Setelah Proyek Blockchain TON (TONCoin) Beralih dari Tangan Pavel Durov, Bos Telegram

Barangkali sedikit dari Anda sekalian yang pernah mendengar proyek blockchain TON, yang di awal lahir dari tangan Pavel Durov si Bos Telegram yang low profile itu, bersama saudaranya Dr. Nikolai Durov. Dulu TON adalah singkatan dari Telegram Open Network dan baru-baru ini menjadi The Open Network (TONCoin). Menanggalkan kata “Telegram” adalah penanda bahwa Durov tak ikut andil dalam membuat keputusan, setidaknya untuk saat ini.

Proyek TON hampir bersamaan munculnya dengan gagasan Mark Zuckerberg untuk membuat sistem jaringan pembayaran berbasis blockchain-nya masing-masing. Sejumlah artikel di masa lampau terkait TON dan Telegram bisa Anda baca di sini.

Pavel Durov.

Kedua-duanya mengusung mereknya masing-masing guna menarik perhatian sejumlah investor. Durov sebenarnya lebih duluan mewacanakan membuat blockchain sendiri pada awal tahun 2018 dan direncanakan kelak terpadu penuh dengan aplikasi Telegram.

Menyusul kemudian pada tahun yang sama Mark Zuckberg atas nama Facebook menginisasi membuat proyek Libra bersama dengan belasan perusahaan ternama. Libra yang kunjung jelas keluaran produknya akibat tekanan Kongres AS, akhirnya berubah nama menjadi Diem pada tahun 2021, setelah sebelumnya beberapa anggota pendiri malah hengkah. VISA adalah salah satunya.

Sejumlah proyek garapan yang mengatasnamakan Diem ada di proyek kripto Pontem Network berbasis Polkadot, tetapi juga masih gaib.

Diem ingin menerbitkan sejumlah stablecoin yang terpadu di sejumlah platform media sosialnya. Mimpi itu belum terwujud hingga detik ini, malah berbelok mengembangkan Metaverse pada akhir Oktober 2021. Facebook pun berubah merek menjadi Meta Platform, tanpa [belum] embel-embel blockchain-kripto apalagi NFT, hingga beberapa hari lalu ini.

Kembali ke TON, harapan senada lahir dari pikiran Durov kala itu, bersama saudaranya, Nikolai Durov, yang lebih banyak di urusan teknik blockchain.

Jadilah tim TON kala itu berkelana dari Asia hingga Amerika Serikat untuk memburu sejumlah investor. Di Korea Selatan ada yang mengaku sebagai investor besar, bernama Liquid. Dulu nama kriptonya adalah GRAM.

Liquid Kembalikan Uang Hasil Penjualan Aset Kripto Gram Besutan Telegram

Setelah mencapai tanah Paman Sam, Tim TON masalah tersandung kasus, karena pihak SEC menuding ajakan investasi itu ilegal dan tidak punya izin. Kasus itu sudah disidangkan beberapa kali di AS sejak tahun 2019.

Lantas, mungkin karena kapok, Tim TON akhirnya mundur dan memilih berdamai dan mengembalikan semua duit investasi itu.

Blockchain TON (TONCoin), Wajah Baru

Sejak itu pula senyap menyelimuti proyek ambisius ini. Hingga Desember 2021 dan awal tahun 2022 ini barulah ‘senyap-senyap bergembira’, kabar terbaru dari ‘TON baru’ muncul.

Ada banyak kabar, tetapi yang paling menonjol adalah pernyataan Durov di channel resminya pada 23 Desember 2021 ini.

“Ketika Telegram mengucapkan selamat tinggal kepada TON tahun lalu, saya mengungkapkan harapan bahwa generasi pengembang masa depan suatu hari nanti akan melanjutkan visi kami tentang platform blockchain berskala besar. Jadi saya terinspirasi melihat juara kontes coding Telegram terus mengembangkan proyek TON yang terbuka, yang mereka rebranding menjadi Toncoin. Saya juga bangga bahwa teknologi yang kami ciptakan masih hidup dan berkembang. Dalam hal skalabilitas dan kecepatan, TON masih lebih maju dibanding yang lainnya di dunia blockchain. Akan sangat disayangkan apabila melihat proyek ini tidak bermanfaat bagi banyak orang. Berbeda dengan TON asli, Toncoin tidak tergantung pada Telegram. Tapi saya berharap tim Toncoin sukses. Dengan strategi masuk ke pasar yang tepat, mereka memiliki semua yang mereka butuhkan untuk membangun sesuatu yang hebat,” ucap Durov meyakinkan publik, bahwa Telegram sebagai entitas bisnis dan dirinya pribadi tidak masuk urusan TONCoin ini.

Selang beberapa pekan, pada 26 Januari 2022, TON mengumumkan Andrew Rogozov, mantan CEO VK.com, bergabung di TON Foundation sebagai penyelia penuh untuk sejumlah proyek terkait TON ‘agar bisa terintegrasi penuh dengan aplikasi Telegram’.

Andrew Rogozov, Mantan Eksekutif VK.com.

Sejauh ini, debut TON baru ini belum terlalu menonjol, belum lagi menyebut soal tantangan berhadapan langsung dengan proyek blockchain yang lebih mapan. Maka tidaklah heran TON tiba-tiba ngebut dengan NFT guna menjawab tren masa kini, walaupun kriptonya, TONCoin, masih nongkrong di sedikit bursa kripto.

Dengan konteks kekinian industri blockchain, lengkap dengan aksi pencurian, rugpull hingga gegap gempita milyaran rupiah NFT-nya, TONCoin baru datang dengan tantangan tersendiri. Toh hari ini membuat blockchain dan aplikasi terkait tidak sesulit tahun 2014. Yang maha rumit adalah urusan ‘marketing‘.

Bos Telegram, Pavel Durov: Proyek Blockchain TON dan Kripto GRAM Mungkin Ditunda

Ah, bukankah Pavel Durov punya Telegram yang umat aktifnya mencapai 550 juta pengguna, bisa dijadikan medium penjualan? Sulit mendapatkan jawaban meyakinkan dari Durov.

Esok hari dan berikutnya kita tanyakan saja kepada tangan kanan barunya, Andrew Rogozov, karena ia punya misi penting, yakni agar sejumlah proyek terkait TONCoin bisa terintegrasi penuh dengan aplikasi Telegram (dan mungkin dengan VK, Facebook-nya orang Rusia). [ps]

spot_img

Terkini

Terkait