Bitcoin dan The Great Reset

Baru saja saya melihat tajam sampul majalah TIME edisi minggu ke-2 November 2020. Berilustrasi planet Bumi dengan sejumlah tukang bangunan di sekelilingnya. Judul besarnya: The Great Reset. Versi digital majalah itu memang tak tersedia di Indonesia, namun mungkin erat kaitannya dengan ucapan IMF baru-baru ini, termasuk pandangan penghayat Bitcoin di luar sana.

OLEH: Endy Daniyanto
Jurnalis Senior Blockchainmedia.id

Pekan lalu IMF menguatkan sinyal mempercepat perbaikan sistem moneter global agar ekonomi dunia ini tidak porak-poranda seperti dampak Perang Dunia II. Kristalina Georgieva, Managing Director IMF dengan tegas mengatakan bahwa dunia harus melakukan hal yang sama seperti Bretton Wood, tahun 1944.

“Today we face a new Bretton Woods ‘moment’. A pandemic that has already cost more than a million lives. An economic calamity that will make the world economy 4,4% smaller this year and strip an estimated $11 trillion of output by next year. And untold human desperation in the face of huge disruption and rising poverty for the first time in decades,” kata Kristalina.

Time Magazine 2nd November 2020

Sinyal besar IMF itu adalah “the great reset“, menyetel ulang sistem keuangan dunia yang saatnya kurang lebih sama parahnya dengan tahun 1944, jelang penghujung Perang Dunia II. Ketika itu 44 negara bersepakat untuk mematok nilai tukarnya uangnya terhadap dolar AS, di mana nilai dolar AS kala itu dipatok dengan nilai emas.

Tapi itu pupus, setelah tahun 1971, Presiden Richard Nixon meninggalkan emas sebagai patokan utama nilai dolarnya. Pasalnya, ekspansi ekonomi dan militer AS perlu duit yang lebih banyak dan di saat yang sama banyak negara menukar dolar menjadi emas milik AS. Paman Sam takut emasnya tergerus.

Jadilah dunia, bergantung pada dolar AS, tapi nilai dolar AS sangat bergantung pada kebijakan dalam dan luar negeri AS. Dari situlah fiat money dimulai: “let it be done!

Dominasi dolar memang gila-gilaan. Saking gilanya dolar digunakan sebagai senjata ampuh menekan negara-negara lain, lewat sanski AS. itu pula yang memaksa dolar dibeli di pasar gelap. Dan tentu saja, saking tergantungnya kita terhadap dolar, ketika ekonomi AS ambruk seperti tahun 2008 silam, negara lain kena getahnya.

Dan kini, lihatlah beberapa tahun terakhir, termasuk baru-baru ini Indonesia memutuskan menggunakan YUAN/IDR sebagai patokan perdagangan antara Indonesia dengan Tiongkok. Demi apa? Demi menghindarai penggunaan dolar yang lebih mahal biayanya. Keputusan yang sangat logis!

Di tahun yang sama, tahun 2008 muncullah Bitcoin ke permukaan, saat situasi ekonomi masih kacau balau, saat Bank Sentral Inggris memutuskan memberikan dana bantuan kepada sejumlah bank.

Bitcoin memasang batasan yang jelas, bahwa sistem keuangannya berada di luar suprastruktur kekuasaan negara. Bitcoin sebagai bentuk uang elektroniknya dikembalikan kepada konsep dasar uang, yakni abstrak dan diserahkan kepada individu-individu yang berdaulat. Dalam hal nilai ideologi, Bitcoin adalah oposan terhadap negara dan mata uang fiat yang pasokannya tidak terbatas itu.

Sejak tahun 2008-lah, Bitcoin menjadi alat penyadar, bahwa dengan teknologilah manusia lebih memiliki pilihan nilai untuk bertransaksi. Walaupun kebijakan moneter dan fiskal oleh petinggi negara adalah tetap yang utama, setidaknya teknologi menjadi instrumen mengeluarkan keputusan yang lebih bijak.

Tentu ini kurang lebih serupa dengan penemuan teknologi mesin cetak untuk uang kertas, termasuk teknologi cloud untuk uang elektronik yang server-based. Teknologi hebat apapun, kalau kebijakan pelaksana sistemnya uangnya ngawur, ya sama saja.

Bitcoin pula yang mengarahkan Tiongkok membuat uang digital (CBDC) untuk yuan mereka, karena memahami benar keunggulan ekonomi mereka dan tentu saja efisiensi teknologi itu.

Langkah cepat Tiongkok langsung diikuti oleh negara lain, termasuk Uni Eropa untuk euro digital, Jepang, Korea Selatan, Swiss, Kamboja, Singapura dan banyak lagi. Namun AS bergeming, merasa belum perlu cepat-cepat, yang penting tepat.

Lihatlah apa yang disampaikan Kepala The Fed, Jerome Powell di ajang seminar IMF baru-baru ini.

Pertama, Mata uang digital bank sentral (CBDC) diakui memberikan beberapa nilai.

Kedua, CBDC tidak akan menjadi pengganti uang tunai fisik, melainkan sebagai pelengkap.

Ketiga, ada banyak tantangan dalam menerapkan CBDC, termasuk keamanan, potensi pemalsuan dan perubahan kebijakan moneter, dan lain sebagainya.

Keempat, The Fed telah mengerjakan sistem pembayaran yang lebih cepat dan lebih murah, yakni FedNow, tetapi itu tidak akan diterapkan dan beroperasi selama beberapa tahun.

Kelima, CBDC hanyalah sebuah ide yang sedang dieksplorasi saat ini dan tidak akan ada pekerjaan yang dilakukan sampai The Fed sepenuhnya memahami pro dan kontra.

Yang disampaikan Powell itu sebenarnya tidaklah baru, hanya perulangan seperti beberapa bulan sebelumnya, termasuk oleh orang-orang IMF lainnya, sebagai tambahan bahwa pengkajian dolar digital dilakukan bersama kampus terkenal, yakni MIT.

Dapat kita tafsirkan di ini, bahwa AS belum menegaskan secara terbuka bahwa yuan digital adalah ancaman serius, karena jauh lebih efisien soal kecepatan dan biaya, serta kemudahan akses secara global.

Kombinasi gagalnya AS mengendalikan dolarnya dan berdampak serius pada ekonomi global, termasuk pencarian dolar di pasar gelap oleh negara-negara berinflasi tinggi, banyak orang juga mengintip objek bernilai lain di Internet, yakni Bitcoin.

Bitcoin jumlahnya langka, berwujud digital dan portabilitasnya jauh tinggi dibandingkan emas, kendati sama-sama bernilai.

Dan ketika ekonomi amburadul seperti sekarang, uang fiat kian tak ada nilainya pula. Alih-alih menyimpan uang di bank, membeli obligasi, menabung saham yang fundamentalnya tak jelas lagi, uang fiat dialihkan ke aset yang lebih bernilai tinggi, walaupun dianggap berisiko. Katakan saja itu sepadan.

Jadi, karena teknologi yang bagus itulah yuan jauh lebih bernilai daripada dolar AS, dan lebih mudah membuat kebijakan moneter yang lebih akurat. Dan tidaklah heran sampai mantan petinggi Bank Sentral Tiongkok mengatakan, bahwa yuan digital bisa memutuskan dominasi dolar itu. Telak! [ed]

Terkini

Warta Korporat

Terkait