Bulan lalu sudah diramalkan bahwa Natal 2019 adalah Natal kelabu bagi pemilik Bitcoin. Dan hari ini kian terbukti, ketika Bitcoin sempat turun cepat hingga US$200 dalam 30 menit.

Walaupun Bitcoin terkenal sangat volatil dan sebagai aset bernilai yang sangat berisiko, tentu kita perlu penjelasan yang cukup masuk akal.

Dalam tempo 30 hari terakhir, Bitcoin sudah terjerembab hingga 21,6 persen, turun dari US$8.408,52 menjadi US$6.587,97.

Jikalau ditarik dari harga puncak sepanjang tahun ini, yakni US$13.796,49 (27 Juni 2019), maka nilai Bitcoin sudah tergerus hingga 52,2 persen!

Ini bukan pertama kalinya harga Bitcoin mengejutkan para analis tahun ini. Grafik pergerakan harga Bitcoin tahun ini menampilkan pola bergelombang dan terjal, yang menggambarkan upaya aset kripto nomor wahid ini yang sering berupaya untuk keluar dari bearish yang berlarut-larut.

BERITA TERKAIT  Kepala SFC Hong Kong: Mustahil Melarang Perdagangan Kripto

Saat ini harga satu Bitcoin melorot di US$6.587,97. Pasar aset kripto secara umum pun berada di zona merah, termasuk 10 besar aset kripto dunia. Kapitalisasi pasar aset kripto luruh hampir US$10 miliar, menjadi US$178 miliar dalam waktu kurang dari 12 jam.

Beragam spekulasi pun bergerak liar menjelaskan. Salah satunya adalah kasus Skema Ponzi PlusToken asal Tiongkok. Pada 16 Desember 2019 lalu, Chainalysis menyebutkan, bahwa pengelola PlusToken yang memegang sejumlah besar Bitcoin-nya, yang menyebabkan jatuhnya harga Bitcoin.

Memang nilainya tak tanggung-tanggung. “Pada 20 September 2019, pengelola PlusToken berhasil mengumpulkan Bitcoin senilai US$34 juta. Lalu, setelah Bitcoin ditransfer ke beberapa bursa kripto (di Huobi terbesar), Bitcoin turun perlahan antara 24 dan 26 September 2019 dari US$10.000 menjadi sekitar US$8.000 dan bertahan di level itu selama kira-kira sebulan. Menurut analisis kami, transfer Bitcoin sebanyak itu ke bursa kripto, terkait erat dengan penurunan harga Bitcoin secara global,” sebut ChainAlysis.

BERITA TERKAIT  Menambang Monero Pakai Smartphone? Ini Kata HTC

ChainAlysis memperkirakan bahwa PlusToken telah menjual sekitar 25.000 Bitcoin (sebagian besar dijual di bursa kripto Huobi) dan 20.000 Bitcoin lainnya tersebar di lebih dari 8.700 alamat (address) yang tidak terindentifikasi identitas pemiliknya dan belum dijual.

Tetapi fakta itu, bagi pihak lain tidak cukup untuk menjelaskan turunnya harga Bitcoin. Kata Brian Kerr, CEO Kava Labs dalam wawancara dengan Decrypt, jabaran Chainalysis soal PlusToken tidak menegaskan angka perdagangan yang sesungguhnya.

Penjualan Bitcoin dalam jumlah banyak oleh beberapa trader dan pasar bearish yang berkepanjangan juga dianggap sebagai penyebabnya.

“Banyak perusahaan dan individu yang memegang Bitcoin atau aset kripto lainnya merasa perlu menjualnya untuk pengeluaran mereka sehari-hari. Lihat, kini tingkat likuiditasnya rendah, termasuk volume perdagangannya,” kata Simon Yu, CEO StormX. [Decrypt/vins]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO