Staking memang terlihat sederhana, kamu mengunci aset kripto dan mendapatkan reward. Namun di balik itu, ada banyak detail teknis yang sering diabaikan. Bagi investor pemula, memahami kesalahan umum dalam staking bisa menyelamatkan kamu dari potensi kerugian besar dan membantu membangun strategi yang lebih matang.
Berikut ini adalah beberapa kesalahan pemula dalam staking crypto yang paling sering terjadi dan tentu saja, cara menghindarinya.
BACA JUGA: 6 Strategi Staking untuk Pemula Buat Kamu yang Masih Bingung!
Daftar Kesalahan Umum dalam Staking
Kesalahan umum dalam staking biasanya terjadi karena kurangnya riset, tergiur imbal hasil tinggi, dan minimnya pemahaman soal risiko teknis di balik sistem blockchain. Yuk, pelajari selengkapnya di bawah ini!
BACA JUGA: 10 Aset Kripto Untuk Staking Terbaik Pada Tahun 2026!
1. Tidak Melakukan Riset Validator
Salah satu kesalahan dalam staking crypto yang paling sering terjadi adalah memilih validator hanya berdasarkan APY tertinggi. Padahal, validator yang tidak stabil bisa menyebabkan kamu kehilangan reward, bahkan terkena slashing (pemotongan aset).
Validator yang buruk biasanya memiliki uptime rendah atau rekam jejak operasional yang belum terbukti. Jika validator sering offline, kamu tidak akan menerima reward optimal. Lebih parah lagi, jika validator melanggar aturan jaringan, aset kamu bisa ikut terdampak.
Solusinya, selalu cek performa validator di block explorer seperti Etherscan atau Solscan, lihat uptime di atas 99 persen, dan pastikan validator sudah beroperasi minimal beberapa bulan. Mulai dengan nominal kecil untuk uji performa sebelum menambah stake.
2. FOMO pada APY yang Tidak Masuk Akal
Godaan terbesar dalam staking adalah angka APY yang tinggi. Tapi jika kamu melihat imbal hasil di atas 50 persen untuk stablecoin atau bahkan 100 persen untuk altcoin, itu sudah menjadi red flag besar.
Kasus runtuhnya Anchor Protocol di ekosistem Terra (blockchain) menjadi pelajaran mahal bagi banyak investor. Platform tersebut sempat menawarkan sekitar 20 persen APY untuk UST, tetapi akhirnya kolaps dan menyebabkan kerugian miliaran dolar.
Selalu waspada terhadap proyek tanpa audit, tanpa whitepaper jelas, tim anonim, atau skema referral agresif. Dalam dunia kripto, imbal hasil tinggi selalu datang dengan risiko tinggi.
3. Menaruh Semua Dana di Satu Platform
“Don’t put all your eggs in one basket.” Prinsip klasik ini sangat relevan dalam staking.
Banyak pemula melakukan kesalahan umum dalam staking dengan menaruh seluruh dana di satu platform atau satu blockchain. Jika platform tersebut diretas atau jaringan mengalami gangguan teknis, semua dana dan reward kamu bisa terdampak sekaligus.
Strategi yang lebih aman adalah membatasi maksimal 30–40 persen portofolio pada satu platform, melakukan diversifikasi ke beberapa blockchain berbeda, serta menggabungkan staking di centralized exchange (CEX) dan non-custodial wallet.
BACA JUGA: 10 Platform Staking Terbaik di Indonesia: Mana yang Paling Aman?
4. Mengabaikan Biaya Gas
Biaya gas sering dianggap sepele, terutama di jaringan seperti Ethereum (blockchain). Padahal, saat jaringan padat, biaya transaksi bisa lebih mahal dari reward yang kamu klaim.
Bayangkan kamu mendapatkan reward 0,01 ETH senilai US$30, tetapi harus membayar gas fee US$40 untuk mengklaimnya. Alih-alih untung, kamu justru rugi.
Untuk menghindarinya, klaim reward saat gas fee rendah (biasanya di akhir pekan atau jam tertentu), gunakan platform auto-compound, atau pertimbangkan liquid staking yang secara otomatis mengakumulasi reward tanpa perlu klaim manual.
5. Tidak Membackup Seed Phrase dengan Benar
Ini mungkin kesalahan paling fatal. Kehilangan seed phrase berarti kehilangan akses permanen ke aset kamu. Tidak ada customer service di dunia blockchain yang bisa mengembalikannya.
Banyak kasus kehilangan aset bernilai miliaran rupiah terjadi hanya karena seed phrase disimpan di cloud, difoto, atau hilang tanpa backup. Cara paling aman adalah menuliskannya di kertas, membuat beberapa salinan, menyimpannya di lokasi berbeda, atau menggunakan metal backup plate tahan api dan air.
Dalam ekosistem kripto, kamu adalah bank untuk diri sendiri. Artinya, tanggung jawab keamanan sepenuhnya ada di tangan kamu.
Sudahkah Kamu Menghindari Kesalahan Umum dalam Staking?
Pada akhirnya, memahami kesalahan umum dalam staking seperti kurang riset validator, tergiur APY tidak realistis, tidak melakukan diversifikasi, mengabaikan biaya gas, hingga lalai menjaga seed phrase adalah langkah awal untuk menjadi investor kripto yang lebih bijak. Staking memang terlihat sederhana, tetapi di baliknya ada risiko yang perlu kamu pahami dengan serius agar potensi cuan tidak berubah jadi kerugian.
Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn].
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



