spot_img
spot_img

Investasi Bitcoin: Syarat, Peluang dan Tantangannya

Investasi Bitcoin mulai dianggap penting saat ini. Dengan tingkat adopsi besar terhadap kripto nomor wahid itu oleh perusahaan besar kelas dunia, sebut saja misalnya oleh Tesla dan MicroStrategy, warga Indonesia sudah saatnya lebih fokus lagi berinvestasi Bitcoin?

Kalau boleh jujur, jawaban atas pertanyaan itu tidaklah mudah. Ada beragam faktor. Pertama, Bitcoin adalah kelas aset baru. Ibarat orok, dia masih berusia 12 tahun. Masih bocil (bocah kecil). Karena masih baru, masih banyak pertanyaan soal apa itu Bitcoin dan apakah aman, serta bagaimana regulasinya.

Kedua, banyak sejumlah kasus yang terkait kripto, mulai dari peretasan, pencurian hingga kasus pencucian uang. Di sini, pengguna awal dan masih belum mengenal, sangat mudah berbalik kanan. Sebagian juga menerpa para penghuni lama sekalipun.

Ketiga, belum semua negara punya aturan yang seragam soal aset kripto ini. Sejumlah negara menggolongkannya seperti mata uang (currency). Negara lain, seperti Indonesia sejak 2018 menilainya sebagai hanya komoditi dan layak diperdagangkan di bursa berjangka.

Kita sebut saja 3 faktor itu sebagai faktor utama, dari sejumlah faktor lainnya yang masih menggema hingga detik ini. Itu sebuah tantangan.

Investasi Bitcoin, Menjawab Berbagai Tantangan

Patut kita catat di sini, bahwa Bitcoin sebagai sebuah sistem transaksi, sekaligus penciptaan aset bernilai di luar struktur negara, adalah sebuah inovasi penting di abad ini.

Bitcoin sejajar dengan penemuan mobil pasca penggunaan pedati bertenaga kuda, termasuk penemuan pesawat terbang, pasca mobil dan sepeda motor kurang memenuhi hasrat manusia untuk lebih efisien dalam berakvititas.

Dan Bitcoin adalah inovasi penting yang menghasilkan efisiensi waktu dan biaya di sektor keuangan. Ia mengguncang sistem lama yang didominasi oleh perbankan. Ia mengguncang sistem lama yang didominasi oleh perusahaan teknologi keuangan konvensional.

Karakter revolusi Bitcoin tentu saja adalah memungkinkan Anda mengirimkan “uang digital” tanpa melalui sistem perbankan. Jumlahnya tidak terbatas dan relatif murah dan cepat.

Nah, menggunakan pendekatan keunggulan teknologi, praktis bisa menekan hambatan untuk mengadopsinya sebagai sebuah sistem keuangan baru. Ini juga sebagai instrumen ampuh untuk menjawab sejumlah tantangan itu.

Bukankah sangat alamiah manusia mencari teknologi yang jauh lebih efisien daripada teknologi sebelumnya?

Bukankah sangat wajar manusia mendambakan kecepatan dan murahnya mengirimkan uang, secepat ia mengirimkan surel atau menonton video di Youtube?

Inovasi Versus Regulasi

Dalam setiap perubahan adab manusia, inovasi adalah bagian paling sentral. Teknologi traktor membantu petani mempercepat panen hasil tani. Teknologi e-mail yang menggantikan kerja pak pos memudahkan kita berkomunikasi dan berbisnis. Banyak inovasi lain yang mengubah hidup kita.

Namun juga, adalah wajar setiap hadirnya inovasi kerap bertentangan dengan regulasi. Ini terjadi setiap saat, karena inovasi yang jauh lebih efisien, “menggangu” sistem yang lama. Sedangkan regulasi dibuat jauh sebelum inovasi baru tiba.

Untuk mengatasi ini, regulasi tidak bisa dibuat seketat mungkin, apalagi menghalangi orang untuk berinvestasi, termasuk soal teknologi blockchain dan aset kripto yang menjadi produk bernilainya.

Indonesia dan Bitcoin Itu

Persentuhan warga Indonesia, warga +62 dengan Bitcoin sesungguhnya sudah lama. Ada yang memulainya dari dunia game daring, jauh sebelum ada bursa kripto untuk perdagangan. Ada pula yang baru memulainya bulan lalu dan masih hijau melihat fenomena ini.

Geliat pasar kripto di Indonesia tergolong mengesankan, dengan nilai volume perdagangan mencapai triliunan rupiah per hari.

Besaran itu menarik minat Pemerintah Indonesia untuk mengelolanya, baik dari segi keamanan pengguna, termasuk soal pajak.

Singkat kata, ada nilai ekonomi di pasar kripto Indonesia dan ini mencerminkan apresiasi besar terhadap Bitcoin, khususnya, oleh warga Indonesia.

Sebagian dari Anda mungkin tak nyaman dengan volatilitas harga Bitcoin yang naik turun cepat bak roller coaster.

Namun sebagian lagi menyukai “karakter unik” itu, sebagai sebuah tantangan, wajah baru aset digital yang berbasis pasar bebas. Bitcoin murni berdasarkan permintaan dan penawaran. Bitcoin murni sebagai aset yang terbuka bagi siapa saja.

Mengapa Warga Indonesia Suka Bitcoin?

Memang tak ada hasil survei yang pas untuk menjawab itu. Tetapi, warga Indonesia menemukan satu tempat di mana volatilitas harga aset adalah penting bagi pertumbuhan portofolio trading dan investasi mereka.

Di sini, warga Indonesia memahami bahwa aset berisiko tinggi seperti Bitcoin justru memberikan imbal hasil yang lebih besar daripada aset lain, seperti emas, valas ataupun saham.

Jikalau kita sebut itu adalah paradigma baru dan corak pikir yang sangat unik, mengapa kita tidak mencobanya saja?

Testing the market ini, pun tidak perlu uang yang banyak, tetapi perlu cara berpikir yang agak berbeda dengan trading di aset lain. Jawabannya adalah soal alokasi portofolio.

Peralihan minat berinvestasi Bitcoin tentu saja dengan melihat fakta yang nyata, bahwa imbal hasil Bitcoin jauh melampaui imbal hasil di kelas aset lain.

Kita ambil contoh sepanjang tahun 2020. Kita bandingkan antara emas dan Bitcoin. Jikalau Anda membeli emas pada Januari 2020 dan menjualnya pada Desember 2020, emas berbobot 1 troy ons, hanya memberikan imbal hasil sebesar 28-30 persen. Di waktu yang sama, berinvestasi Bitcoin, memberikan imbal hasil sebesar 300 persen.

Jika kita per lebar rentang waktunya, katakanlah 5 tahun terakhir, Bitcoin tetap memberikan imbal hasil yang jauh lebih besar, hingga ribuan persen. Jadi, modal investasi sekecil apapun di Bitcoin, tetap memberikan imbal hasil sangat mencolok dibandingkan emas.

Rumusan Investasi Bitcoin

Investor kawakan asal Amerika Serikat, Suze Orman, menyarankan porsi investasi Bitcoin adalah tidak lebih 5 persen dari total portofolio investasi Anda.

Jadi, misalnya Anda berencana menambah nilai investasi Anda menjadi Rp50 juta, maka alokasi untuk Bitcoin, setara 4 persen, yakni cukup Rp2 juta saja. Selebihnya, Anda bisa pilih, mulai dari emas, saham, deposito atau properti.

Cara ini pun harus Anda padukan dengan membaginya dengan jenis kripto lain, selain Bitcoin.

Memang tak ada cara dan formula baku untuk berinvestasi di Bitcoin. Tetapi rumusan lama soal investasi, yakni diversifikasi adalah amat penting. Ini masuk kategori manajemen keuangan dan selaras dengan pendapatan Anda.

Oleh sebab itu, dalam berinvestasi Bitcoin, sangat tidak disarankan menggunakan uang hasil utang, terlebih-lebih menggunakan kartu kredit. Gunakanlah uang dingin, uang yang memang Anda persiapkan untuk trading ataupun berinvestasi.

Rentang Waktu Investasi

Rentang waktu investasi juga diperlukan. Kalau menyebut definisi investasi memerlukan jangka waktu lebih dari 2 tahun. Ini berbeda dengan trading yang relatif singkat mulai dari hitungan hari bahkan jam.

Ini dikembalikan pada cara pandang Anda sendiri. Jika Anda memperlakukan investasi Bitcoin seperti emas, maka lakukanlah dalam rentang waktu yang panjang. Anda bisa membaca artikel ini soal riwayat harga Bitcoin di rentang waktu yang berbeda.

Ini disandarkan pada kenyataan, bahwa pembeli besar Bitcoin sudah berada di tingkat perusahaan, bukan retail alias perseorangan.

Lihatlah Tesla, Square dan MicroStrategy memborong Bitcoin sebagai bagian dari neraca keuangannya sejak tahun 2020. Mereka enggan kehilangan nilai keuangan mereka, karena dolar yang merana selama beberapa dekade terakhir. Emas pun bagi mereka kurang menarik.

Lihat pula perusahaan lain, seperti CME punya produk Bitcoin berjangka sejak Desember 2017. Termasuk di Binance sebagai bursa kripto terkemuka punya produk kripto berjangka yang diminati jutaan pengguna di seluruh dunia.

Produk Binance adalah cerminan minat masyarakat dunia, termasuk dari Indonesia terhadap kripto.

Bitcoin memang tidak untuk semua orang, tetapi sangat perlu dipertimbangkan demi kesehatan keuangan Anda.

Ketika investasi di kelas aset lain, jauh di bawah tingkat inflasi rupiah tahunan, maka Anda perlu mempertimbangkan membeli Bitcoin.

Dengan kata lain, jika Anda ingin memperluas dan menumbuhkan nilai aset dan mampu menanggung risiko, Bitcoin adalah investasi yang layak. Dan jangan pernah berinvestasi lebih daripada risiko yang sanggup Anda tanggung.

Setelah Anda siap, jadikanlah Bitcoin sebagain bagian dari portofolio investasi (jangka panjang) atau lewat trading, baik di pasar spot dan berjangka. [ps]

spot_img

Terkini

spot_img

Terkait