Hari ini 12 tahun lalu, transaksi Bitcoin perdana terjadi. Satoshi mengirimkan 10 BTC kepada Hal Finney, seorang pakar kriptografi yang turut serta memberikan masukan atas pengembangan sistem uang elektronik peer-to-peer itu. Siapakah dia, yang jasadnya “diawetkan secara kriogenik” pada 2014 itu?

Siapa yang tidak tahu nama Satoshi Nakamoto, sosok misterius pencipta Bitcoin? Identitas asli Satoshi terus menjadi perburuan bagi para pegiat aset kripto.

Tetapi, ada sosok-sosok lain yang berperan sama pentingnya dalam pengembangan dan adopsi Bitcoin, di antaranya adalah Hal Finney, yang sangat berjasa dan berkontribusi terhadap teknologi uang digital jenis baru itu.

Finney lahir pada tahun 1956 di California, Amerika Serikat. Ia belajar di California Institute of Technology dan lulus pada tahun 1979, di mana ia kemudian bekerja di industri computer game membuat beragam efek suara.

Finney sempat membuat game sendiri sebelum ia memulai karir di perusahaan PGP, yang menjual peranti lunak bernama Pretty Good Privacy.

Hall Finney. Sumber: theverge.com

Di perusahaan inilah Finney mulai terlibat dengan kriptografi dan uang digital. Ia mengelola dua buah anonymous remailer, sebuah layanan yang menerima dan mengirim pesan secara anonim berbasis kriptografi.

Selain itu, Finney juga mengembangkan uang digital yang ia namai Reusable Proof of Work (RPOW). Proyek RPOW ini memperlihatkan minat dan kecintaan Finney terhadap sistem pembayaran berbasis kriptografi.

BERITA TERKAIT  Ngakak! Jual Bitcoin Rp56 Milyar Gara-gara Rumor Double Spending

Gambar

Pada tahun 2008, Finney adalah salah satu orang pertama yang tahu tentang sistem uang elektronik Bitcoin rancangan Satoshi Nakamoto.

Ia mengaku sangat kagum terhadap Bitcoin, dan langsung mengunduh serta menjalankan peranti lunak Bitcoin Core.

Karena Finney terlibat langsung mengulas dan memberikan masukan terhadap kode-kode Bitcoin kepada Satoshi, Finney juga terkenal sebagai manusia pertama di dunia yang menerima Bitcoin perdana dari Satoshi.

Satoshi mengirim Bitcoin sebanyak 10 BTC kepada Finney sebagai uji coba, pada 12 Januari 2009 di block ke-170. Ini adalah pengakuan Finney di Bitcointalk.org pada 19 Maret 2013. Tetapi Finney tidak menyematkan bukti transaksinya. Hingga pada 2 November 2017, seseorang bernama Taras memastikan transaksi 10 BTC itu memang terjadi dengan menyematkan bukti transaksinya.

 

Kendati Finney menerima 10 BTC dari Satoshi (hasil penambangan 50 BTC oleh Satoshi di block ke-9), Finney sendiri sebenarnya sudah menambang dan mendapatkan 50 BTC sebelum 10 BTC itu ia terima dari Satoshi.

Bahkan dari tangkapan gambar yang diberikan Taras, yang pernah dikirimkan Finney pada tahun 2014 (menurut Taras), tampak Finney beberapa kali menambang banyak 50 BTC, setelah 10 BTC dari Satoshi itu ia terima.

Pada gambar memang tanggal transaksi 10 BTC itu adalah 11 Januari 2009 dan tercatat di blockchain.com adalah tanggal 12 Januari 2009. Jadi tanggal “eksak-nya” adalah 11 Januari 2009 yang tercatat di wallet Finney itu.

BERITA TERKAIT  Saham Mungkin Ambruk Lagi, Bitcoin Bisa Melindungi

Finney juga sempat bertemu dan berinteraksi secara intensif dengan Wei Dai dan Nick Szabo, dua tokoh yang ide-idenya dianggap sangat penting bagi fondasi berdirinya Bitcoin.

Kendati Finney termasuk salah seorang penambang Bitcoin pertama, ia sempat memadamkan alat tambangnya, sebab proses penambangan Bitcoin membuat komputernya menjadi sangat panas dan bising.

Ia kembali mendengar soal Bitcoin pada tahun 2010, dan terkejut pada saat itu Bitcoin sudah memiliki nilai ekonomis, karena ada pihak-pihak yang membuka jasa penukaran Bitcoin dengan dolar AS.

Hal tersebut membuat Finney membuka kembali wallet lamanya, dan merasa lega Bitcoin yang ia miliki masih tersimpan aman.

Seiring terus melambungnya harga Bitcoin terhadap mata uang fiat, Finney memindahkan simpanan Bitcoin-nya ke cold wallet, yang ia peruntukkan bagi anak cucunya nanti.

Pada tahun 2009, Finney didiagnosa menderita ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis), sebuah penyakit fatal yang menyerang sel saraf di otak dan tulang belakang.

Penderita penyakit ini umumnya meninggal dalam kurun 2 hingga 5 tahun. Diagnosa itu tiba kendati Finney merasa berada pada puncak kesehatannya tahun itu. Ia pun menjual beberapa Bitcoin untuk pengobatan dirinya.

Ia berhasil menurunkan berat badan dan melakukan beberapa setengah maraton, dan sedang bersiap-siap berpartisipasi dalam maraton penuh pertamanya.

BERITA TERKAIT  Harga Bitcoin Diprediksi Mencapai US$12 Ribu (Rp173 Juta) pada Bulan Depan

Awalnya, Finney masih bisa bekerja di kala gejala ALS belum menjadi ganas. Namun perlahan-lahan, ia mulai mudah letih dan kehilangan kemampuan bicaranya, sehingga ia terpaksa pensiun pada tahun 2011.

Penyakit ALS terus menyerang Finney hingga ia tidak bisa lagi menggunakan tangan dan kakinya.

Pada akhirnya Finney menjadi lumpuh total. Ia harus diberi makan melalui tabung dan berada di atas kasur serta kursi roda sepanjang hari. Ia selalu dibantu oleh sang istri tercinta, Fran Finney, seorang ilmuwan komputer.

Hal Finney dan sang istri. Sumber: Alcor.

Kendati lumpuh, Finney tidak kehilangan semangat hidup dan terus melakukan kegiatan komputer menggunakan sistem pelacak mata.

Ia bahkan masih melakukan coding dalam kondisi lumpuh, walau ia melakukannya dengan amat sangat pelan.

Selain pemrograman, di hari-hari terakhirnya, Finney asyik mengikuti pergerakan harga Bitcoin hingga ajalnya di tahun 2014.

Bitcoin yang ia tambang bertahun-tahun lalu tersimpan aman di safe deposit box, dan putra-putrinya sudah tahu cara menggunakan Bitcoin tersebut.

Setelah meninggal, jenazah Hal Finney diawetkan secara kriogenik oleh Yayasan Alcor Life Extension.

Warisan yang ia tinggalkan, tidak hanya bermanfaat bagi anak dan cucunya, tetapi juga bagi para pengguna Bitcoin di seluruh dunia.

Entah apa yang di benak Finney, jikalau hari ini ia masih hidup dan menyaksikan Bitcoin sekarang perkasa bersaing dengan emas. [ed]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO