Apa Itu Uang?

Siapa yang tidak tahu akan uang? Karena orang kaya sering dikatakan memiliki banyak uang. Namun, tidak banyak yang tahu apa itu uang yang sebenarnya.

Layaknya peradaban, uang juga terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Jadi, terdapat sejarah dari uang itu sendiri.

Mengapa memahami hal ini penting? Agar Anda bisa mengenal uang lebih jauh, memahami bagaimana kepercayaan masyarakat dapat mempengaruhinya dan nanti bisa mengelolanya dengan lebih baik.

Apa Itu Uang?

Jika dilihat dari KBBI maka uang adalah alat tukar atau standar pengukur nilai yang sah, dikeluarkan oleh pemerintah berupa kertas, emas, perak atau logam lain yang dicetak dengan gambar dan bentuk tertentu.

IKLAN

Namun, uang sendiri ternyata lebih luas. Bisa dikatakan bahwa uanglah yang menjalankan dunia ini. Namun, fungsi uang secara umum terbagi 3, yaitu:

  • Alat penghitung nilai, terutama dalam menentukan harga.
  • Dapat disimpan, dimana pemiliknya dapat menyimpan atau memakai uang tersebut suatu saat nanti.
  • Alat tukar, karena digunakan untuk membeli atau menjual barang antara pembeli dan penjual.

Sejarah dan Perkembangan Uang

Karakteristik utama dari uang adalah memiliki nilai dari waktu ke waktu, bisa menjadi penentu harga dan diterima secara luas.

Uang awalnya tidak dalam bentuk kertas, emas atau perak. Bahkan alat tukar yang pernah dipakai seperti kerang, barli, merica, lada dan lain-lain.

Uang akhirnya muncul sebagai alternatif untuk memudahkan transaksi.

IKLAN

Dahulu transaksi dilakukan dengan barter atau tukar-menukar barang. Namun, hal ini cukup sulit dilakukan.

Contohnya saja, mengukur nilai barang tersebut tidak mudah, barang pertanian yang ingin ditukarkan tidak mudah disimpan dan mudah rusak dan sulit melakukan barter di tempat yang jauh.

Lambat laun, orang-orang menggunakan benda lain yang dianggap bernilai. Hingga sampai pada penggunaan emas dan perak.

Karena, kedua logam ini secara umum bernilai tetap karena jumlahnya terbatas sehingga memiliki nilai, bisa disimpan dalam jangka waktu yang lama dan hampir seluruh wilayah menggunakannya.

Walaupun demikian, ternyata emas dan perak juga memiliki kekurangan yaitu dari bobotnya. Membawa emas dan perak dianggap merepotkan dan berat.

Dengan kehadiran bank yang memberikan sertifikat kepemilikan sejumlah emas dan perak. Akhirnya para nasabah menggunakan sertifikat tersebut sebagai alat tukar.

Karena kertas tersebut merepresentasikan sejumlah emas dan perak di bank tersebut.

Secara perlahan namun pasti, hubungan antara kertas tersebut dengan emas atau perak pun terputus sehingga muncullah uang fiat.

Uang fiat secara material tidak berharga, namun tetap bernilai karena negara secara kolektif memberikan nilai padanya.

Jadi, uang bekerja karena orang-orang mempercayai hal tersebut. Alat tukar juga ikut berubah dari barter, penggunaan kerang, barlei hingga uang kertas yang dikeluarkan pemerintah sekarang ini.

Walaupun memakai kertas dan koin yang distandarisasi memudahkan dalam penentuan harga barang dan jasa. Tapi, banyaknya uang dalam sistem keuangan juga memegang peran yang besar dalam menentukan harga.

Contohnya saja, saat uang banyak dan jumlah barang tetap. Maka, kemungkinan besar akan terjadi inflasi yang diikuti dengan harga yang naik.

Namun, saat jumlah barang melimpah (ex: panen raya padi) dan jumlah uang tetap. Maka, harga padi akan menurun atau yang dikenal dengan deflasi.

Oleh karena itu, menjaga keseimbangan antara permintaan dan penawaran itu rumit. Karena faktor-faktor yang mempengaruhinya sangat banyak, dikutip dari Imf.

Standar Moneter

Pada abad pertengahan penggunaan emas dan perak sebagai alat tukar umum digunakan.

Beberapa negara menggunakan standar bimetal dengan emas dan perak sebagai alat tukarnya dengan berat tertentu. Contohnya, 15 ons perak setara dengan 1 ons emas.

Namun, lambat laun standar bimetal berupah menjadi standar monometal atau yang dikenal dengan Hukum Gresham.

Hal dikarenakan aturan moneter yang dibuat pemerintah dengan yang ada di pasar dapat berbeda.

Contohnya saja, aturan pemerintah membuat 15 ons perak setara dengan 1 ons emas.

Namun, di pasaran belum tentu hal ini berlaku. Bisa jadi 16 ons perak setara dengan 1 ons emas.

Akhirnya, orang-orang akan menjual emas ke pasaran untuk mendapatkan 16 ons perak. Kemudian, dia akan ke percetakan uang dengan menukarkan 15 ons perak ke 1 ons emas. Jadi, mereka untung 1 ons perak.

Hal ini terus terjadi, dan lambat laun menyingkirkan emas sebagai standar uang. Hal tersebut terjadi pada kebanyakan negara di Eropa dan pada awal abad ke-19 dikenallah standar perak.

Berbeda di Inggris Raya, atas nasihat Sir Isaac Newton diberlakukan emas yang dinilai terlalu tinggi sehingga standar emas dapat diberlakukan dengan efektif.

AS sendiri menggunakan standar 15 ons perak setara dengan 1 ons emas pada 1792.

Rasio ini membuat perak bernilai lebih tinggi, sehingga standarnya menggunakan perak.

Pada 1834, rasionya dirubah menjadi 16 ke 1 sehingga nilai emas berlebih sehingga aturan standar beralih ke emas.

Standar Emas

Standar emas telah lama digunakan diberbagai negara di dunia. Seperti Jerman, Prancis, Italia, Belgia, Switzerland, Denmark, Norwegia, Swedia, Belanda, China dan lainnya.

Standar emas digunakan dalam bentuk koin emas ataupun uang kertas yang diterbitkan oleh bank atau pemerintah.

Namun, kertas tersebut ditopang oleh emas dengan nilai yang tertera di kertas tersebut. Jadi, orang-orang dapat mengembalikan kertas ini dan menukarkannya dengan koin emas.

Namun, beberapa negara tidak hanya menyimpan cadangan negaranya dalam bentuk emas tetapi juga mata uang lain yang nantinya bisa dikonversi ke emas.

Mata uang dapat diperdagangkan dengan harga yang tetap dengan mata uang negara lain (ex: Poun sterling Inggris) yang dapat ditukar ke emas.

Namun, setiap negara memiliki aturan berbeda. Contohnya saja 1 dolar AS setara dengan 23,22 butir emas murni. 1 Pound sterling Inggris setara dengan 113 butir emas murni.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa 1 pound sterling setara dengan US$4,8665. Hal ini akan terasa berat jika nilai pound sterling lebih tinggi dari dolar AS.

Jadi, orang yang memiliki hutang di London lebih baik mendapatkan emas dengan dolar lalu mengirimkannya ke London dan mendapatkan Pound dengan emas di Bank Inggris.

Potensi tersebut menetapkan batas atas nilai tukar. Sedangkan biaya pengiriman emas dari Inggris ke AS sebagai batas rendah. Batas ini dikenal dengan poin emas.

Tetapi, saat Perang Dunia I terjadi, stadar emas secara internasional resmi berhenti. Hal ini dikarenakan banyak negara yang tidak bisa mengonversi ke emas.

AS sendiri melakukan embargo ekspor emas dan kebanyakan negara juga mengalami hal yang sama.

Akhirnya nilai tukar mata uang ini berfluktuasi dari waktu ke waktu. Akibat perang, berbagai harga produk dan jasa meroket tajam di banyak negara.

Akhirnya negara tersebut harus memilih deflasi atau devaluasi untuk mengembalikan standar emas. Usaha ini mendominasi perkembangan moneter pada 1920-an.

Sistem Breton Wood 

Pada Juli 1944 lebih dari 40 negara menyetujui hasil dari Bretton Wood Conference.

Tujuan konferensi ini adalah memperbaiki kekurangan yang dirasakan dari penggunaan standar emas.

Termasuk di dalamnya seperti volatilitas nilai tukar, tidak fleksibelnya nilai tukar tetap, dan ketergantungan pada mekanisme penyesuaian untuk negara dengan surplus atau defisit pembayaran.

Masalah ini sering diselesaikan dengan resesi dan deflasi pada negara yang mengalami defisit dan ekspansi dan inflasi pada negara yang surplus.

Hasil konferensi menghadirkan International Money Fund (IMF), setiap negara yang tergabung akan membayar iuran secara rutin.

Negara yang membutuhkan bantuan (defisit) namun meminjam dana dari IMF, dan negara yang surplus dapat meminjamkan dananya melalui perantara IMF.

IMF mulai beroperasi pada 1947 dengan dolar AS sebagai mata uang dana cadangan dan harga emas tetap di US$35 per ons.

AS setuju atas pernyataan tersebut dan menjaga harga tersebut dengan membeli atau menjual emas.

Walaupun emas tetap berada di harga US$35 per ons tetapi sistem Bretton Woods secara esensial membuat dunia menggunakan standar dolar dalam pasar perekonomian.

Akibatnya, banyak negara menggunakan dolar AS sebagai cadangan dananya dan dolar pun menjadi mata uang yang paling banyak digunakan dalam perdagangan dunia.

Akan tetapi, sistem Bretton Wood lama-kelamaan tidak bekerja karena AS tidak mampu mencukupi cadangan emasnya untuk menopang dolar.

Terutama ketika jumlah dolar dipegang negara lain meningkat dan jumlah emas yang dipegang AS terus berkurang. Akibatnya AS pun mengingkari kesepakatan pada Bretton Wood.

Pada akhirnya, sistem kurs tetap ditinggalkan dan banyak negara menggunakan sistem kurs mengambang.

Jadi, nilai kurs mata uang bergantung pada permintaan dan penawaran pasar. Jika kurs terapresiasi maka nilainya naik dan barang impor terasa lebih murah daripada membeli di dalam negeri.

Begitu juga sebaliknya, jika kurs terdepresiasi maka ekspor akan meningkat. Karena negara lain lebih suka membeli produk dalam negeri karena lebih murah.

Untuk jangka panjang, kurs mata uang negaranya bergantung pada beberapa faktor fundamental seperti pertumbuhan produktivitas, peluang investasi, kesediaan masyarakat untuk menabung, dan kebijakan moneter dan fiskal.

Pada 1973, sistem Bretton Woods resmi berhenti karena kebanyakan negara menggunakan sistem mengambang.

Walaupun demikian, beberapa negara menggunakan sistem kurs tetap bergantung kepada mata uang mana yang mereka kehendaki.

Contohnya saja, Karibia dan Amerika Tengah memakai kurs tetap terhadap dolar AS. Kemudian, Austria dan Belanda melakukan hal yang sama terhadap mark Jerman, dikutip dari Britannica.

Kepercayaan Dapat Berubah

Uang ternyata dapat berubah-ubah bergantung kepada kepercayaan publik terhadapnya, dikutip dari Investopedia.

Pada 1980, masyarakat Amerika Latin seperti Argentina dan Brazil secara perlahan meragukan mata uangnya karena inflasi berkepanjangan dan harga-harga yang tinggi.

Kemudian, mereka pun menggunakan mata uang yang lebih stabil yaitu dolar AS sebagai mata uang de facto.

Fenomena ini dikenal dengan dolarisasi. Pemerintahnya pun kehilangan monopoli untuk mencetak uang dan dolarisasi pun sulit dihentikan.

Beberapa kebijakan pemerintah pun berusaha mengembalikan nilai mata uangnya dengan menggunakan kata ‘iman’ pada fungsi uang.

Di Turki, pemerintah mengurangi nominal uang (denominasi) dengan menghapus enam 0 pada 2005. Dalam semalam, 1.000.000 lira menjadi 1 lira.

Brazil sendiri menghadirkan mata uang baru yaitu real Brazil. Kedua negara ini membuktikan bahwa bahwa denominasi atau penggunaan mata uang baru dapat bekerja jika diterima oleh masyarakatnya.

Melalui penjelasan di atas Anda bisa memahami apa itu uang, sejarah uang dan bagaimana uang dapat berubah-ubah bergantung kepada kepercayaan masyarakat terhadap uang itu sendiri. [az]

spot_img
spot_img

Terkini

Terkait