Mengenal Tether (USDT) untuk “Kirim Dolar” Lintas Negara

Kehadiran stablecoin bernilai uang dolar AS telah lama memudahkan transaksi di pasar kripto. Karena nilainya stabil, ia bermanfaat untuk “menjaga nilai dana” pengguna, termasuk memudahkan transfer dana lintas negara dengan biaya kirim yang lebih murah daripada menggunakan layanan bank atau Western Union. Di bursa kripto di Indonesia, misalnya USDT bisa ditukar menjadi uang rupiah dan sebaliknya. Di antara sejumlah stablecoin yang ada saat ini, Tether (USDT) yang dibuat sejak 2014, adalah yang terbesar saat ini, karena digunakan luas di sejumlah bursa kripto di seluruh dunia. Artikel ini mengulik lebih dalam soal USDT, khususnya bagi Anda yang masih awam.

Apa manfaat USDT?
Sebutan singkat untuk USDT adalah Tether, yang merujuk pada perusahaan Tether Limited yang berbasis di Hong Kong. USDT sendiri adalah singkatan dari United States Dolar Tether, di mana nilai 1 unit USDT setara dengan nilai 1 dolar AS dan dapat ditukar menjadi uang fiat termasuk rupiah. Di Indonesia, sejumlah bursa kripto yang menyediakan pertukaran USDT dengan rupiah, di antaranya adalah Indodax dan tokocrypto.com.

USDT sebenarnya token digital yang dibuat menggunakan teknologi blockchain untuk merepresentasikan/mewakili uang fiat (dalam hal ini adalah uang dolar AS yang asli atau aset fisik lain yang setara dengan nilai dolar AS), yang dimiliki dan disimpan oleh perusahaan Tether Limited. Jadi, jumlah unit USDT yang digunakan luas saat ini “dipercaya” sama jumlahnya dengan uang dolar asli. Inilah yang disebut sebagai collateral asset.

Mungkin Anda bertanya, mengapa uang dolar AS yang asli itu dibuatkan “token digitalnya” berbentuk USDT? Jawabannya adalah untuk mempermudah transfer uang lintas negara, karena tak lagi menggunakan sistem transfer bank biasa. Dengan menggunakan USDT biaya kirim pun jauh lebih murah, terlebih-lebih untuk mengirimkan jumlah dana yang sangat besar antar negara yang berbeda.

“Secara umum, jelas lebih mudah dan lebih cepat menggunakan USDT. Kalau soal biaya tergantung konteksnya. Bank bisa lebih murah di beberapa hal, seperti transfer antar bank yang serupa atau transfer dalam negeri. Namun, kalau transfer ke luar negeri atau ke bank lain di luar negeri, layanan perbankan jauh lebih mahal daripada menggunakan USDT,” kata Aditya Kinarang, CEO bursa kripto Biido.com.

USDT yang menggunakan OMNI Layer dengan blockchain Bitcoin, misalnya biaya kirimnya hanya 2-5 USDT, bergantung bursa kripto yang Anda gunakan. Berapapun jumlah dana yang ingin ditransfer dan ke manapun ingin Anda transfer, biayanya tetap 5 USDT. Jadi, jika Anda ingin mengirimkan 10.000 USDT, biaya transfernya tetap 5 USDT. Kalau mengacu kurs saat ini, 5 USDT kira-kira setara dengan Rp70.600.

Berdasarkan data dari Coinmarketcap.com, USDT saat ini merupakan stablecoin yang paling banyak digunakan di pasar kripto saat ini. Di Coinmarketcap.com, USDT berada di peringat ke-7, dengan kapitalisasi mencapai US$4 miliar. Dengan volume perdagangan 24 jamnya sebesar US$17 miliar, ini mencerminkan sirkulasi USDT “sangat kencang” di sekitar 400 bursa kripto di seluruh dunia.

Prinsip Kerja
USDT versi pertama dibuat di jaringan blockchain Bitcoin dengan bantuan OMNI Layer Protocol (sebelumnya Mastercoin). Disebut sebagai protokol, karena sifatnya “memandu” jalannya transaksi data digital pada blockchain Bitcoin dan memastikan nilai yang ditransfer tetap stabil.

Protokol OMNI dirancang oleh J.R Willett pada Januari 2012 dan diluncurkan resmi pada 31 Juli 2013 dalam proyek Mastercoin. Jadi, sebagai satu kesatuan sistem blockchain, OMNI dapat disebut sebagai lapis kedua blockchain Bitcoin agar fitur tertentu bisa ditambahkan kepadanya.

Saat ini, selain menggunakan blockchain Bitcoin, USDT juga menggunakan blockchain EOS, TRON dan Ethereum.

Alternatif transfer uang internasional
Teknologi blockchain yang berawal mula dari Bitcoin memang diperuntukkan sebagai sistem uang elektronik berskala global yang tidak melibatkan sistem pembayaran yang digunakan oleh negara dan bank. Karena blockchain Bitcoin bisa diakses di mana dan kapan saja, sepanjang ada akses Internet, maka mengirimkan dana bisa dilakukan lintas negara alias Internasional berbiaya lebih murah.

Sebagai perbandingan, inilah contoh pengiriman uang dolar AS (transfer valas) di Bank Mandiri Syariah. Bapak Andi akan melakukan transfer dolar AS dari Mandiri Syariah Cabang Sidoarjo ke Ibu Putri di Citibank di Los Angeles, Amerika Serikat sebesar US$100.000. Bapak Andi ingin uang diterima dalam bentuk full amount alias nilainya penuh. Maka, Bapak Andi dikenakan tarif transfer sebagai berikut: 1. Komisi Bank: U$100.000 x 0,125 persen=U$125, 2. Biaya SWIFT=US$5, 3. Biaya Bank Koresponden=US$20. Total Biaya Transfer= U$150 (Rp2,1 juta). Rata-rata lama pengiriman antar bank bisa mencapai 2-4 hari kerja, bahkan lebih. Beberapa bank dalam negeri bahkan mengharuskan nasabah atau non-nasabah menyerahkan beragam syarat-syarat lainnya.

Dalam beberapa hal, mengirimkan uang lintas negara menggunakan bank bisa lebih cepat jikalau antar bank yang sama atau bank berbeda tapi masih terafiliasi menggunakan ATM. Namun, sekali lagi ada sejumlah syarat lain yang dibebankan kepada pengguna.

Sedangkan layanan pengiriman uang internasional Western Union menagih minimal Rp112.500 untuk transfer dana lebih kecil dari Rp750.000. Pengalaman seorang sahabat beberapa waktu yang lalu, mengirimkan duit setara Rp50 juta dari Indonesia ke Hong Kong menggunakan Western Union, dia perlu merogoh kocek Rp700.000 untuk biaya transfernya. Dalam tempo 1 jam dana sudah sampai, bisa ditransfer ke rekening bank atau tarik tunai di negara tujuan.

Sedangkan menggunakan USDT biaya transfernya hanya 2-5 USDT, tergantung kebijakan bursa kripto atau wallet kripto yang digunakan. Lama pengiriman rata-rata 30-60 menit. Tetapi, ketika Anda menukarkan (jual) USDT menjadi rupiah atau uang fiat lainnya, biasanya bursa kripto membebankan komisi tertentu. Di salah satu bursa di Indonesia, mematok komisi hingga 0,3 persen. Sedangkan biaya transfer rupiah dari bursa kripto ke rekening bank Anda, Anda dibebankan hingga 1 persen, dipotong dari besaran rupiah yang ditransfer.

Dapat disimpulkan, untuk urusan transfer lintas negara, soal syarat, biaya dan kecepatan kirim, USDT jauh lebih efisien daripada menggunakan layanan bank, termasuk layanan Western Union. Menggunakan layanan bursa kripto, ketika kali pertama mendaftar, cukup menyertakan salinan data diri dan nomor rekening bank dan Anda langsung bisa menggunakan USDT dan layanan tersedia 24 jam penuh, termasuk penarikan ke rekening bank.

Kontroversi
Kendati sanagat popular, USDT juga sarat kontroversi. Pada Januari 2018, Tether Limited gagal melakukan audit yang membuktikan perusahaan tersebut betul-betul memiliki cadangan uang dolar seperti yang diklaim. Hal tersebut mengundang kecurigaan regulator yang mengirim surat panggilan kepada pihak Tether Limited.

Pada April 2019, Jaksa Umum New York Letitia James menuduh perusahaan induk Tether Limited, yakni iFinex menyembunyikan kerugian sebesar US$850 juta dana investor yang dicampuradukkan dengan dana nasabah. Maklumlah, pihak kejaksaan mengklaim bahwa perusahaan itu pernah punya kantor perwakilan di New York dan melayani sejumlah warga Amerika Serikat. Menanggapi hal tersebut, Tether Limited mengklaim dana itu tidak hilang melainkan disita dan diamankan oleh pihak ketiga, yakni Crypto Capital yang bermarkas di Swiss.

Terlepas dari kontroversi tersebut, bursa kripto dan penggunanya tetap menggunakan USDT untuk mempermudah transaksi. Tetapi, satu demi satu mulai muncul saingan Tether yang memiliki keunggulan masing-masing, termasuk mengklaim “lebih legal” daripada USDT. Bukan tidak mungkin suatu hari USDT akan tergeser sebagai stablecoin yang paling dominan. [ed]

Terkini

Warta Korporat

Terkait