Resesi Global 2023 Berdampak Buruk pada Bitcoin?

Sebagaimana telah disuarakan pengamat sebelumnya, Petinggi Dana Moneter Internasional  (IMF), Kristalina Georgieva memperingatkan stagnasi perekonomian bakal mempengaruhi sepertiga dari semua ekonomi dunia. Apakah resesi global 2023 juga berdampak buruk pada Bitcoin?

Dalam sebuah wawancara, direktur pelaksana IMF tersebut mengatakan ekonomi global akan menghadapi tahun yang penuh tantangan di tahun 2023.

“Untuk pertama kalinya dalam 40 tahun, pertumbuhan Tiongkok pada 2022 kemungkinan akan berada pada atau di bawah pertumbuhan global,” kata Georgieva. Perlambatan sudah terlihat di UE, dipicu oleh perang antara Ukraina dan Rusia, katanya.

“Separuh dari UE akan berada dalam resesi tahun depan,” tambah Georgieva.

Namun, menurutnya AS dapat menghindari resesi karena negara tersebut yang paling tangguh dan dapat menghindari resesi. 

“Kami melihat pasar tenaga kerja tetap cukup kuat,” kata Georgieva.

Konsekuensinya, seperti yang telah menjadi jelas pada pertemuan FOMC sebelumnya, pasar tenaga kerja AS akan menjadi fokus utama bank sentral AS ketika harus memutuskan kapan pivot dibenarkan. Pada minggu pertama tahun baru, sejumlah data kunci di pasar tenaga kerja akan dirilis, selain itu, data inflasi berikutnya akan dirilis pada 12 Desember.

Bagaimana Resesi Global mempengaruhi pasar crypto, termasuk Bitcoin?

Peringatan IMF tersebut menyeruak, sementara pasar Bitcoin dan crypto masih berurusan dengan akibat dari keruntuhan FTX. 

Pertanyaan perihal pengaruh resesi global bagi bitcoin dan crypto, menjadi satu pertanyaan kunci untuk tahun 2023, dan bisa dibilang paling kontroversial. 

“Jelas, Bitcoin belum memenuhi janji lindung nilai inflasi pada tahun 2022. Sementara emas membukukan kinerja YTD sebesar -1 persen, harga BTC kehilangan 65 persen secara mengejutkan,” tulis media kripto Bitcoinist, belum lama ini.

Bitcoinist juga menyorot fakta bahwa Bitcoin dan crypto tidak pernah diperdagangkan dalam resesi, sehingga perbandingan historisnya kurang. 

“Selain itu, harus jelas bahwa investor ritel khususnya akan mengalami kesulitan berinvestasi di BTC ketika mayoritas ekonominya buruk.”

Namun di sisi lain, situasi ini bisa menjadi peluang baru bagi Bitcoin untuk memantapkan dirinya sebagai uang tersulit di dunia dengan pasokan maksimum 21 juta. 

“Oleh karena itu, pertanyaannya adalah kemana perginya daya beli dalam resesi? Apakah itu emas, seperti yang terjadi secara historis, atau akankah Bitcoin mendapat bagian yang adil sebagai emas digital?” tulis Bitcoinist.

Hingga penulisan artikel, harga BTC masih tetap datar. Bitcoin mencatat sedikit keuntungan sebesar 1 persen selama 24 jam terakhir dan diperdagangkan pada US$16.671. [ab]

Terkini

Warta Korporat

Terkait