karena tidak memasukkan rentang waktu The Fed menelurkan kebijakan kenaikan suku bunga.

Jikalau menambahkan adalah sejak Maret 2022, ketika The Fed kali pertama resmi mengumumkan kebijakan pengetatan moneter, maka rentang waktunya akan lebih panjang, bahwa resesi akan tertegaskan, yakni hingga April 2023 atau Juli 2023.

Secara teknikal menggunakan RSI, Bitcoin saat ini menyentuh kisaran 26,25 jauh lebih rendah dibandingkan bearish Desember 2018 dan Januari 2015 pada time frame mingguan.

TradingView Chart

Angka itu memang menandakan situasi oversold yang secara historis berpeluang memantul. Namun masih ada ruang ke bawah lagi, mengingat data oversold sebelumnya, yakni 21,64 pada November 2011.

Itu akan semakin tegas, jika memang harga akan bertahan di atas Moving Average 200, yakni US$22.433.

Pertumbuhan Ekonomi AS Menyusut Sepanjang Kuartal Pertama Tahun 2022

Catatan tambahan dari Redaksi, per 29 April 2022 ekonomi AS secara mengejutkan kembali menyusut pada tingkat tahunan 1,4 persen di kuartal pertama 2022 di tengah lonjakan Omicron dan inflasi yang meningkat. Hal ini mengangkat ketakutan akan resesi yang mengancam.

Data terbaru menandai kontraksi pertama ekonomi sejak pandemi COVID-19 memaksa ekonomi berkontraksi tajam di awal 2020. Tingkat pertumbuhan negatif ini bahkan meleset dari sejumlah perkiraan, termasuk dari Dow Jones yang menyebut hanya akan terjadi kenaikan lemah 1 persen untuk kuartal I-2022.

“Kita akan mengalami resesi. Tidak ada yang pasti dalam kehidupan ekonomi. Tapi itu cukup pasti,” kata Gary Hufbauer, mantan pejabat Departemen Keuangan AS dan rekan senior nonresiden di Institut Peterson untuk Ekonomi Internasional, kepada Xinhua, kala itu.

Hufbauer mencatat, tidak ada pengalaman historis yang menunjukkan bahwa dengan inflasi setinggi itu, Federal Reserve mampu menurunkan inflasi ke target 2 persen tanpa menghasilkan resesi. [ps]

Terkini

Warta Korporat

Terkait