Korsel Siap Kembangkan Sistem Pembayaran UKM Pakai Stablecoin

Korea Selatan (Korsel) mulai mempersiapkan pengembangan sistem pembayaran baru berbasis stablecoin untuk mendukung efisiensi keuangan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).

Berdasarkan laporan media lokal Maeil Business Newspaper pada Rabu (18/3/2026), inisiatif ini muncul sebagai respons terhadap masalah arus kas yang selama ini membebani sektor industri, terutama akibat lamanya proses pembayaran dalam rantai pasok.

Dengan memanfaatkan teknologi blockchain, sistem ini diharapkan mampu mempercepat transaksi sekaligus mengurangi ketergantungan UKM terhadap pembiayaan berbunga tinggi.

Permasalahan tersebut terlihat jelas pada sektor manufaktur, di mana produsen suku cadang otomotif dilaporkan harus menunggu hingga 45 hari untuk menerima pembayaran dari mitra bisnis.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Selama masa tunggu tersebut, perusahaan terpaksa menutup kebutuhan operasional melalui pinjaman dengan bunga tinggi. Kondisi ini dinilai tidak efisien dan berisiko menghambat pertumbuhan bisnis, khususnya bagi pelaku usaha berskala kecil.

BACA JUGA:  Bos CFX Soroti Rendahnya Literasi Kripto di Kalangan Generasi Muda

Solusi Pembayaran Instan Berbasis Blockchain

Dalam upaya mengatasi kendala tersebut, stablecoin mulai dipertimbangkan sebagai solusi pembayaran yang lebih cepat dan efisien.

Dengan memanfaatkan teknologi blockchain, proses settlement dapat dilakukan hampir secara instan tanpa harus melalui sistem perbankan biasa yang cenderung lambat. Selain itu, penggunaan stablecoin juga berpotensi menekan biaya transaksi secara signifikan.

Pembahasan mengenai penerapan sistem ini mengemuka dalam Seminar bertajuk “Strategi K-Stablecoin” yang digelar pada Rabu (18/3/2026) di Aula KBIZ Federasi Usaha Kecil dan Menengah Korea, Yeouido, Seoul.

Acara tersebut diselenggarakan oleh Maeil Economic TV bersama Koperasi Bisnis Blockchain Korea, serta dihadiri oleh para ahli dari Bank of Korea, kalangan akademisi dan pelaku industri.

Dalam forum tersebut, berbagai pihak membahas strategi inovasi infrastruktur pembayaran digital untuk meningkatkan efisiensi manajemen UKM. Ketua Koperasi Bisnis Blockchain Korea, Oh Jong-wook, menekankan potensi teknologi ini dalam menekan biaya operasional pelaku usaha.

BACA JUGA:  Sandiaga Uno: Kripto Bukan “Investasi”, Tapi Sarana Belajar

Stablecoin dapat mencegah kebocoran uang dari kantong perusahaan kecil dan menengah melalui biaya nol, pembayaran global secara real-time dan perlindungan kredit melalui kontrak pintar,” ujar Oh Jong-wook.

Project Han River dan Konsep Uang Terprogram

Sejalan dengan inisiatif tersebut, Bank of Korea juga tengah mengembangkan proyek bernama “Project Han River” yang berfokus pada pembangunan sistem pembayaran digital nasional.

Proyek ini tidak hanya mencakup uji coba teknologi, tetapi juga mulai diarahkan pada implementasi nyata di sektor bisnis, termasuk UKM dan jaringan franchise.

Salah satu fitur utama dalam pengembangan ini adalah konsep Purpose Bound Money (PBM), yaitu uang digital yang dapat diprogram sesuai dengan tujuan tertentu.

Melalui teknologi ini, dana yang dikirim dapat dibatasi penggunaannya, misalnya hanya untuk pembayaran kepada pemasok atau pembelian bahan baku tertentu. Selain itu, dana juga dapat diberi batas waktu penggunaan, sehingga meningkatkan kontrol dan efisiensi dalam pengelolaan keuangan.

BACA JUGA:  Analisis Kripto Hari Ini: BTC, ASTER, SOL, XLM, LTC Siap Tentukan Arah Besar

Sistem ini juga memungkinkan otomatisasi pembayaran berbasis kondisi tertentu. Misalnya, pembayaran baru akan diproses setelah barang diterima atau layanan selesai diberikan. Dengan demikian, risiko keterlambatan pembayaran maupun potensi sengketa dapat diminimalkan.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait