Perusahaan Tambang Bitcoin, Marathon Patent Group (MARA) siap mengumpulkan dana dari publik senilai US$250 juta dalam bentuk saham langsung. Total konsumsi energi tambang Bitcoin global pun meningkat. Sentra tambang masih Tiongkok, lebih dari 50 persen.

“Hasil kotor dari penjualan akan digunakan untuk mendanai bisnis tambang Bitcoin, termasuk perluasan bisnis,” sebut MARA, Selasa (12/1/2021).

Perusahaan asal Las Vegas itu mengatakan 12,5 juta lembar saham siap diserap publik dengan kisaran harga US$20 per lembar saham.

Dilansir dari Coindesk hari ini, harga saham MARA justru anjlok setelah pengumuman itu. Saham turun menjadi US$21,83, meluncur 16,5 persen di sesi pra-pasar Selasa. Pada tahun lalu, saham perusahaan telah melonjak lebih dari 2.500 persen.

BERITA TERKAIT  Bitcoin Undur Diri, Sekian dan Terima Gaji

“Penawaran saham akan ditutup pada 15 Januari 2021,” sebut MARA.

Konsumsi Listrik Membengkak
Bagi perusahaan bermodal jumbo, bisnis penambangan Bitcoin mungkin tampak menggiurkan. Hal ini setidaknya tercermin dari total konsumsi energi tambang Bitcoin global yang meningkat. Tiongkok pun masih mendominasi, lebih dari 50 persen.

Kini tingkat konsumsi listrik tambang Bitcoin sudah melampaui Belanda dan dekati Uni Emirat Arab, yakni 109,89 Terawatt jam per tahun. Sentra tambang Bitcoin masih di Tiongkok

Beberapa waktu lalu disebutkan bahwa total konsumsi listrik tambang Bitcoin secara global hampir melampaui Belanda, yakni 103,36 Terawatt jam per tahun.

Berdasarkan data terbaru dari Cambridge Bitcoin Electricity Consumption Index, konsumsi listrik tambang Bitcoin sudah melampaui Negeri Kincir Angin itu, yakni 109,89 Terawatt jam per tahun.

Peningkatan itu hampir melampaui Uni Emirat Arab, yakni 113,20 Terawatt jam per tahun. Artinya, hanya terpaut 4,4 Terawatt jam per tahun dengan Bitcoin.

BERITA TERKAIT  The Fed Pangkas Suku Bunga, Ini Dampaknya Terhadap Bitcoin
Total konsumsi listrik penambangan Bitcoin secara global, dibandingkan dengan negara lain. Sumber: Cambridge.
Konsumsi listrik per tahun Belanda per 3 Januari 2021, sekitar 108,80 Terawatt jam. Sedangkan Bitcoin sudah mencapai 103,36 Terawatt jam per tahun. Angka itu jauh melampaui Kazakhstan (94,23) dan Pakistan (92,33). Sumber: Cambridge.

Total Konsumsi Listrik Tambang Bitcoin Kini Hampir Setara Belanda

Data konsumsi listrik negara dilansir Cambridge dari data terakhir tahun 2016 oleh Central Intelligence Agency (CIA).

Tingkat konsumsi listrik ini memang selaras dengan peningkatan hash rate penambangan Bitcoin secara global, sejak Desember 2020.

Peningkatan hash rate Bitcoin, seiring harga aset kriptonya yang melejit lebih dari 40 ribu per BTC Januari 2021 ini. Sumber: Bitinfocharts.

Peningkatan konsumsi listrik penambangan Bitcoin dan hash rate, dapat ditafsirkan sebagai cerminan peningkatan permintaan terhadap Bitcoin di pasar aset kripto.

Sementara itu, tingkat profitabilitas yang diperoleh oleh para penambang juga meningkat pesat sejak 18 Oktober 2020.

Tingkat profitabilitas yang diperoleh oleh para penambang juga naik pesat sejak 18 Oktober 2020. Sumber: Bitinfocharts.

Tiongkok Masih Mendominasi
Penambangan Bitcoin juga masih didominasi oleh Tiongkok, mencapai 65,08 persen, disusul oleh Amerika Serikat, lalu Rusia. Wilayah Asia diwakili oleh Malaysia (4,33 persen) di peringkat ke-5.

BERITA TERKAIT  Bobby Lee: Bitcoin US$200 Ribu Akhir 2021

Di Tiongkok sendiri terjadi perubahan besar sentra tambang Bitcoin, dari Sichuan menjadi Xinjiang.

Peralihan ini dimulai sejak November 2020, sebab Xinjiang didapuk sebagai kota industri baru dengan tarif listrik yang lebih murah dan lebih ramah lingkungan, dibandingkan di Sichuan, yang praktis mengandalkan tenaga air yang sangat bergantung pada musim dan diesel.

Tiongkok mendominasi penambangan Bitcoin secara global.
Perubahan besar sentra tambang Bitcoin, dari Sichuan ke Xinjiang, sejak November 2020.

[red]

Protected with blockchain timestamps

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO