spot_img
spot_img

Oscar Darmawan: Masyarakat Indonesia Semakin Sadar Blockchain

Indonesia disebut semakin siap untuk menerapkan teknologi blockchain di sejumlah sektor ekonomi. Blockchain tak hanya soal perdagangan aset kripto yang menjadi keluaran utamanya, tetapi bisa dipraktikkan secara nyata di sektor kesehatan agar data medis lebih transparan dan mudah diakses. Hal itu mengemuka di acara BlockBatam pada 20 Agustus lalu yang diselenggarakan oleh BlackArrow.

Konferensi yang mengusung tema “Creating the Blockchain Capital of South East Asia” itu mengundang lebih dari lima belas pembicara dari berbagai institusi, seperti Badan Pengusahaan Batam, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Indonesia Digital Asset Exchange (INDODAX) dan lain sebagainya.

CEO Indodax Oscar Darmawan misalnya, mengatakan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia telah mengetahui apa itu aset digital (aset kripto) yang dihasilkan dari teknologi blockchain. Selain itu, teknologi blockchain sebagai salah satu temuan terbesar setelah Internet, tentu dapat diterapkan di Indonesia, khususnya di Batam.

“Kita punya alasan kuat untuk menerapkan teknologi blockchain secara baik di Indonesia. Alasan yang utama adalah struktur demografi Indonesia yang didominasi oleh anak muda yang selalu haus akan inovasi baru. Hal lainnya, industri blockchain telah mendapatkan dukungan dari pemerintah Indonesia. Untuk memperkuat kesadaran itulah, di Indodax kami memiliki program Indodax Academy dalam upaya menggaet kalangan milenial itu,” papar Oscar.

Pembicara lainnya, Edy Putra Irawady selaku Kepala Badan Pengusahaan Batam menyebutkan bahwa teknologi blockchain sangat ideal diterapkan secara sistematis di Batam, mengingat kota bisnis ini adalah Zona Ekonomi Digital dan sebagai salah satu smart cities di Indonesia.

“Asal tahu saja, bahwa pada September 2017, Presiden Republik Indonesia telah mendeklarasikan Batam sebagai Jembatan Digital Indonesia-Singapura. Ini artinya, blockchain sebagai teknologi baru saya tepat diterapkan di sejumlah sektor bisnis di Indonesia, misalnya di bidang kesehatan untuk merekam data medis,” kata Irawady.

Asisten Deputi Menteri Bidang Moneter dan Neraca Pembayaran Kementerian Koordinator Perekonomian Dr. Edi Prio Pambudi yang juga sebagai pembicara, mengajak masyarakat untuk lebih memiliki semangat dalam mengkaji Blockchain sesuai dengan prospek kerangka peraturan yang telah ada.

“Konsistensi dalam memahami blockchain menurutnya adalah bagian terpenting dari upaya menciptakan efisiensi dalam proses berbisnis, termasuk di dunia medis. Edi mencontohkan bahwa seorang dokter ada baiknya didorong untuk mengenal lebih jauh pengembangan teknologi ini,” tambahnya.

Sebelumnya, dClinic, BP Batam dan Rumah Sakit BP Batam secara resmi telah menandatangani kontrak senilai U$140juta yang bermitra dengan Deloitte Southeast Asia dan JP Consulting, Australia akhir Juli lalu. dClinic akan menerapkan platform Blockchain Kesehatan Publik dengan membuka Pusat Kesehatan dan Vitalitas premium pertama di RSBP Batam dan Batam CBD dalam 6 bulan pertama pada tahun 2020.

Berdasarkan catatan redaksi, kerjasama ini adalah kerjasama pertama terkait penerapan teknologi blockchain yang melibatkan lembaga pemerintah Indonesia. Di sektor yang berbeda, yakni perdagangan aset kripto ada Kementerian Perdagangan dan Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi) yang mengeluarkan peraturan khusus soal aturan main perdagangan aset kripto di bursa berjangka. Berdasarkan peraturan itu, Bitcoin dan dan jenis aset kripto lainnya dikelompokkan sebagai komoditas bukan sekuritas

Peraturan terkait blockchain juga lahir dari tangan Otoritas Jasa Keuangan. Peraturan itu menyebutkan, perusahaan rintisan (startup company) diperbolehkan menghimpun dana dari publik menggunakan teknologi blockchain. [vins]


spot_img

Terkini

spot_img

Terkait