Investasi Bitcoin bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk ibu rumah tangga. Ini kisah Novia Velina asal Palembang tentang berinvestasi Bitcoin sejak tahun 2017.

Artikel ini bukan berkehendak bertafsir jender, tidak pula bertafsir profesi, dan tentu saja tidak mengajak Anda membeli Bitcoin.

Artikel ini sekadar menggambarkan bahwa ada kesederhanaan dan kemudahan dalam membeli Bitcoin oleh siapa saja. Pun nyatanya Bitcoin mampu memberikan imbal hasil lumayan guna melawan inflasi uang rupiah.

Novia banyak belajar dari kekeliruan masa lalu karena pernah menanggung resiko rugi. Maklumlah, investasi di kelas aset baru itu memang berisiko tinggi.

Novia mengaku beli-jual (trading) Bitcoin sangatlah sederhana. Cukup beli ketika murah dan jual ketika harga naik. Pasarnya pun banyak tersedia di Indonesia.

Nisbah (rasio) antara harga beli dan jual itulah imbal hasilnya (untung). Lagipula, tidak perlu modal besar, langsung bisa trading dan menghasilkan uang, katanya.

“Namun, ada tantangan terbesar yang saya hadapi. Trading Bitcoin tidaklah sesederhana berharap untung seperti itu. Kita harus cerdas mencari informasi sebanyak mungkin. Belajar manajemen aset dan membaca indikator adalah sangat penting. Jadi, bukan sekadar beli-jual. Di atas itu semua, pengendalian emosi adalah yang utama, selain mengendalikan keserakahan,” kata Novia kepada Blockchainmedia, Rabu (5 Februari 2020).

BERITA TERKAIT  Bitcoin Halving: Inflasi Tahunan Bitcoin Akan Lebih Kecil daripada Inflasi Mata Uang Negara dan Emas

Karena itu, Novia mengimbau, karena harga Bitcoin yang sangat fluktuatif dan bermodal sedikit bisa dapat untung besar, maka trader harus siap menanggung kerugian besar pula.

“Saya ambil posisi hanya ketika Bitcoin sudah saya analisa akan naik. Saya masuk dan siap jual setelah naik. Tapi, jika analisa saya keliru, maka saya memasang stop loss agar rugi tidak terlalu banyak. Terkadang saya akan hold dan beli lagi, sehingga jika aset naik saya akan jual semuanya,” terang Novia yang punya target imbal hasil 10-20 persen dari modalnya.

Rugi 100 Persen
Mengaku hanya jual-beli Bitcoin, Novia ternyata pernah buntung. Katanya, pernah rugi 100 persen karena bursa aset kriptonya scam.

“Bagi saya, soal rugi sama seperti cuan. Rugi pun tidak bisa dipakai sebagai tolak ukur rupiah. Yang pasti saya pernah rugi 50 persen dari total aset saya. Dan pernah rugi 100 persen karena market-nya ternyata scam,” kenangnya.

BERITA TERKAIT  [Eksklusif] Product Manager Paxos, Dave Wells: Gunakanlah Stablecoin yang Teregulasi

Belajar Analisis Teknikal
Trading tanpa data adalah buta, begitu kata Novia. Ia bilang, jangan sekali-sekali trading tanpa adanya analisis teknikal (charting). Trading dan berinvestasi bukan untuk main-main.

Dia menyarankan agar memperdalam ilmu analisis teknikal untuk menekan resiko rugi besar.

Pun lagi dia sarankan jangan jual-beli Bitcoin karena ikut-ikutan, apalagi gara-gara ada program referral.

“Dulu di awal-awal trading, saya merasa tak tenang. Rasanya seperti dikejar-kejar. Tapi, seiring berjalannya waktu dan belajar banyak tentang analisis teknikal, perasaan itu menjauh,” imbuhnya seraya menegaskan merealisasikan keuntungan dalam jangka pendek saja. [red]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO