spot_img
spot_img

Bitcoin Terus Naik, Gegara Dolar Melemah? Ini Kata Pengamat Indonesia

Sejumlah pengamat di luar negeri menilai harga Bitcoin akan terus naik akibat melemahnya nilai dolar AS. Pandangan itu setelah Jerome Powell, Ketua The Fed alias Bank Sentral AS menguatkan sinyal adanya inflasi yang berkelanjutan. Inflasi itu dampak melemahnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri AS, akibat pandemi COVID-19. Ini kata sejumlah pengamat asal Indonesia.

“Saya setuju dengan pandangan mereka, bahwa harga Bitcoin akan terus naik. Pasalnya, emas, termasuk Bitcoin sangat dilirik di saat banyak ketidakpastian dalam ekonomi seperti ini,” kata Sumardi Fung CEO bursa aset kripto Rekeningku.com saat dihubungi Blockchainmedia hari ini, Rabu (26 Agustus 2020).

Kata Sumardi, jangankan dalam ketidakpastian terbaru seperti ini, jauh hari sebelum pandemi, data sudah menunjukan bahwa adopsi aset kripto itu sudah semakin besar.

“Lihat saja jumlah wallet Bitcoin yang aktif semakin banyak. Sementara itu difficulty rate dan hash rate penambangan Bitcoin (mencerminkan jumlah miner), berbanding dengan tahun 2018, sudah naik hampir 3 kali lipat,” ungkapnya.

Ini bermakna, sambung Sumardi, adopsi terhadap aset kripto itu semakin bertambah. Selain Bitcoin, kita melihat stablecoin USDT dalam satu tahun belakangan saja mengalami kenaikan dua kali lipat dalam hal kapitalisasi pasar dan volume.

Pelemahan Bukan Faktor Utama
Dihubungi terpisah, Christopher Tahir Pendiri komunitas Cryptowatch, lebih memandang bahwa pelemahan dolar AS bukanlah faktor utama melejitkan harga Bitcoin.

“Menurut saya itu bukanlah faktor utama, namun karena banjirnya likuiditas. Kalau tentang pelemahan, memang tiap tahun dolar AS memang melemah. Namun, kenaikan harga Bitcoin bukan karena melemahnya dolar AS, melainkan karena banjir likuiditas,” katanya.

Sifat likuiditas adalah mencari yang masih rendah nilainya, sehingga bisa mengharapkan apresiasi harga ke depannya. Dengan begitu likuiditas akan pindah dari yang dianggap sudah mencapai valuasi tinggi ke yang dianggap valuasinya rendah.

“Dan lagi-lagi ini adalah persepsi pasar, apakah harga emas sudah terlalu tinggi ataukah Bitcoin masih tergolong rendah,” sebut Tahir.

Pasar Antisipasi September 2020
Khusus menyoal inflasi dolar AS, Douglas Tan Pendiri BullWhales.com mengatakan pasar sementara ini menantikan Monetary Policy Framework Review pada Kamis pekan ini.

“Hal itu bisa dijadikan tolok ukur melihat visi jangka panjang apa yang akan disuguhkan oleh The Fed terkait dengan salah satu dari dual mandate-nya, yakni menjaga angka inflasi, tidak terlalu rendah (bahkan deflasi) seperti Jepang, namun masih di tahap wajar pada rata-rata 2 persen secara tahunan. Kendati demikian, belum pernah mencapai target 2 persen sejak 2012,” ungkap Douglas.

Sedangkan yang kedua, yakni average targeting artinya, meskipun dalam beberapa periode ke depan, inflasi dapat didorong ke level melebihi 2 persen, sebagai contoh hingga 2,5-2,75 persen.

Ini masih dalam cakupan The Fed dalam jangka pendek dan menengah, sebagai bentuk intervensi The Fed mengakomodasi inflasi yang stabil, serta penurunan angka pengangguran.

“Namun pasar harus mengantisipasi langkah The Fed selanjutnya pada FOMC meeting berikutnya pada 15-16 September 2020, untuk mendapatkan rincian mengenai langkah langkah strategis. Itu juga akan menggambarkan fasilitas apa yang akan diluncurkan untuk memenuhi target inflasi pada rata 2 persen itu,” pungkasnya.

Bagi Douglas, diperlukan satu fasilitas yang bersifat masif, agar mendorong perilaku konsumtif masyarakat, mendorong inflasi dengan kuat.

Inflasi yang tinggi erat hubungannya dengan risk on asset seperti stock market dan Bitcoin, di mana ketika memegang greenback dollar, real value yang didapatkan adalah negatif (hasil inflasi), oleh karena itu masyarakat akan menggunakan modal uang lain untuk parking their money. [red]

spot_img

Terkini

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terkait