Studi terbaru dari Bank for International Settlements (BIS) mengungkap bahwa stablecoin kini telah menjadi faktor baru yang memengaruhi dinamika pasar valuta asing (forex) global.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa arus dana dalam ekosistem stablecoin tidak hanya berdampak pada pasar kripto, tetapi juga memiliki hubungan langsung dengan pembentukan harga dan likuiditas di pasar forex, terutama di negara berkembang.
Penelitian yang dilakukan BIS ini menganalisis hubungan antara aliran dana stablecoin dan pergerakan nilai tukar. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan arus masuk stablecoin dapat mendorong terjadinya deviasi harga antara kurs di pasar kripto dan pasar forex.
Dalam beberapa kondisi, kenaikan 1 persen arus masuk stablecoin bahkan dapat memicu perubahan harga hingga puluhan basis poin, menandakan adanya dampak nyata terhadap stabilitas nilai tukar.
BIS juga menegaskan bahwa efek ini bukan sekadar korelasi. Dengan menggunakan pendekatan statistik lanjutan, studi tersebut menemukan adanya hubungan kausal antara arus dana stablecoin dan pergerakan pasar forex.
Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas di pasar kripto kini dapat memengaruhi kondisi likuiditas dolar secara global, sekaligus memperkuat keterkaitan antara dua sistem keuangan yang sebelumnya dianggap terpisah.
“Seiring meningkatnya elastisitas permintaan seiring dengan kematangan pasar, guncangan arus yang sama menghasilkan respons harga yang lebih besar, menunjukkan bahwa risiko limpahan dapat meningkat seiring perkembangan pasar,” ungkap laporan tersebut.
Dominasi Dolar AS Dorong Munculnya Pasar Paralel Stablecoin
Dalam laporan tersebut, BIS juga menyoroti dominasi dolar AS dalam industri stablecoin. Disebutkan bahwa sebagian besar stablecoin utama berbasis dolar AS, sementara mata uang lain masih dalam tahap awal pengembangan.
Para peneliti mengamati bahwa sekitar 70 persen konversi dari mata uang fiat ke stablecoin berasal dari pasar non-dolar AS, yang menunjukkan tingginya permintaan terhadap akses dolar di luar sistem keuangan tradisional.
Temuan ini didukung oleh analisis data dari 64 bursa yang mencakup empat stablecoin utama, yakni USDT, USDC, DAI dan BUSD, yang diperdagangkan terhadap 27 mata uang selama periode empat tahun.
Berdasarkan data tersebut, para penulis mengidentifikasi munculnya pasar paralel, di mana stablecoin berfungsi sebagai jalur alternatif untuk memperoleh eksposur terhadap dolar AS di luar mekanisme forex biasa.
Keberadaan pasar paralel ini menciptakan perbedaan harga yang dapat bergerak seiring dengan arus dana. Ketika permintaan terhadap stablecoin meningkat, tekanan terhadap mata uang lokal juga cenderung meningkat, sehingga memperkuat hubungan antara pasar kripto dan pasar forex global.
Dampak Stablecoin Makin Terasa di Negara Berkembang
Lebih lanjut, studi BIS memperkirakan adanya efek limpahan (spillover) dari pasar stablecoin ke pasar forex.
Saat ini, rasio spillover diperkirakan berada di kisaran 0,15, yang menunjukkan bahwa sebagian pergerakan di pasar kripto telah mulai merambat ke sistem keuangan tradisional. Namun, di pasar negara berkembang, angka ini dapat meningkat secara signifikan.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pelaku pasar forex, termasuk mereka yang tidak secara langsung berinteraksi dengan aset kripto.
Peningkatan arus dana ke stablecoin dapat mengubah dinamika likuiditas dolar dan mempercepat tekanan terhadap nilai tukar mata uang domestik, terutama dalam situasi pasar yang sensitif terhadap aliran modal.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


