Lael Brainard, Dolar Digital dan Inklusi Keuangan

Anggota Dewan Gubernur Bank Sentral, Lael Brainard diperkirakan sebagai kandidat utama sebagai Menteri Keuangan di era Pemerintahan Biden-Harris. Corak pikirnya tentang inklusi keuangan dan mendukung dolar digital bisa membawa perubahan baru di AS, kendati dia terkenal sebagai pendukung pelonggaran kuantitatif.

Wujud baru mata uang digital kian mengemuka ketika pandemi COVID-19 melanda dunia. Sejumlah negara bergerak mengkaji, meneliti dan mengembangkannya. Bahkan Bank Sentral Tiongkok lebih jauh di depan, sampai pada tahap ujicoba berkali-kali sejak medio tahun 2020. Yuan digital mereka kelak mendapatkan panggung besar pada perhelatan akbar Olimpiade Musim Dingin 2022 mendatang.

Perihal dolar digital, Lael Brainard pernah mengungkapkan betapa pentingnya kehadiran pengganti uang tunai itu. Kesannya pun tak terlalu terburu-buru untuk menerbitkan, melainkan melalui sejumlah penelitian lebih lanjut.

Bank Sentral AS Berpotensi Terbitkan Mata Uang Digital Sendiri

Itupun ditegaskan belum lama ini oleh Ketua Bank Sentral AS, Jerome Powell. Dia bilang tidak tidak perlu cepat, tetapi tepat.

BERITA TERKAIT  Mata Uang Digital AS, Shopify dan "Lampu Hijau" untuk Libra

Yang pasti di atas kertas, Bank Sentral AS mempertimbangkan dolar digital itu akan efisiensi lebih tercapai daripada penggunaan uang tunai fisik dan sistem uang elektronik yang ada saat ini.

Lael Brainard (14438068496).jpg
Lael Brainard. Sumber: Wikipedia.

Dolar digital juga dipandang lebih efektif dalam membuat kebijakan moneter, jadi lebih terukur dan akurat. Bank Sentral AS juga mengakui bahwa pengakajian dolar digital masih berlangsung, khususnya bersama kampus MIT.

Lael Brainard pernah juga mengungkapkan bahwa menurutnya dolar digital yang dikelola langsung oleh bank sentral dapat digunakan untuk inklusi keuangan yang lebih besar.

Yuan Digital Ampuh Tebas Dominasi Dolar?

Karya akademis Brainard adalah tentang kemiskinan dan pengentasannya. Baginya dolar digital dalam konteks Central Bank Digital Currency (CBDC) memiliki beberapa tantangan kebijakan dan legislatif; salah satunya adalah apakah AS memerlukan undang-undang baru untuk memastikan bahwa CBDC yang muncul adalah legal tender (alat bayar sah).

Namun, pandemi telah mempercepat penelitian soal CBDC di seluruh dunia. Mungkin CBDC akan hidup berdampingan dengan metode pembayaran lainnya.

Bank Sentral Mau Bikin Mata Uang Digital? Sekarang Sudah ada Software-nya!

Dolar juga memiliki dimensi internasional, kekhawatiran Brainard tentang penyebaran cepat “penularan ekonomi lintas batas” melalui media digital, terungkap dalam pidatonya yang ia berikan di Bank Sentral Cabang San Francisco, beberapa waktu lalu.

BERITA TERKAIT  Dai Berpadu dengan Fungsi Cross-chain Besutan Wanchain

Brainard juga memiliki hubungan yang sangat baik dengan Tiongkok, bahkan dengan pandangannya, jadi menarik untuk melihat bagaimana yuan digital dan proyek Blockchain Service Network (BSN) Negeri Panda itu bisa diadopsi sebaliknya pada penerapan luas proyek dolar digital.

Penerbitan Dolar Digital, The Fed: Lebih Baik Tepat daripada Cepat

Terkait hukum demokrasi di AS, penerbitan dolar digital setidaknya mempertimbangkan hal paling mendasar, yakni apakah konstitusi benar-benar mendukung kendali privasi dan data pengguna dalam wujud digital.

Pasalnya, privasi lebih tinggi lebih tercapai menggunakan uang tunai yang fisik. Di sini solusi yang paling masuk akal adalah, bagaimana memunculkan privasi pada dolar digital, yang kurang lebih sama dengan uang tunai fisik.

BERITA TERKAIT  Lowongan Kerja Blockchain Didominasi Perusahaan Tradisional

Terkait konstitusi, maka perlu interpretasi ulang, sebelum menerbitkan undang-undang khusus soal dolar digital.

Brainard adalah mungkin adalah sosok tepat mendorong penerbitan dolar digital. Dalam kebijakan moneter, dia bahkan mungkin penganut Modern Monetary Theory (MMT), mendorong pelonggaran kuantitatif tak terbatas.

Namun, Brainard yang kurang lebih cukup pro dengan dolar digital, kelak bisa mendorongnya lebih jauh, karena AS tidak lebih agresif daripada Tiongkok, sebagai negara yang sama-sama jago soal berdagang.

Namun, di atas itu semua, dolar digital hanya wujud objek bernilai sama seperti objek lainnya yang sangat dihargai. Di atas itu uang hanya berdaulat terhadap penggunanya dan negara, jika sistem dan pelaksana benar-benar bijaksana, mendistribusikan dolar kepada yang lebih berhak, misalanya lebih banyak kepada UMKM, bukan kepada warga elit. Itulah namanya inklusi keuangan.[red]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO